Senin, 18 Januari 2021

Asus Pamer Tampang ROG Phone 4

 Asus mulai mempromosikan ponsel gaming terbarunya lewat sebuah poster di akun Weibo mereka. Seperti apa tampangnya?

Dalam poster tersebut Asus memamerkan ponsel yang 'wajahnya' dipenuhi layar, dan mereka memang tak menyebutnya sebagai ROG Phone 4. Namun pada bagian kiri atas dipajang logo Republic of Gamers (ROG). Meski bisa saja Asus tak menggunakan nama ROG Phone 4 untuk ponsel tersebut.


Asus ROG Phone 4

Asus pun mengklaim kalau ponsel gaming barunya ini bisa menghadirkan pengalaman gaming yang lebih imersif dan tak terbatas. Mungkin ini bisa diwujudkan karena rasio layar ke bodi yang lebih besar.


Uniknya, pada bagian latar belakang gambar ada konstelasi bintang yang tampaknya mirip (atau memang) konstelasi Aries. Mungkin ini adalah cara Asus membocorkan tanggal peluncuran ponsel tersebut, demikian dikutip detikINET dari Android Authority, Senin (17/1/2021).

Sementara soal spesifikasi, bocorannya berasal dari laman Geekbench dan HTML5. yaitu pada ponsel dengan nomor model ASUS_I005DA. Dari laman tersebut diketahui kalau ponsel itu memakai Snapdragon 888 sebagai otaknya.


Sementara untuk varian standarnya akan mempunyai RAM 8GB dan sistem operasi Android 11. Skor benchmark dari perangkat tersebut untuk single core adalah 1081, sementara untuk multi core skornya adalah 3584. Pada uji HTML5, ponsel tersebut mendapat skor 469.


Pada 2020 lalu, Asus merilis ROG Phone 3 pada bulan Juli, dan kemudian mendarat di Indonesia pada bulan September. Saat itu, ROG Phone 3 hadir dalam dua varian, yaitu RAM 8 GB dan ROM 128 GB, harganya Rp 9.999.000 diberikan bonus AeroCase. Kedua RAM 12 GB dan ROM 256 GB dibanderol Rp 14.999.000 dengan bonus AeroActive Cooler 3 dan AeroCase.


Harganya ini sedikit lebih murah dibanding harga secara global, di mana versi RAM 8 GB dan ROM 256 GB dilepas 799 euro atau kisaran Rp 13,5 juta. Sementara versi RAM 12 GB dan ROM 512 GB dihargai Rp 999 euro atau Rp 16,9 juta.

https://tendabiru21.net/movies/under-the-bed-2/


WhatsApp Tunda Kebijakan Privasi Baru, Tetap Hijrah atau Tidak?


 WhatsApp diketahui menunda penerapan kebijakan privasi baru hingga 15 Mei 2021 setelah adanya banjir kritikan dan membuat sebagian user pindah ke kompetitor seperti Telegram dan Signal.

Tapi, apakah lebih baik hijrah atau tetap menggunakan WhatsApp? detikINET pun telah menghubungi pakar keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya untuk menanggapi hal ini.


"Kalau saya pilih keduanya. Jadi faktanya kita tidak bisa mendadak berpindah dari WhatsApp. Tetapi kalau kita tetap di WhatsApp tanpa melakukan apapun, sama saja mencelakakan diri kita sendiri dan faktanya ketentuan ini bukan dibatalkan tetapi hanya ditunda," ujarnya melalui pesan singkat, Senin (18/1/2021).


Karena itu, Alfons tetap menyarankan pengguna untuk tetap memakai WhatsApp supaya komunikasi tidak terganggu. Namun di satu sisi, perlahan-lahan mulai berpindah menggunakan alternatif seperti Telegram dan Signal. Tujuannya, supaya WhatsApp tidak terlalu dominan hingga bila mendikte pasar dan pengguna dengan ketentuan privasi yang sangat merugikan pengguna.


Terlebih, kompetitor tidak melakukan sharing data ke platform lain karena mereka hanya murni messaging platform. Sebaliknya WhatsApp membagikan data ke platform lain Facebook Group. Didukung pula, adanya rekam jejak eksploitasi data oleh Facebook kemarin dengan kasus Cambridge Analytica.


"Jadi untuk keamanan dan keselamatan pengguna disarankan untuk mulai ancang-ancang berpindah ke platform lain sambil tetap menggunakan WhatsApp," tutupnya.

https://tendabiru21.net/movies/under-the-bed/


Minggu, 17 Januari 2021

Jenis Vaksin COVID-19 Ada Beragam, Amankah Bila Dosisnya Tercampur?

 Saat ini ada beragam jenis vaksin COVID-19 yang dikembangkan dengan teknologi berbeda-beda. Vaksin yang mulai digunakan beberapa negara diketahui pada umumnya memerlukan dua dosis atau dua kali suntikan untuk mencapai efek perlindungan maksimal.

Terkait hal tersebut, belakangan muncul pertanyaan apakah dua jenis vaksin COVID-19 yang berbeda bisa digunakan. Ini menyusul rencana Inggris yang mengizinkan tenaga kesehatan mencampur dosis vaksin untuk mengatasi masalah suplai yang minim.


Kepala program imunisasi Public Health England (PHE), Mary Ramsay, menyebut seseorang seharusnya mendapat dua dosis vaksin COVID-19 yang sama. Pemberian jenis vaksin berbeda dilakukan bila terpaksa.


"Sebisa mungkin kita memberikan pasien vaksin yang sama, tapi bila tidak mungkin, maka lebih baik berikan dosis kedua dari vaksin COVID-19 yang lain daripada tidak sama sekali," kata Mary seperti dikutip dari The British Medical Journal (BMJ), Minggu (17/1/2021).


Menurut ahli meski teknologi beragam jenis vaksin COVID-19 berbeda-beda, pada prinsipnya vaksin bekerja dengan cara menginduksi respons imun terhadap spike protein virus Corona.


Oleh karena itu dari segi keamanan seharusnya tidak ada masalah. Hanya saja mungkin yang akan bisa jadi kekhawatiran adalah nilai efikasinya yang berbeda dari hasil uji klinis.


"Saya pikir orang-orang yang bekerja di bidang vaksin tidak akan mengkhawatirkan masalah keamanan menggunakan dua jenis vaksin berbeda. Tapi kita bisa mengkhawatirkan efikasinya," kata ahli kesehatan publik, Barry Pakes, dari Dalla Lana School of Public Health.

https://indomovie28.net/movies/3-in-a-bed/


Mengenal Pneumonia, Kondisi Farida Pasha Sebelum Meninggal Kena COVID-19


 Artis senior Farida Pasha meninggal, keluarga menyebut terinfeksi COVID-19. Pemeran Mak Lampir di sinetron Misteri Gunung Merapi ini awalnya masuk rumah sakit karena vertigo dan asam lambung.

Putri Farida Pasha, Gina Sonia, mengungkap hal itu dalam keterangannya kepada wartawan. Menurut Gina, pemeriksaan berikutnya menunjukkan Farida Pasha mengalami pneumonia.


"Setelah dilakukan berbagai tes dan rontgen mama terkena early pneumonia, juga hasil swabnya positif," kata Gina, dikutip dari detikHOT, Minggu (17/1/2021).


Dalam perawatan, Farida Pasha menjalani tes swab dan hasilnya positif terinfeksi COVID-19. Artis berusia 68 tahun ini meninggal pada Sabtu (16/1/2021) dan dimakamkan dengan protokol ketat COVID-19.


Dikutip dari Mayo Clinic, pneumonia adalah infeksi yang memicu peradangan pada paru-paru. Pada pneumonia, kantung udara terisi cairan sehingga dalam istilah awam sering disebut paru-paru basah. Cairan ini menyebabkan sesak napas.


Derajat keparahan pneumonia cukup beragam, dari yang ringan hingga berat. Kondisi ini memberikan dampak paling serius pada bayi, anak-anak, lansia di atas 65 tahun, dan orang-orang dengan masalah kesehatan maupun imunitas tubuh yang lemah.


Gejala pneumonia

Ada berbagai gejala bisa yang menyertai pneumonia, tergantung derajat keparahan dan penyebab infeksinya. Pneumonia ringan ditandai gejala mirip flu, tetapi lebih lama.


Beberapa gejala yang sering ditemukan adalah:

Nyeri dada saat batuk atau bernapas

Batuk

Letih

Demam, berkeringat, menggigil

Pada lansia dengan daya tahan tubuh lemah, suhu tubuh di bawah normal

Mual, muntah, atau diare

Sesak napas.

Pneumonia paling banyak disebabkan oleh bakteri dan virus, meskipun jamur dan parasit lain juga bisa menjadi penyebab. Infeksi COVID-19 juga kerap disertai komplikasi pneumonia.

https://indomovie28.net/movies/under-your-bed/