Minggu, 21 Maret 2021

Masih Ada Lho yang Tak Percaya Vaksin Corona, Siapa Saja Sih?

 Masifnya vaksinasi COVID-19 oleh Pemerintah belum membuat seluruh masyarakat percaya kemanjuran vaksin tersebut. Hal itu karena masih banyak masyarakat yang mengakses informasi hoaks terkait vaksinasi COVID-19.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengatakan, bahwa saat ini tengah mengalami perubahan media informasi dari dunia analog ke dunia digital. Saat ini akses informasi bisa dinikmati langsung setiap individu dengan cara beragam, terlebih jumlah gadget di Indonesia saat ini lebih banyak dari jumlah penduduknya.


Namun hal itu tidak dibarengi dengan transparansi pemerintah dalam menginformasikan masalah COVID-19. Oleh karena itu banyak masyarakat yang bertanya kepada Pemerintah namun tak kunjung dijawab.


"Pertanyaan masyarakat kalau tidak dijawab oleh pemerintah, menghasilkan spekulasi dan menimbulkan hoaks. Termasuk soal vaksin, mengembangkan vaksin harus disampaikan secara benar," katanya dalam seminar merajut Nusantara bertema pemanfaatan IT dalam sosialisasi bahaya COVID-19 dan Vaksinasi secara daring, Sabtu (20/3/2021).


"Dan informasi harus dikelola dengan baik agar kepercayaan masyarakat kepada pemerintah terus naik," imbuh Sukamta.

Terlebih, merujuk hasil survei dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia periode 13-18 Januari 2021 menyebut masih ada masyarakat yang tidak percaya vaksinasi COVID-19.


Seperti halnya survei kepercayaan terhadap kemanjuran vaksin COVID-19 menurut survei CSIS periode 13-18 Januari 2021. Hasilnya untuk yang percaya kemanjuran vaksin di DKI Jakarta ada 55,8 persen dan di DIY 68 persen. Sedangkan kurang percaya atau tidak percaya dengan kemanjuran vaksin, untuk DKI Jakarta ada 42,5 persen dan di DIY ada 29,5 persen.

https://tendabiru21.net/movies/6-9-seconds/


"Survei CSIS Januari 2021, 29,5 persen responden di DIY tidak percaya kemanjuran vaksin," ucapnya.


Masih periode yang sama, untuk hasil survei kesediaan mengikuti program vaksinasi COVID-19, untuk di DKI ada 56,3 persen dan di DIY 70,8 persen. Selanjutnya untuk yang tidak bersedia mengikuti program tersebut di DKI 39,8 persen, sedangkan di DIY ada 27,5 persen.


"Terkait alasan tidak bersedia divaksin, dari survei paling banyak karena belum yakin dengan kualitas vaksin. Di mana untuk DKI ada 43,4 persen dan di DIY mencapai 30,9 persen," katannya.


Sedangkan hasil survei kepercayaan terhadap penyampaian informasi COVID-19 oleh sejumlah pihak, untuk DKI Jakarta ada 91,8 persen percaya informasi petugas kesehatan, dan di DIY 92 persen.


"Untuk yang percaya informasi dari pemerintah pusat di DKI ada 85,5 persen dan yang tidak percaya 14,5persen. Sama dengan DIY, hasil survei ada 87persen percaya informasi dari Pusat dan 12 persen tidak mempercayainya," ujarnya.


Oleh karena itu, ini tantangan untuk pemerintah dalam meningkatkan terus kepercayaan masyarakat atas informasi tentang COVID-19. Semua itu agar masyarakat tidak lebih percaya pada hoaks dan intruksi pemerintah lebih dipatuhi.


"Nah, Pemerintah dapat memaksimalkan media digital untuk mengedukasi masyarakat, dan berharap pemerintah menyiapkan sumber-sumber yang tidak hanya pasif. Karena banyak variasi media yang banyak dijadikan rujukan dan kita dorong Kominfo (RI) untuk punya layanan yang proaktif," katanya.


Seperti halnya menyediakan layanan informasi melalui SMS, pasalnya tidak semua masyarakat bisa mengakses smartphone. Selain itu bisa merujuk pada orang atau tokoh yang dipercaya untuk bisa memberikan informasi yang valid kepada masyarakat.


"Jadi tantangan kita bagaimana masyarakat dapat mengakses informasi yang benar. Dengan akses informasi yang baik dan benar akan memberikan pengambilan dan sikap yang benar. Menurut saya warga DIY secara kolektif cerdas, mudah-mudahan DIY terus menjadi warga yang terinformasi menjadi baik dan benar," ujarnya.

https://tendabiru21.net/movies/horas-amang-tiga-bulan-untuk-selamanya/

Jumat, 19 Maret 2021

Joroknya! Orang Indonesia Makin Jarang Gosok Gigi Selama Pandemi COVID-19

  Pandemi COVID-19 membuat banyak orang harus memulai kebiasaan baru yang lebih sehat. Untuk mencegah penularan Corona, banyak masyarakat yang mulai lebih aktif berolahraga dan mengurangi kebiasaan tak sehat.

Hanya saja, dampak pandemi COVID-19 juga tercermin pada kebiasaan merawat gigi. Survei yang dilakukan oleh Unilever Indonesia terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas menemukan telah banyak dari mereka yang memulai hidup sehat.


Hanya saja, dari hasil survei tersebut juga terlihat 2 dari 5 orang dewasa mengaku tidak menyikat gigi seharian, dan ada 7 dari 10 orang menghindari pergi ke dokter gigi.


"Kebiasaan menjaga kesehatan tersebut tidak tercermin pada kebiasaan menyikat gigi, sebagian besar orang mengaku telah mengabaikan kebiasaan menyikat gigi. 9 persen orang tua tidak menyikat gigi dua kali sehari kemudian 11 persen anak-anak tidak menyikat gigi dua kali sehari," ungkap Head of Sustainable Living Beauty and Personal Care and Home Care, Unilever Indonesia Foundation drg Ratu Mirah Afifah, GCClindent, MDSc, dikutip dari laman Sehat Negeriku, Kemenkes, Jumat (19/3/2021).


drg Ratu mengatakan kebiasaan buruk tersebut mudah ditiru oleh anak-anak. Apabila orang tua tidak menyikat gigi dua kali sehari, anak-anak 7 kali lebih memungkinkan untuk tidak menyikat gigi.


Dalam survei tersebut juga terlihat bahwa selama pandemi COVID-19, orang dua kali lebih sering mencuci tangan (64 persen) dibandingkan menyikat gigi (31 persen). Di samping itu, sejak pandemi COVID-19 orang dua kali lebih sering menggunakan hand sanitizer (52 persen) dibandingkan menggunakan obat kumur (20 persen).


Menjaga kesehatan gigi dan mulut juga penting di masa pandemi COVID-19. Dengan kondisi gigi dan mulut yang sehat, Anda tidak perlu pergi ke dokter sehingga bisa terhindar dari risiko terpapar virus COVID-19.


Terdapat lima masalah gigi dan mulut yang sering dialami selama pandemi antara lain mulut kering, bau mulut, gusi dan gigi berdarah saat menyikat gigi atau saat menggunakan benang gigi, kemudian nyeri pada gigi gusi atau mulut, dan adanya lubang pada gigi yang baru terbentuk

https://indomovie28.net/movies/consequences-of-young-pregnancy/


28 Kriteria Terbaru Layak Divaksin Corona, Termasuk Alergi Obat-Makanan


 Tak hanya pada tenaga kesehatan, vaksinasi COVID-19 sudah dilakukan ke sejumlah petugas layanan publik hingga lansia. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengeluarkan rekomendasi baru yang layak dan tidak layak divaksin.

Pada rekomendasi sebelumnya, seseorang yang memiliki reaksi alergi obat dan makanan belum tercantum pada daftar penerima vaksin Corona yang layak. Kini, yang memiliki riwayat alergi tersebut diperbolehkan menerima vaksin Corona, salah satu pertimbangan PAPDI untuk mempercepat herd immunity.


"Upaya untuk mempercepat herd immunity (kekebalan kelompok) pada populasi Indonesia untuk memutus transmisi COVID-19 sehingga diperlukan cakupan vaksinasi yang luas," beber PAPDI dalam rilis yang diterima detikcom Jumat (19/3/2021).


Termasuk penyakit autoimun dan reaksi alergi anafilaksis, berikut rekomendasi terbaru PAPDI yang layak menerima vaksin Corona.


1. Penyakit autoimun

Individu dengan penyakit autoimun layak untuk mendapatkan vaksinasi jika penyakitnya sudah dinyatakan stabil sesuai rekomendasi dokter yang merawat.


2. Reaksi anafilaksis (bukan akibat vaksinasi COVID-19)

Jika tidak terdapat bukti reaksi anafilaksis terhadap vaksin COVID-19 ataupun komponen yang ada di dalam vaksin, maka vaksinasi tetap bisa dilakukan, dengan pengamatan ketat dan persiapan penanggulangan reaksi alergi berat.


3. Alergi obat

Pasien yang memiliki riwayat alergi antibiotik,neomycin, polimiksin, streptomisin, dan gentamisin agar menjadi perhatian terutama pada vaksin yang mengandung komponen tersebut. Namun, vaksin COVID-19 tidak mengandung komponen tersebut layak dapat diberikan vaksinasi COVID-19.

https://indomovie28.net/movies/hit-and-run/