Senin, 15 Maret 2021

Kemenkes Pastikan Vaksin Sinovac yang Kedaluwarsa Maret Sudah Habis Terpakai

 Batch pertama vaksin Sinovac yang datang sejak Desember kedaluwarsa di pertengahan Maret 2021. Namun, Kementerian Kesehatan RI memastikan semua stok vaksin tersebut sudah digunakan.

"Iya memang benar itu bahwa kami juga mendapat rilis barusan dari Bio Farma dan BPOM untuk vaksin tahap pertama itu dua kali (kedatangan) ya 1,5 juta dosis dan itu masih bulan Desember, 1,5 juta dosis selanjutnya pada bulan Januari dan itu untuk tenaga kesehatan. Itu expired date nya itu di 20-an Maret," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dr dr Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, dalam konpers Vaksin Senin (15/3/2021).


Menurutnya, penggunaan vaksin Corona Sinovac tahap pertama di dua kali kedatangan, sudah terpakai semua untuk tenaga kesehatan. Terlebih, jumlah tenaga kesehatan yang menerima vaksin Corona Sinovac disebut Maxi melampaui target.


"Jadi nggak ada lagi vaksin itu (vaksin kedatangan tahap pertama). Itu sudah selesai, bahkan tenaga kesehatan kita melebihi target iya dari 1,5 juta melebihi target," lanjut Maxi.


Adapun kedatangan vaksin Corona yang sudah masuk Indonesia sejak Desember adalah sebagai berikut.


Tahap 1

Tanggal masuk: 6 Desember 2020

Produsen: Sinovac (Produk jadi)

Jumlah: 1.200.568 dosis vaksin


Tahap 2

Tanggal masuk: 31 Desember 2020

Produsen: Sinovac (Produk jadi)

Jumlah: 1,8 juta dosis vaksin


Tahap 3

Tanggal masuk: 12 Januari 2021

Produsen: Sinovac (Bulk)

Jumlah: 15 juta dosis vaksin


Tahap 4

Tanggal masuk: 2 Februari 2021

Produsen: Sinovac (Bulk)

Jumlah: 10 juta dosis (Sinovac) + 1 juta dosis overfill


Tahap 5

Tanggal masuk: 2 Maret 2021

Produsen: Sinovac (Bulk)

Jumlah: 10 juta dosis


Tahap 6

Tanggal masuk: 8 Maret

Produsen: Astrazeneca (Fasilitas COVAX)

Jumlah: 1.113.600 dosis

https://cinemamovie28.com/movies/the-earth-is-round/


Digoyang Isu Pembekuan Darah, Ini Nasib Vaksin AstraZeneca di Berbagai Negara


 Belakangan ini, penggunaan vaksin COVID-19 dari AstraZeneca ditangguhkan di beberapa negara Eropa. Hal ini berkaitan dengan adanya laporan pembekuan darah pada beberapa orang yang telah disuntik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan tidak bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan pembekuan darah. Untuk itu, vaksin AstraZeneca akan terus digunakan.


"Ya, kita harus terus menggunakan vaksin AstraZeneca. Tidak ada indikasi untuk tidak menggunakannya," kata juru bicara WHO Margaret Harris, dikutip dari AFP.


"AstraZeneca adalah vaksin yang sangat baik, seperti juga vaksin lain yang sedang digunakan," lanjutnya.


Bantahan senada juga disampaikan oleh produsennya, AstraZeneca. Disebutkan, sejauh ini belum ada bukti adanya pembekuan darah yang disebabkan oleh efek vaksin.


Sikap negara-negara yang menggunakannya beragam. Ada yang menangguhkan dengan alasan kehati-hatian, ada juga yang tetap melanjutkan vaksinasi demi mengejar herd immunity.


Berikut rangkumannya:


1. Denmark

Salah satu negara yang menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca adalah Denmark. Menurut Menteri Kesehatan Denmark, hal ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian.


"Saat ini tidak mungkin untuk menyimpulkan apakah ada kaitannya. Kami bertindak lebih awal, itu perlu diselidiki secara menyeluruh," kata Menteri Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke.


2. Norwegia

Dikutip dari The Washington Post, Norwegia memutuskan tidak akan menerima dosis vaksin AstraZeneca mengikuti imbauan dari European Medicines Agency (EMA). Ini dilakukan karena kekhawatiran adanya laporan kematian seseorang yang didiagnosis mengalami pembekuan darah selama 10 hari, usai diberikan vaksin AstraZeneca di Austria.


Selain itu, baru-baru ini Norwegia juga melaporkan tiga petugas kesehatan mengalami kondisi yang serius pasca menerima vaksin AstraZeneca. Dikutip dari Channel News Asia, otoritas kesehatan Norwegia mengatakan ketiganya mengalami pendarahan, pembekuan darah, dan jumlah trombosit darah yang rendah.

https://cinemamovie28.com/movies/bumi-itu-bulat/

Minggu, 14 Maret 2021

Chromebook Kini Bisa Terhubung ke HP Android

 Google memberikan sejumlah fitur baru untuk Chrome OS, yang bertepatan dengan 10 tahun kelahiran Chromebook. Apa saja fitur barunya?

Salah satu fitur tersebut adalah Phone Hub, yang bisa menghubungkan ponsel Android ke Chromebook. Lewat fitur ini, pengguna Chrome OS bisa membalas SMS, mengecek sisa baterai ponsel, menyalakan hotspot WiFi di ponsel, dan mencari lokasi ponselnya.


Phone Hub hadir dalam bentuk widget di taskbar yang juga menunjukkan sejumlah tab di Chrome yang sedang dibuka di ponsel, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (10/3/2021).


Bagi pengguna Chrome OS dan ponsel Android, tampaknya ini adalah hal yang berguna, karena dalam fitur ini juga tersimpan Wi-Fi Sync untuk mensinkronisasi jaringan WiFi yang pernah dipakai di ponsel dan perangkat Chrome OS lainnya.


Lalu ada juga fitur Nearby Share, yang berfungsi untuk mengirimkan file antar perangkat, yaitu antara perangkat Android dan Chrome OS, ataupun ke perangkat Android lainnya.


Fitur Screen Capture kini juga dibenamkan ke Quick Setting, di mana pengguna bisa merekam aktivitas yang ada di layar, atau sekadar mengambil tangkapan layar (screenshot), dan hasilnya bisa diakses di 'Tote' yang ada dalam Chrome OS Shelf.


Pengguna juga bisa meng-copy sampai dengan lima teks di Clipboard sebelum mem-paste di tempat lain tanpa perlu berpindah jendela. Lalu ada Quick Answers yang menampilkan informasi seperti definisi, terjemahan, atau konversi unit saat pengguna melakukan klik kanan di sebuah kata.


Kehadiran fitur-fitur baru ini membuat Chrome OS semakin mendekati Windows dan macOS, karena fitur-fitur tersebut sebelumnya sudah ada di dua sistem operasi itu.

https://nonton08.com/movies/ave-maryam/


Teknologi Deepfake Seru Sih, Tapi Bisa Jadi Ancaman Hoax


Belakangan ini ramai teknologi deepfake membuat sebuah foto seolah hidup kembali. Tapi, bila dijadikan sebuah video, teknologi bisa mengundang persoalan yang berujung hoax.

"Ancaman nyata dari dunia siber ke depan semakin beraneka ragam, misalnya yang sudah sering dibahas dan menjadi ancaman adalah hoax. Namun kini, ancaman hoax ditambah dengan model deepfake yang sungguh berbahaya," ujar pakar keamanan siber Pratama Persadha.


Ia mencontohkan, seperti aplikasi yang sedang viral, yaitu MyHeritage, yang kebanyakan digunakan oleh masyarakat untuk nostalgia dan hiburan semata.


"Yang menjadi pertanyaan ialah jika pemakaian aplikasi tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi, jelas masih aman. Namun kalau ada niatan untuk membuat hoax menggunakan deepfake, itu yang berbahaya," tuturnya.


Pratama yang juga Chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) mengungkapkan, karena sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa mendeteksi video yang dibuat oleh deepfake ini asli atau palsu.


"Deepfake merupakan salah satu hasil dari teknologi AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan buatan-red). Dengan deep learning, AI mampu menghasilkan pembelajaran yang berujung pada produk video maupun suara palsu," jelasnya.

https://nonton08.com/movies/suporter-masuk-pesantren/