Selasa, 09 Maret 2021

Doni Monardo Geram Masih Ada 17 Persen Warga yang Tak Percaya Corona

 Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut ada sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia yang masih tak percaya virus Corona COVID-19. Padahal, sudah banyak korban jiwa akibat penyakit ini.

"Orang tidak percaya COVID masih ada yang mengatakan 17 persen warga negara kita tidak percaya COVID, ini katanya rekayasa, ini katanya konspirasi," kata Doni dalam konferensi pers BNPB, Selasa (9/3/2021).


"Padahal kenyataannya yang meninggal secara global sudah lebih dari 2 juta orang. Di negara kita sudah sudah 37 ribu orang saudara-saudara kita yang wafat," tambahnya.


Doni Monardo pun merasa geram dan mempertanyakan apa alasan mereka yang masih tidak mempercayai COVID-19.


"Apalagi alasannya untuk tidak percaya dengan COVID ini? Saya kebetulan salah satu penyintas. Saya bisa merasakan betapa ganasnya COVID ini," ujarnya.


Menurut Doni, apabila kita tidak berhati-hati dan secara tak sengaja menularkan virus Corona ke kelompok rentan, seperti lansia dan orang yang memiliki komorbid, itu bisa berbahaya bagi kesehatan mereka.


Doni mengatakan, sebanyak 85 persen orang yang meninggal akibat COVID-19 adalah mereka yang memiliki komorbid dan berusia di atas 47 tahun.


"Jadi kalau kita memahami bagaimana ancaman COVID, kemudian kelompok yang relatif muda ini bisa memisahkan diri dan tidak sering berhubungan dengan kelompok rentan, mereka terpapar COVID jadi OTG pada akhirnya akan pulih," ucap Doni.


"Tapi begitu menyerang mereka yang lansia dan punya komorbid risikonya sangat fatal, apalagi jika terlambat dibawa ke rumah sakit," tuturnya.

https://movieon28.com/movies/paris-holiday/


Ungkap Gejala 4 Kasus Baru Corona B117, Kemenkes: Tak Ada Keluhan Sesak Napas


Kasus Corona B117 kembali ditemukan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut empat kasus Corona ditemukan di empat provinsi seperti di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr Siti Nadia Tarmizi, tak ada satu pun kasus Corona B117 yang mengeluhkan gejala COVID-19 sesak napas. Seperti gejala COVID-19 pada umumnya, demam ringan paling banyak dikeluhkan.


"Gejala hanya demam ringan infonya demikian tidak ada sesak," ungkap dr Nadia kepada detikcom Selasa (9/3/2021).


Meski begitu, kondisi keempat kasus Corona B117 ini sudah kembali sehat dan negatif Corona. Ada satu kasus di antaranya yang sempat dirawat di RS tetapi tak mengeluhkan gejala COVID-19 berat.


dr Nadia kembali menegaskan tak ada bukti varian Corona B117 memicu angka kematian yang tinggi ataupun lebih ganas dibandingkan varian sebelumnya. Vaksin Corona yang kini digunakan juga masih terbukti efektif melawan Corona B117.


Kematian di Korsel Tak Terkait Vaksin AstraZeneca, BPOM Jamin Keamanannya


Masuknya vaksin Corona AstraZeneca mempertebal harapan untuk segera terwujudnya herd immunity di Indonesia. Namun kabar kematian 8 warga Korea Selatan usai suntik Vaksin AstraZeneca bisa saja memunculkan keraguan tentang aman tidaknya vaksin asal Inggris ini.

Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) telah melakukan investigasi terkait kasus tersebut. Hasilnya, tidak ditemukan adanya keterkaitan antara vaksin dengan kematian tersebut.


"Kami untuk sementara menyimpulkan bahwa sulit untuk menemukan kaitan antara adverse reaction yang mereka alami setelah vaksinasi dengan kematiannya," kata direktur KDCA, Jeong Eun-kyeong, dikutip dari Reuters.


Dalam temu media Selasa (9/3/2021), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito juga menegaskan bahwa kemungkinan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa saja terjadi. Beberapa mungkin memicu dampak serius.


"Tentunya masing-masing dari otoritas obat dari negara masing-masing akan melakukan investigasi, dan nantinya akan disampaikan secara transparan ke masyarakat dunia. Dan sampai saat ini tentunya kita menunggu hal tersebut," jelas Penny.

https://movieon28.com/movies/roman-holiday/

Vaksin AstraZeneca Dapat Izin BPOM Meski Tak Diuji di RI, Begini Aturannya

  Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin Corona AstraZeneca telah tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021) sore. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun telah memberikan izin penggunaan darurat untuk vaksin ini digunakan di Tanah Air.

"Maka Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat EUA pada tanggal 22 Februari 2021 yang lalu, vaksin ini dikemas dalam dus berisi 10 vial masing-masing 5 ml," jelas Kepala BPOM Penny dalam konferensi pers, Selasa (9/3/2021).


Tak seperti vaksin Sinovac yang telah digunakan dalam program vaksinasi COVID-19, vaksin AstraZeneca mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM meski uji klinisnya tidak dilakukan di Indonesia.


Bagaimana izin penggunaan darurat bisa diberikan?

Menurut Penny, tak semua vaksin Corona yang diberikan izin penggunaan darurat harus melakukan uji klinis di Indonesia.


"Yang penting ada mutu, khasiat, dan keamanan didapatkan dari uji klinik yang sudah dilakukan," ucap Penny.


"Apabila sudah mendapatkan emergency use authorization dari negara lain akan lebih mudah lagi, karena akan kita lihat kelayakan baiknya evaluasi tersebut sehingga akan lebih cepat," lanjutnya.


Lebih lanjut, kata Penny, standar persetujuannya pun sama seperti vaksin Corona lainnya, yakni harus memiliki efikasi di atas 50 persen dan terbukti menunjukkan peningkatan titer antibodi.


"Jadi sama semuanya, hanya data hasil uji kliniknya untuk khasiat dan keamanan tidak harus melakukan uji klinik di Indonesia selama data-datanya valid," jelasnya.


Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin AstraZeneca terbukti memiliki efikasi sebesar 62,1 persen.

https://movieon28.com/movies/playtime/


Doni Monardo Geram Masih Ada 17 Persen Warga yang Tak Percaya Corona


Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut ada sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia yang masih tak percaya virus Corona COVID-19. Padahal, sudah banyak korban jiwa akibat penyakit ini.

"Orang tidak percaya COVID masih ada yang mengatakan 17 persen warga negara kita tidak percaya COVID, ini katanya rekayasa, ini katanya konspirasi," kata Doni dalam konferensi pers BNPB, Selasa (9/3/2021).


"Padahal kenyataannya yang meninggal secara global sudah lebih dari 2 juta orang. Di negara kita sudah sudah 37 ribu orang saudara-saudara kita yang wafat," tambahnya.


Doni Monardo pun merasa geram dan mempertanyakan apa alasan mereka yang masih tidak mempercayai COVID-19.


"Apalagi alasannya untuk tidak percaya dengan COVID ini? Saya kebetulan salah satu penyintas. Saya bisa merasakan betapa ganasnya COVID ini," ujarnya.


Menurut Doni, apabila kita tidak berhati-hati dan secara tak sengaja menularkan virus Corona ke kelompok rentan, seperti lansia dan orang yang memiliki komorbid, itu bisa berbahaya bagi kesehatan mereka.


Doni mengatakan, sebanyak 85 persen orang yang meninggal akibat COVID-19 adalah mereka yang memiliki komorbid dan berusia di atas 47 tahun.


"Jadi kalau kita memahami bagaimana ancaman COVID, kemudian kelompok yang relatif muda ini bisa memisahkan diri dan tidak sering berhubungan dengan kelompok rentan, mereka terpapar COVID jadi OTG pada akhirnya akan pulih," ucap Doni.


"Tapi begitu menyerang mereka yang lansia dan punya komorbid risikonya sangat fatal, apalagi jika terlambat dibawa ke rumah sakit," tuturnya.

https://movieon28.com/movies/paradox-3/