Selasa, 22 Desember 2020

Komnas HAM Jelaskan Kondisi 3 Mobil dalam Kejadian Penembakan Laskar FPI

 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah mengecek tiga mobil yang terlibat dalam insiden penembakan enam laskar Front Pembela Islam (FPI). Komnas HAM membeberkan 3 kondisi mobil tersebut.

Mobil pertama, adalah mobil Avanza silver milik polisi. Di tempat itu, polisi menyebut empat laskar ditembak di dalam mobil karena mencoba merebut senjata api milik petugas.


Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menjelaskan terdapat bekas tembakan di mobil tersebut. Bekas tembakan, ada di dalam dan di luar mobil.


"Yang jelas ada bekas tembakan," kata Beka saat dihubungi, Selasa (22/12/2020).


"Ada di luar, ada di dalam," ujarnya.


Beka mengaku lupa terkait jumlah lubang pelurunya. Beka juga melihat ada ceceran darah di bagian dalam mobil.


"Iya, pokoknya ada bercak, bukan ceceran darah," ujar Beka.


Mobil Avanza silver itu juga rusak di bagian luar. Beka menyebut ada bekas garis lurus di bagian depan dan samping seperti bekas serempetan. Pihaknya masih belum bisa memastikan penyebab kerusakan itu.


"Pokoknya ada bekas garis lurus begitu. Bahwa memastikan itu (bekas) senjata tajam atau tidak belum bisa, karena kami sedang meminta kepada kepolisian apakah ada foto mobil tersebut, dokumentasinya sebelum dan sesudah kejadian," ujarnya.


Mobil kedua, merupakan mobil Chevrolet Spin yang ditunggangi enam laskar FPI. Mobil itu digunakan FPI saat terjadi insiden kejar-kejaran di Tol Jakarta-Cikampek.

https://cinemamovie28.com/movies/the-first-time-4/


Beka menyebut ada kerusakan di mobil itu. Namun, dia tidak ingat apakah ada bekas tembakan di mobil tersebut.


"Cacat-cacat ya, karena ada yang cacat di depan, karena katanya sebelumnya nabrak begitu. Bekas tabrakan, itu butuh pendalaman lagi ya karena baru keterangan polisi saja," ungkapnya.


"Aku lupa (ada tidaknya bekas tembakan) yang Chevrolet itu, sorry sorry," ujarnya.


Bagaimana kondisi mobil yang lain. Simak di halaman selanjutnya.


Mobil ketiga adalah Avanza silver lain milik polisi. Mobil tersebut, disebut Beka, tidak memiliki bekas tembakan seperti mobil polisi yang pertama.

"Iya ada satu yang kerusakannya tidak ada lubang pelurunya," katanya.


Apakah mobil tersebut digunakan untuk membawa 2 laskar yang tewas dalam baku tembak? Beka menyebut masih menyelidikinya.


"Ini yang sedang didalami, karena kami fokusnya hanya cek fisiknya kerusakannya seperti apa, belum sampai untuk mobil apa, mobil apa," jelasnya.


Seperti diketahui, Komnas HAM mengatakan pihaknya telah mendapatkan informasi tambahan usai mengecek mobil-mobil yang terlibat dalam insiden penembakan 6 laskar FPI. Komnas HAM masih membutuhkan waktu tambahan untuk mengungkap kasus ini.


Beka Ulung Hapsara mengaku hasil pengecekan mobil yang jadi barang bukti tersebut membuat semakin terang soal posisi duduk antara laskar dan polisi saat insiden penembakan yang terjadi.


"Memperjelas posisi polisi dan anggota FPI dalam mobil, kondisi mobil setelah kejadian dan kerusakan yang ada," kata Beka Ulung Hapsara kepada wartawan, Senin (21/12/2020) malam.

https://cinemamovie28.com/movies/elektra-luxx/

Senin, 21 Desember 2020

Heboh RI Disebut Satu-satunya Pemesan Vaksin Corona Sinovac, Ini Faktanya

 Beredar kabar Indonesia menjadi negara satu-satunya yang memesan vaksin COVID-19 Sinovac. Kabar ini mengutip tabel di salah satu artikel Al Jazeera yang mencantumkan perbandingan 10 vaksin Corona.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menegaskan bahwa beberapa negara juga memesan vaksin Corona dari China, yaitu Sinovac. Di antaranya Brasil, Turki, Singapura, Chili, dan Filipina.


"Bahkan, Mesir juga sedang bernegosiasi untuk bisa memproduksi vaksin Sinovac di Mesir," jelas Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Lucia Rizka Andalusia dalam laman resmi Satgas COVID-19.


Selain menyebut Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memesan vaksin Corona Sinovac, kabar yang beredar juga menyebut vaksin Sinovac merupakan vaksin yang memberikan respons imun paling lemah. Lagi-lagi, kabar ini dibantah BPOM.


"Sampai saat ini belum ada pengumuman tingkat efikasi vaksin Sinovac baik dari pihak produsen maupun badan pengawas obat di negara tempat dilakukannya uji klinik," lanjutnya.


Catat! Ini Daftar Orang-orang yang Tidak Boleh Divaksin COVID-19


 Presiden Joko Widodo telah memutuskan akan menggratiskan vaksin COVID-19 untuk seluruh masyarakat Indonesia. Vaksinasi disebut jadi salah satu cara efektif untuk mengakhiri pandemi dengan membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

Vaksinasi COVID-19 di Indonesia dijadwalkan akan berlangsung awal tahun depan. Saat ini pemerintah Indonesia disebut telah mengamankan jutaan dosis vaksin COVID-19.


Namun tak semua orang bisa divaksin COVID-19. Dijelaskan oleh Ahli Alergi dan Imunologi Profesor Iris Rengganis, orang dengan kondisi tertentu tak boleh divaksinasi.


Pada kelompok ini, vaksin bisa memberikan reaksi berbeda. Dalam sejumlah kasus, vaksin juga bisa menjadi tidak efektif.

https://trimay98.com/movies/accident-man/


Berikut kriteria orang yang tidak boleh divaksin COVID-19.


1. Orang yang sedang sakit

Prof Iris menegaskan vaksin diberikan hanya untuk mereka yang sehat. Orang yang sedang sakit, tidak boleh menjalani vaksinasi. Jika sedang sakit, peserta harus sembuh terlebih dahulu sebelum divaksin.


"Vaksin hanya untuk orang sehat. Demam sedikit tidak boleh divaksin," ujarnya dikutip dari CNNIndonesia, Senin (21/12/2020).


2. Memiliki penyakit penyerta

Orang dengan penyakit penyerta yang tidak terkontrol seperti diabetes atau hipertensi disarankan tidak menerima vaksin. Oleh karena itu, sebelum pelaksanaan vaksinasi, semua orang akan dicek kondisi tubuhnya terlebih dahulu.


Mereka yang memiliki penyakit komorbid harus dalam kondisi terkontrol untuk mendapat persetujuan vaksinasi dari dokter yang merawat.


3. Tidak sesuai usia

Sesuai anjuran pemerintah, orang yang mendapat vaksin COVID-19 adalah kelompok usia 18-59 tahun. Artinya, mereka yang diluar kelompok tersebut seperti lansia dan anak-anak, belum boleh menerima vaksin.


"Pada vaksin yang saat ini sedang diuji, tidak boleh untuk anak-anak karena belum ada penelitian pada anak-anak," ujar Prof Iris.


4. Memiliki riwayat autoimun

Secara khusus, Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni), tidak merekomendasikan pemberian vaksin COVID-19 pada orang dengan autoimun seperi SLE atau vaskulitis.


"Pasien autoimun tidak dianjurkan untuk vaksinasi Covid-19 sampai hasil penelitian yang lebih jelas telah dipublikasi," demikian bunyi rekomendasi dari PP Peralmuni.

https://trimay98.com/movies/seraphim-falls/