Senin, 22 Februari 2021

TRANSMEDIA dan CT ARSA Foundation Galang Dana untuk Sulbar-Kalsel

 Silih berganti, musibah datang di awal tahun ini. Gempa bumi terjadi di Sulawesi Barat (Sulbar), dan banjir melanda Kalimantan Selatan (Kalsel).

Beban berat tengah dihadapi para pengungsi. Karenanya, TRANSMEDIA dan CT ARSA Foundation membuka dompet amal untuk menampung semangat saling berbagi.


Bantuan donasi bisa disalurkan melalui rekening DOMPET AMAL TRANSMEDIA


Bank Mega: 01 074 00 11 111 889

Bank Mega Syariah: 10 000 100 100 100 4

Bank BNI: 70 123 70 321

Bank BCA: 375 0500 888

Bank Mandiri: 127 0000 2 7777 0

Bank BRI: 034 10 100 1617 301


Sekecil apapun bantuan Anda, jika dilakukan bersama akan mampu membuat Indonesia kembali pulih.


Berikut jumlah donasi yang sudah masuk per 22 Februari 2021:


Bank Mega = 124.947.614

Bank BCA = 288.216.021

Bank Mandiri = 119.002.153

Bank BNI = 158.356.245

Bank Mega Syariah = 15.181.596

Bank BRI = 102.170.690

TOTAL PENERIMAAN = 807.874.320

https://cinemamovie28.com/movies/fair-game/


Seberapa Efektif Penggunaan Masker Dobel? Ini Kata Satgas IDI


Saat ini para ahli merekomendasikan menggunakan masker dobel sebagai proteksi terhadap virus Corona. Penggunaan masker dobel disebut bisa meningkatkan perlindungan terhadap infeksi Corona secara signifikan.

Menggunakan masker bedah dilapisi masker kain disebut juga meningkatkan kemampuan filtrasi. Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban mengatakan mengenakan masker kain berlapis masker adalah bentuk perlindungan substansial.


"Namun, tidak harus memakai dua masker tiap saat. Itu dilakukan kalau Anda berada di dalam ruangan yang ramai atau wilayah dengan tingkat penularan tinggi," tulisnya di akun Twitter pribadinya seperti dilihat detikcom, Senin (22/2/2021).


Jika ada celah di sekitar hidung, dagu, atau pipi, tujuan perlindungan masker tidak akan berfungsi. Terlebih jika memakai masker tetapi bagian hidung tetap terbuka.

Untuk lebih meningkatkan kemampuan masker, pemakaian yang tepat adalah kunci. Masyarakat harus memakai masker yang fit, pas dan menutupi hidung dan mulut sepenuhnya.


Apakah penggunaan masker dobel bisa memengaruhi kemampuan bernapas?


"Masker medis dan kain itu tidak akan memengaruhi oksigenasi dan kualitas pernapasan. Lihat saja tenaga medis. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam memakai masker dan tidak jadi masalah," tegasnya.


WHO Ungkap Efek Samping Vaksin COVID-19, Apa Saja?


Program vaksinasi COVID-19 mulai berjalan di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia untuk mengatasi pandemi Corona. Saat ini Indonesia sedang berfokus pada petugas kesehatan dan juga para pekerja publik untuk divaksinasi.

Namun, masih banyak orang yang khawatir akan efek samping dari vaksin COVID-19 yang digunakan. Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas pengatur akan terus memantau penggunaan vaksin COVID-19, untuk memastikan bahwa semua berjalan dengan aman.


Dikutip dari laman resmi WHO, vaksin COVID-19 memang bisa menyebabkan efek samping seperti vaksin pada umumnya yaitu demam ringan, nyeri, atau kemerahan di tempat suntikan. Sebagian besar reaksi ringan akibat vaksin bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.


Tetapi, tidak menutup kemungkinan jika efek samping yang lebih serius dan bertahan lama bisa terjadi, meski jarang. Untuk mencegahnya terjadi, vaksin akan terus dipantau untuk mendeteksi efek samping apa saja yang akan muncul.


Efek samping yang muncul bisa berbeda-beda, tergantung vaksin COVID-19 yang digunakan. Berikut beberapa efek samping yang seringkali dilaporkan dari vaksin COVID-19.

https://cinemamovie28.com/movies/white-snake/

5 Fakta Vaksin Nusantara Undip, Vaksin Dendritik COVID-19 Besutan Terawan

 Baru-baru ini, nama vaksin Nusantara Undip yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan Terawan mencuat. Lantaran berbasis sel dendritik, pengerjaan vaksin ini dinilai rumit dan mahal oleh sejumlah peneliti.

Berikut fakta-fakta seputar vaksin Nusantara Undip:


1. Awalnya bernama Vaksin Joglosemar

Sebelumnya, vaksin berbasis sel dendritik ini sudah pernah muncul pada Desember 2020 dengan nama 'Joglosemar'. Namun kini, jenis vaksin yang sama dimunculkan kembali dengan nama baru 'Nusantara'.


Vaksin Nusantara digarap oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma). Humas Rama Pharma menyebut, teknologi dendritik didapat dari kerjasama dengan AIVITA Biomedical Inc. asal California, AS. Namun, produksi dan distribusinya dilakukan secara independen mengandalkan alat dan bahan yang dipasok sendiri.


Penelitian vaksin Nusantara dilakukan oleh peneliti dari RSUP dr Kariadi Semarang, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

https://cinemamovie28.com/movies/air-strike/


2. Digagas di Era Menkes Terawan

Saat pertama kali muncul, 'Joglosemar' diklaim mendapat dukungan dari mantan Menteri Kesehatan waktu itu, Terawan Agus Putranto. Kini dalam rilis terbaru dari Rama Pharma, vaksin Nusantara disebut mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).


Humas Rama Pharma pada Jumat (19/2/2021) menyebut, pembiayaan uji klinis Fase 1 vaksin Nusantara ditopang oleh Balitbangkes. Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh Kepala Balitbangkes dr Slamet MHK.


"Jawabannya iya kita yang membiayai," ujarnya dalam konferensi pers FKUI terkait Study Recovery di Indonesia, Jumat (19/2/2021).


3. Berbasis sel dendritik

Menurut klaimnya, sel dendritik adalah komponen sistem imun. Sel ini dikembangbiakan di luar tubuh, kemudian dijadikan vaksin COVID-19 dengan pembentukan antibodi.


Selain bersifat personalized dan individual, vaksin Nusantara diklaim efektif untuk segala usia mulai dari anak-anak, lansia, hingga orang dengan penyakit komorbid.


Lantaran diproduksi sendiri, vaksin Nusantara Undip ini diklaim bisa menggenjot kembali ekonomi Indonesia.


4. Sudah uji klinis Fase 1

Laporan terakhir, vaksin Nusantara masih menunggu hasil evaluasi uji klinis Fase 1 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk bisa dilanjutkan ke Fase 2.


"Kami baru menerima hasil uji klinis Fase 1-nya, jadi masih dievaluasi oleh timnya direktur registrasi dari BPOM dengan tim ahli untuk kelayakan apakah bisa segera kita keluarkan protokol untuk uji Fase 2-nya karena hasil dari Fase 1-nya baru kami terima," ujar Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito turut menghadiri konferensi pers FKUI, Jumat (19/2/2021).


5. Panen kritik

Sejumlah peneliti menilai, penggunaan sel dendritik untuk vaksin COVID-19 dinilai terlalu rumit. Salah satunya, oleh ahli penyakit tropik dan infeksi dari Universitas Indonesia (UI) dr Erni Juwita Nelwan SpPD.


"Kalau kita membuat dendritik sel ini sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal. Itu dari sisi manufacturingnya, pembuatanya," ujarnya.


Dalam klaimnya, vaksin Nusantara disebut bisa membentuk antibodi seumur hidup. Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menyebutkan, hingga kini belum ada vaksin COVID-19 yang terbukti bisa melakukan hal tersebut. Apalagi, vaksin Nusantara ini belum melalui uji klinis Fase 2 dan 3.


"Vaksin Nusantara diklaim menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya?" ujarnya lewat akun Twitter @ProfesorZubairi, dikutip atas izin yang bersangkutan, Jumat (19/2/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/i-t/