Sabtu, 19 Desember 2020

Ekstensi Berisi Malware Merebak di Chrome dan Edge, Penggunanya Jutaan

 Avast melanjutkan penelitian CZ.NIC asal Ceko terkait puluhan ekstensi berisi malware yang ada di Google Chrome dan Microsoft Edge. Hasilnya adalah 28 ekstensi ditemukan menyimpan kode malicious atau berbahaya, dan parahnya ekstensi tersebut dipakai oleh jutaan pengguna.

Ekstensi tersebut ada sudah aktif sejak Desember 2018, dan aktivitasnya bermacam. Dari sekadar mengarahkan pengguna ke situs iklan dan phishing, mengumpulkan data persona, history browser, sampai menyusupkan malware ke perangkat korbannya.


Namun menurut Avast, puluhan malware itu punya tujuan utama yang sama, yaitu membajak lalu lintas data pengguna untuk mengambil keuntungan finansial. Setiap kali ekstensi itu mengarahkan pengguna ke situs tertentu, pembuatnya mendapatkan bayaran.


"Hipotesis kami adalah antara ekstensi tersebut memang sengaja dibuat dengan malware di dalamnya, atau pembuatnya menunggu sampai ekstensinya populer baru menyusupkan malware lewat update," ujar Jan Rubin, peneliti keamanan dari Avast.


"Atau bisa juga pembuatnya menjual ekstensi tersebut ke orang lain setelah membuatnya, barulah pembelinya itu menyusupkan malware," tambahnya.


Avast sudah melaporkan ekstensi ini ke perusahaan pembuat browsernya, yaitu Google dan Microsoft. Keduanya saat ini sudah mulai menginvestigasi ekstensi tersebut.


Dari 28 ekstensi berbahaya berisi malware tersebut, ada 15 yang ada di Chrome serta 13 di Edge. Jika anda menggunakan ekstensi ini, sebaiknya anda langsung menghapusnya.


Daftar ekstensi Chrome berisi malware

Direct Message for Instagram

DM for Instagram

Invisitble mode for Instagram Direct Message

Downloader for Instagram

Stories for Instagram

Universal Video Downloader

Video Downloader for FaceBook

Vimeo Video Downloader

Zoomer for Instagram and FaceBook

VK UnBLock. Works fast

Odnoklassniki UnBlock. Works quickly

Upload photo to Instagram

Spotify Music Downloader

The New York Times News

Daftar ekstensi Edge berisi malware

Direct Message for Instagram

Instagram Download Video & Image

App Phone for Instagram

Universal Video Downloader

Video Downloader for FaceBook

Vimeo Video Downloader

Volume Controller

Stories for Instagram

Upload photo to Instagram

Pretty Kitty, The Cat Pet

Video Downloader for YouTube

SoundCloud Music Downloader

Instagram App with Direct Message DM

https://movieon28.com/movies/bisikan-iblis/


Google Stadia Kini Tersedia untuk iOS dalam Versi Beta


 Apple memang dikenal sulit untuk layanan streaming game untuk menyediakan aplikasi iOS bagi pemilik iPhone dan iPad. Solusi yang diadopsi oleh layanan streaming ini adalah menyediakan akses melalui browser web pada perangkat.

Yang terbaru adalah Google Stadia setelah lebih dari setahun diluncurkan di platform lain. Pengumuman itu dilakukan di Twitter oleh akun resmi Stadia. Tweet tersebut menyertakan video pendek yang mengajari pengguna cara mengakses layanan dan itu cukup mudah. Berikut langkah-langkahnya:


Luncurkan browser Safari iOS Anda

Buka Stadia.com

Masuk dengan akun Google Anda

Mulailah bermain

Anda dapat menambahkan pintasan aplikasi web ke layar beranda untuk memudahkan akses seperti yang ditunjukkan dalam video.


Mengutip Gizmochina, Stadia di iOS bekerja dengan Stadia Controller dan juga untuk Controller DualShock 4 dan Xbox One. Semua controller ini terhubung ke iPhone atau iPad melalui Bluetooth. Jika Anda tidak memiliki controller, Anda dapat mengaktifkan fitur gamepad sentuh saat meluncurkan game.


Peluncuran Google iOS datang tak lama setelah Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan menghadirkan layanan Xbox cloud gaming ke PC dan iOS tahun depan. Namun, Google bukanlah yang pertama melakukannya, layanan streaming game lain seperti NVIDIA GeForce NOW mengumumkan bahwa layanan tersebut sekarang dapat diakses melalui browser Safari pada bulan November. Luna milik Amazon juga tersedia melalui aplikasi web untuk iPhone dan iPad.

https://movieon28.com/movies/incarnation-of-the-devil/

Jumat, 18 Desember 2020

"Kominfo Jangan Buru-buru, Nanti 5G Jadi Rasa 4G"

 Pengamat telekomunikasi menilai jika hanya mengandalkan frekuensi 2,3 GHz untuk menggelar layanan 5G dinilai tidak akan optimal. Bisa jadi, saat diresmikan nanti, layanan 5G justru rasanya seperti 4G.

Seperti diberitakan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) baru saja mengumumkan Smartfren, Telkomsel, dan Tri Indonesia pemenang lelang yang masing-masing mendapatkan 10 MHz. Lelang spektrum tersebut selain untuk transformasi digital, juga digunakan penggelaran teknologi seluler generasi kelima alias 5G.


"Ini kan frekuensi masing-masing dapat 10 MHz. Sejauh ini akan berarti bagi pemain (operator-red) karena mampu membuat kapasitasnya naik. Frekuensi tinggi kan memang untuk mengisi kapasitas," ujar Doni Ismanto Darwin dari Indotelko Forum, Jumat (18/12/2020).


"Nah, kalau dilihat artinya Telkomsel dan Smartfren tambah 10 MHz, meaning kali 2 (uplink downlink) dia da sekitar 80 MHz. Belum ideal juga buat 5G, karena 5G minimal 100 MHz. Jika maksa, 5G hanya sekedar ada alias icip-icip doang. Makanya, prediksi awal ini untuk meningkatkan kualitas 4G. Hal yang sama dengan Tri, dia kan gunakan 10 MHz itu buat naikin kapasitasnya walau 10 MHz, ya lumayan," tuturnya.

https://trimay98.com/movies/benyamin-the-troublemaker/


Sementara itu, selain Telkomsel dan Smartfren yang merupakan penghuni lama di frekuensi 2,3 GHz --ditambah kehadiran Tri Indonesia setelah menang lelang-- masih ada PT Berca Hardayaperkasa yang menguasai zona 8.


Itu artinya, untuk menggelar layanan 5G di Indonesia, operator seluler baik itu Telkomsel, Smartfren, maupun Tri Indonesia harus mengakuisisi frekuensi milik Berca tersebut agar spektrum tersebut bisa dilakukan refarming dan cakupannya nasional.


"Nah, ini kan ada yang di zona-zona layanan Berca ada, katanya pemenang harus deal B2B sama Berca sebelum refarming frekuensi. Ini waktunya setahun. Artinya sampai tahun depan juga belum dimaksimalkan frekuensi itu. Ingat Berca punya pelanggan lumayan besar di Sumatera dan lainnya," jelas Doni.


Apabila pemerintah masih ngotot menggelar 5G, khususnya pernyataan terbaru dari Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Kominfo Widodo Muktiyo, yang membocorkan bahwa penggelaran 5G diterapkan di Indonesia pada tahun 2021 maka bisa jadi dampaknya layanan 5G yang harus super ngebut dan minim latensi, justru tidak optimal dirasakan penggunannya.


"Dengan alokasi yang dimiliki sekarang, iya (tidak maksimal). Sama seperti sekarang 4G, nggak pernah (mencapai) kecepatan ideal). Kecuali Telkomsel, Smartfren, dan Tri melakukan network sharing, tapi akan kena juga di sisi kapasitas, kalau user pakai ramai, dia akan kewalahan," kata Doni.


Maka menurut Doni, ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan Kominfo sebelum benar-benar menggelar jaringan 5G di Indonesia. Pertama, isu ketersediaan frekuensi, terutama yang frekuensi tinggi untuk 5G, seperti 2,6 GHz, 3,5 Ghz, itu kan ada operator satelit sama TV satelit.


Kedua, fiberisasi di sisi operator yang butuh insentif regulasi dari pemerintah karena banyak aturan Pemda malah menyulitkan gelar Fiber Optik. Dan ketiga, use case, ini 5G mau buat apa? Idealnya sih buat Kawasan Ekonomi Khusus atau Bandara dalam rangka smart airport, kalau ritel user balik-balik nanti isu speed akan jadi masalah seperti 4G.


"Mending matengin pilot projet buat industri. Bandara Soetta layak buat trial 5G dalam rangka smart airport," pungkasnya.

https://trimay98.com/movies/benyamin-biang-kerok/