Senin, 14 Desember 2020

4 Relawan Vaksin COVID-19 Pfizer Alami Bell's Palsy, Kondisi Apa Itu?

 Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) akan memantau kejadian Bell's Palsy yang terjadi di antara penerima vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech.

Temuan FDA mendapati dari 22 ribu partisipan penerima vaksin, empat diantaranya mengalami Bell's Palsy. Salah satu peserta mengalami kelumpuhan otot-otot wajah sekitar tiga hari setelah penyuntikan.


Keadaan kembali normal setelah tiga hari. Tiga orang lain mengalami kelumpuhan otot wajah setelah 9-48 hari pasca penyuntikan. Keluhan berangsur membaik setelah hari ke-10.


Sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana vaksin COVID-19 dapat menyebabkan Bell's Palsy.


"Meskipun database keamanan terungkap adanya ketidakseimbangan kasus Bell's palsy [4 dalam kelompok vaksin dan tidak ada dalam kelompok plasebo], hubungan sebab akibat kurang pasti karena jumlah kasusnya sedikit," keterangan dalam FDA Briefing Document.


Dikutip dari Mayo Clinic, Bell's palsy, juga dikenal sebagai kelumpuhan wajah perifer akut yang dapat terjadi pada semua usia.


Kondisi ini menyebabkan satu sisi wajah menjadi kaku. Pengidap Bell's Palsy umumnya mengalami kesulitan tersenyum atau menutup mata pada sisi yang terkena.


Bagi kebanyakan orang, Bell's palsy bersifat sementara. Gejala biasanya mulai membaik dalam beberapa minggu, dengan pemulihan total dalam waktu sekitar enam bulan.


Meskipun penyebab pasti Bell's palsy tidak jelas, sering kali hal ini terkait dengan infeksi virus. Virus yang telah dikaitkan dengan Bell's palsy termasuk virus yang menyebabkan cacar air, herpes genital, campak, gondongan, hingga flu.

https://trimay98.com/movies/blusukan-jakarta/


7 Gejala Jangka Panjang yang Banyak Dialami Penyitas COVID-19


Gejala COVID-19 biasanya dialami para pasien setelah baru terinfeksi virus Corona. Tetapi, pasien yang telah sembuh dari infeksi tersebut juga bisa mengalami gejala COVID-19 jangka panjang.

Kondisi gejala jangka panjang ini bisa berlangsung lama setelah pasien COVID-19 pulih dari infeksi. Biasanya dapat berlangsung beberapa minggu atau lebih dari itu.


Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gejala jangka panjang ini bisa ditentukan dari gejala yang berkembang di minggu pertama infeksi. Dikutip dari Times of India, berikut ini sederet gejala jangka panjang yang paling umum dikeluhkan para pasien COVID-19.


1. Kelelahan

Orang-orang yang terinfeksi COVID-19 mengeluh mengalami kelelahan yang parah atau kronis. Kelelahan kronis ini bisa menyerang pasien yang mengalami gejala ringan atau sedang dan bisa terjadi dalam jangka panjang.


Gejala jangka panjang ini bisa terjadi setelah tubuh melawan infeksi virus. Beberapa bahkan mengatakan bahwa kelelahan ini menjadi gejala yang membutuhkan waktu paling lama untuk pulih pasca infeksi.


2. Nyeri otot

Kelelahan pasca infeksi COVID-19 juga ditandai dengan kelesuan dan nyeri otot. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat virus Corona.


Selain itu, para pasien COVID-19 yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot. Nyeri otot ini disebabkan oleh kerusakan pada serat otot akibat virus dan kerusakan jaringan abnormal di tubuh.


3. Batuk berkepanjangan

Viral load virus yang tertinggal pada saluran pernapasan bagian atas bisa menyebabkan gejala batuk yang berkepanjangan. Gejala COVID-19 jangka panjang ini bisa berlangsung selama 5-6 minggu atau lebih.


Batuk yang dialami bisa bersifat kering atau produktif (basah), yang membuat saluran pernapasan dan tenggorokan lebih stres.

https://trimay98.com/movies/the-city-of-your-final-destination/

Pilu, Kisah Wanita yang Meninggal Akibat Corona 5 Hari Sebelum Pernikahannya

 Seorang wanita meninggal akibat COVID-19 lima hari sebelum ia menikah. Calon pengantin yang bernama Stephane Lynn Smith ini awalnya mengira ia menderita herpes zoster atau cacar api.

"Dia pergi menemui dokter terkait kondisinya itu, dan dia (dokter) memberikan obatnya," kata ibunya, Oralia Smith yang dikutip dari Daily Star, Senin (14/12/2020).


Namun, bukannya membaik kondisi calon pengantin wanita yang berusia 29 tahun itu bertambah buruk. Bahkan tunangannya, Jamie Bassett, sampai membawanya ke rumah sakit dan ia didiagnosis COVID-19 dan pneumonia.


Setelah didiagnosis, Smith sempat kembali ke rumahnya. Tetapi, keesokan harinya ia harus kembali ke rumah sakit karena kadar oksigennya anjlok.


"Kami menciumnya dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan baik-baik saja," lanjutnya.


Dengan kondisinya yang semakin memburuk, Smith harus menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Di sana ia melakukan isolasi akibat COVID-19 dan terus berjuang menghadapi serangan kecemasannya.


Tepat lima hari sebelum hari pernikahannya, dokter mengatakan bahwa Smith telah meninggal dunia. Smith juga sempat menerima beberapa kali pertolongan CPR, tetapi tidak membuahkan hasil.


"Mereka mengatakan pada kami bahwa mereka kehilangan denyut nadinya empat kali. Dan mereka melakukanCPR, dan untuk terakhir mereka tidak bisa mendapatkan kembali denyut nadinya," ujar Jamie.

https://trimay98.com/movies/premium-rush/


4 Relawan Vaksin COVID-19 Pfizer Alami Bell's Palsy, Kondisi Apa Itu?


 Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) akan memantau kejadian Bell's Palsy yang terjadi di antara penerima vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech.

Temuan FDA mendapati dari 22 ribu partisipan penerima vaksin, empat diantaranya mengalami Bell's Palsy. Salah satu peserta mengalami kelumpuhan otot-otot wajah sekitar tiga hari setelah penyuntikan.


Keadaan kembali normal setelah tiga hari. Tiga orang lain mengalami kelumpuhan otot wajah setelah 9-48 hari pasca penyuntikan. Keluhan berangsur membaik setelah hari ke-10.


Sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana vaksin COVID-19 dapat menyebabkan Bell's Palsy.


"Meskipun database keamanan terungkap adanya ketidakseimbangan kasus Bell's palsy [4 dalam kelompok vaksin dan tidak ada dalam kelompok plasebo], hubungan sebab akibat kurang pasti karena jumlah kasusnya sedikit," keterangan dalam FDA Briefing Document.


Dikutip dari Mayo Clinic, Bell's palsy, juga dikenal sebagai kelumpuhan wajah perifer akut yang dapat terjadi pada semua usia.


Kondisi ini menyebabkan satu sisi wajah menjadi kaku. Pengidap Bell's Palsy umumnya mengalami kesulitan tersenyum atau menutup mata pada sisi yang terkena.


Bagi kebanyakan orang, Bell's palsy bersifat sementara. Gejala biasanya mulai membaik dalam beberapa minggu, dengan pemulihan total dalam waktu sekitar enam bulan.


Meskipun penyebab pasti Bell's palsy tidak jelas, sering kali hal ini terkait dengan infeksi virus. Virus yang telah dikaitkan dengan Bell's palsy termasuk virus yang menyebabkan cacar air, herpes genital, campak, gondongan, hingga flu.

https://trimay98.com/movies/falcon-rising/