Sabtu, 12 Desember 2020

Soal Pre Order Vaksin COVID-19 di RS, Kemenkes Bantah Minta Pendataan

 Sejumlah rumah sakit terlihat mulai membuka pre order vaksin COVID-19. Antusiasme masyarakat untuk melakukan pre order vaksin COVID-19 disebut cukup tinggi dan banyak yang ingin mendaftarkan diri sebagai penerima vaksin.

Salah satu rumah sakit yang melayani pre order vaksin COVID-19 adalah RS Universitas Islam Indonesia (RS UII). Direktur Utama RS UII Widodo Wirawan mengatakan ada permintaan dari Kementerian Kesehatan untuk mendata pemesanan.


Menanggapi soal pre order vaksin COVID-19, juru bicara vaksin COVID-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menegaskan Kemekes belum meminta RS untuk melakukan pendataan terkait vaksin COVID-19.


"Tidak ada itu Kemkes minta begitu. Mendata nakes iya, tapi tidak ke masyarakat. Dan itu (pendataan) lewat Dinas Kesehatan," kata dr Nadia saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/12/2020).


Seperti yang diketahui, sampai saat ini status vaksin yang baru tiba di Indonesia masih menunggu izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum bisa diberikan pada masyarakat. Selain itu vaksin juga masih diprioritaskan bagi tenaga kesehatan.


Disebutkan oleh dr Nadia, memang ada dua skema pemberian vaksin COVID-19 yakni melalui pemerintah dan mandiri. Namun sampai saat ini untuk vaksinasi mandiri masih dalam pembahasan pihak-pihak terkait.


"Sampai saat ini skema mandri masih dalam pembahasan. Nanti kalau petunjuk teknis sudah ada, akan disosialisasikan," tegasnya.

https://movieon28.com/movies/street-stall/


Kenali Pemicu Delirium, Gejala Baru yang Diidap Pasien COVID-19


 Delirium adalah gejala baru yang dialami pasien COVID-19. Kondisi ini dialami oleh sejumlah pasien positif virus Corona, khususnya lansia.

Delirium adalah gangguan serius pada kemampuan mental yang mengakibatkan kebingungan dan kesadaran yang berkurang. Seseorang yang mengalami delirium akan merasakan sulit untuk berpikir, berkonsentrasi, mengingat, dan kesulitan tidur.


Mengutip laman Mayo Clinic, gejala delirium biasanya dimulai dengan cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari. Gejala delirium sering berfluktuasi sepanjang hari, namun ada periode tanpa gejala. Gejala delirium cenderung menjadi lebih buruk pada malam hari.


Sejumlah penelitian telah mempelajari tentang manifestasi COVID-19 pada sistem saraf. Delirium dan keadaan kebingungan, adalah gejala yang cukup umum oleh pasien COVID-19 yang dapat terjadi sejak hari pertama.


Studi yang diterbitkan di JAMA Network menemukan terhadap 817 pasien lansia positif virus Corona, 28 persen mengalami delirium saat presentasi, dan delirium adalah gejala keenam yang paling umum dari semua gejala dan tanda yang muncul. Di antara pasien mengigau, 16 persen menunjukkan delirium sebagai gejala utama dan 37 persen tidak memiliki gejala atau tanda COVID-19 yang khas, seperti batuk atau demam.


Penelitian tersebut mencatat bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya klinis memasukkan delirium pada daftar periksa pada pasien yang menunjukkan tanda dan gejala COVID-19.


Sebuah temuan dari Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy menunjukkan bahwa kemungkinan berkembangnya delirium juga tergantung pada gejala neurologis ringan lainnya, seperti hilangnya indra penciuman atau pengecap.


Penelitian tersebut juga mengamati pada tingkat paling awal, delirium dapat dipicu oleh tiga faktor, yakni:

https://movieon28.com/movies/seven-princess-driver/

Waduh! Seekor Macan Tutul Salju Terinfeksi Virus Corona

 Seekor macan tutul salju betina di kebun binatang Louisville, Kentucky terkonfirmasi positif virus Corona COVID-19.

Hasil tersebut menjadikannya sebagai spesies hewan ke-enam yang dikonfirmasi terpapar COVID-19 setelah kontak dengan manusia.


Departemen Layanan Inspeksi Kesehatan Tanaman dan Hewan Amerika Serikat mengkonfirmasi status kesehatan macan tutul salju tersebut yang berusia 5 tahun pada Jumat (11/12/2020). Sementara dua macan tutul salju jantan di kebun binatang tersebut juga menunjukkan gejala ringan.


Hasil tes COVID-19 kedua binatang tersebut masih dalam proses. Direktur Kebun Binatang Louisville John Walczak dikutip dari USA Today mengungkapkan, ketiga macan tutul yang menunjukkan gejala terbatas seperti suara napas yang tinggi dan batuk itu diharapkan bisa segera pulih.


Petugas dari Dinas Pemeriksaan Kesehatan Hewan dan Tanaman USDA menduga, macan tutul itu kemungkinan besar tertular dari anggota staf yang terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala.


"Meskipun pihak kebun binatang sudah berhati-hati," ujarnya


Petugas menambahkan, kecil kemungkinan macan tutul ataupun hewan lain menyebarkan virus Corona ke manusia. Sebab sejauh ini, transmisi atau penularan COVID-19 terjadi utamanya di antara manusia.


Macan tutul salju ini merupakan satu dari setidaknya enam spesies hewan yang terinfeksi virus Corona setelah melakukan kontak dekat dengan manusia.


Spesies hewan pertama yang terinfeksi COVID-19 adalah Harimau Malaya di Kebun Binatang Bronx yang pada April lalu dinyatakan positif setelah menunjukkan gejala penyakit pernapasan.


Pada akhir bulan April, delapan kucing besar di kebun binatang, termasuk empat harimau dan, tiga Singa Afrika juga dinyatakan positif COVID-19. Selain itu menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), beberapa anjing dan kucing di Amerika Serikat juga terkonfirmasi positif virus Corona.


Pada kebanyakan kasus hewan, virus Corona ini tidak mematikan, meski wabah COVID-19 di peternakan bulu di AS dan luar negeri telah membunuh ribuan cerpelai.

https://movieon28.com/movies/the-purpose-of-clubs-2/


Soal Pre Order Vaksin COVID-19 di RS, Kemenkes Bantah Minta Pendataan


Sejumlah rumah sakit terlihat mulai membuka pre order vaksin COVID-19. Antusiasme masyarakat untuk melakukan pre order vaksin COVID-19 disebut cukup tinggi dan banyak yang ingin mendaftarkan diri sebagai penerima vaksin.

Salah satu rumah sakit yang melayani pre order vaksin COVID-19 adalah RS Universitas Islam Indonesia (RS UII). Direktur Utama RS UII Widodo Wirawan mengatakan ada permintaan dari Kementerian Kesehatan untuk mendata pemesanan.


Menanggapi soal pre order vaksin COVID-19, juru bicara vaksin COVID-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menegaskan Kemekes belum meminta RS untuk melakukan pendataan terkait vaksin COVID-19.


"Tidak ada itu Kemkes minta begitu. Mendata nakes iya, tapi tidak ke masyarakat. Dan itu (pendataan) lewat Dinas Kesehatan," kata dr Nadia saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/12/2020).


Seperti yang diketahui, sampai saat ini status vaksin yang baru tiba di Indonesia masih menunggu izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum bisa diberikan pada masyarakat. Selain itu vaksin juga masih diprioritaskan bagi tenaga kesehatan.


Disebutkan oleh dr Nadia, memang ada dua skema pemberian vaksin COVID-19 yakni melalui pemerintah dan mandiri. Namun sampai saat ini untuk vaksinasi mandiri masih dalam pembahasan pihak-pihak terkait.


"Sampai saat ini skema mandri masih dalam pembahasan. Nanti kalau petunjuk teknis sudah ada, akan disosialisasikan," tegasnya.

https://movieon28.com/movies/the-purpose-of-clubs/