Selasa, 14 Juli 2020

DKI-Jatim Tertinggi, Ini Sebaran 1.282 Kasus Baru Corona RI Per 13 Juli

 Indonesia kembali mengumumkan adanya penambahan kasus baru virus Corona COVID-19. Hari ini ada 1.282 kasus baru positif sehingga total sudah 76.981 kasus. Hingga Senin (13/7/2020), ada sebanyak 36.689 pasien sembuh dan 3.656 meninggal dunia.
"Kita dapatkan hasil positif terkonfirmasi sebanyak 1.282 orang, sehingga akumulasi totalnya menjadi 76.981," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Senin (13/7/2020).

Berikut detail sebaran virus Corona di Indonesia per 13 Juli:

DKI Jakarta: 281
Jawa Timur: 219
Sulawesi Selatan: 124
Jawa Tengah: 100
Papua: 98
Kalimantan Selatan: 72
Jawa Barat: 83
Bali: 62
Sumatera Selatan: 50
Sumatera Utara: 44
Kalimantan Tengah: 26
Maluku: 26
Nusa Tenggara Barat: 23
Sulawesi Utara: 20
Maluku Utara: 13
DI Yogyakarta: 8
Sulewesi Tenggara: 7
Banten: 6
Kalimantan Barat: 5
Kalimantan Timur: 5
Gorontalo: 4
Riau: 3
Kalimantan Utara: 1
Lampung: 1
Sulawesi Barat: 1

Kemenkes Hapus Istilah ODP-PDP-OTG Corona, Akan Seperti Apa Dampaknya?

 Istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) dihapus oleh Kementerian Kesehatan. Gantinya, muncul berbagai istilah baru seperti kasus suspek, kasus probable hingga kasus konfirmasi tanpa gejala (OTG). Pergantian istilah ini tercantum dalam pedoman pencegahan virus Corona (COVID-19) terbaru.
Pergantian istilah tersebut terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) seperti dilihat detikcom, Senin (13/7/2020). Diteken Menteri Kesehatan Terawan pada 13 Juli.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc menjelaskan dampak dari pergantian istilah hanya berkaitan dengan data yang selama ini mencatat kasus ODP dan PDP secara terpisah. Kini kasus ODP dan PDP disatukan menjadi kasus suspek.

"Jadi suspek adalah kontak yang dekat dengan kasus dan mengalami gejala-gejala. Mau ringan dan berat itu namanya suspek. Kalau kemarin kan dibedakan ODP yang ringan, yang sedang atau berat itu PDP, nah sekarang disatukan semuanya namanya suspek," jelas Miko.

"Iya ke data artinya semua PDP-ODP harus disatukan menjadi suspek, kemudian yang tinggal yang suspek jadi itu disatukan aja, tapi tidak segampang menyatukan dua hal," lanjutnya.

Jadi suspek adalah kontak yang dekat dengan kasus dan mengalami gejala-gejala. Mau ringan dan berat itu namanya suspek. Kalau kemarin kan dibedakan ODP yang ringan, yang sedang atau berat itu PDP, nah sekarang disatukan semuanya namanya suspek
Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc - Epidemolog FKM UI
Sementara itu, Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH - Guru Besar FKM UI, menjelaskan perubahan istilah ini dapat memastikan penanganan kasus Corona menjadi lebih baik. Seperti dalam kasus terkonfirmasi positif oleh rapid test yang belum tentu positif karena hanya memeriksa antibodi, begitu juga sebaliknya.

"Kita periksa rapid test orang dinyatakan OTG belum tentu positif bisa jadi dia sudah sembuh kan, jadi mengacaukan, yang sudah sembuh perlu di-treatment nggak? nggak kan?" jelas Prof Ascobat kepada detikcom Selasa (14/7/2020).

"Sehingga kita sebut kasus yang mungkin sakit atau kita curigai probable mungkin berarti orangnya harus dites PCR, harus dipastikan itu saja karena kita punya dua test rapid test dan PCR," lanjut Prof Ascobat.

Prof Ascobat menilai dampak dari perubahan istilah ini juga menjadi tantangan untuk dapat melakukan tes Corona lebih banyak lagi, terutama dengan menggunakan tes PCR. "Dampaknya kita harus lebih meningkatkan testing, kita harus meningkatkan testing, Indonesia paling rendah saat ini, iya kan dibandingkan dengan negara-negara lain, memang susah sih negara kita penduduknya banyak betul ya," pungkasnya.
https://cinemamovie28.com/category/indonesia/page/2/

Ini 4 Tips Jitu Atasi Nyeri & Keram Perut Saat Menstruasi

Hampir setiap wanita pasti pernah merasakan sakit menjelang atau saat datang bulan tiba. Rasa sakit itu bisa bermacam-macam mulai dari kembung, melilit, lemas, migrain, sakit perut, dan merasa kelelahan.
Sakit di bagian perut biasanya akan lebih mendominasi. Rasa sakit menstruasi ini memang kerap terjadi karena saat menstruasi otot-otot rahim akan berkontraksi untuk meluruhkan dinding rahim endometrium.

Kontraksi otot-otot rahim tersebut membuat aliran darah ke otot-otot rahim menjadi berkurang yang merangsang ujung-ujung saraf sehingga terasa nyeri. Rasa sakit ini tentunya akan sangat mengganggu karena bisa saja menghambat aktivitas sehari-hari.

Kamu pasti tidak mau merasakan rasa sakit ini setiap bulan, kan? Melansir Healthline, berikut ini tips dan trik mengatasi masalah menstruasi yang sering kamu alami.

Kenali Siklus Menstruasi

Langkah pertama yaitu dengan melacak siklus menstruasi. Hitung berapa lama menstruasi itu berlangsung tiap bulan, dan berapa lama periodenya hingga ke siklus selanjutnya. Catat juga tingkat energi yang kamu miliki selama menstruasi, perubahan gerakan usus, dorongan seksual, suasana hati, hingga kebiasaan tidur.

Data-data pribadi ini akan membantu kamu untuk mengatur tubuh, misalnya mengatur asupan nutrisi dengan lebih baik saat menstruasi agar tubuh terasa lebih bugar. Kamu juga bisa lebih produktif di minggu-minggu sebelum periode tiba, karena mungkin saat siklus menstruasi tiba kamu harus banyak beristirahat, dan lain sebagainya.

Mengonsumsi Makanan yang Kaya Magnesium

Magnesium bisa mendukung sistem saraf dan mengatasi perasaan gugup, gelisah dan mudah tersinggung. Mood yang bisa memperparah rasa sakit tersebut biasa dialami oleh orang yang sedang menstruasi karena pengaruh dari hormon.

Sayuran hijau seperti kangkung, bayam, lobak, brokoli, merupakan beberapa sayuran yang baik dikonsumsi saat sedang menstruasi. Namun jika tidak terlalu suka dengan sayuran, kamu juga bisa mengasup magnesium dari suplemen.

Istirahat Cukup

Istirahat yang cukup juga menjadi kunci membuat tubuh kembali bugar saat menstruasi. Melatonin, hormon malam hari, memiliki dampak besar pada siklus menstruasi. Melatonin ini dapat meningkatkan ovulasi dan sumber kesuburan dan mengobati nyeri panggul kronis pada endometriosis.

Terapi Hangat

Cara lain yang bisa membantu meredakan nyeri haid secara efektif yaitu dengan terapi hangat. Kamu bisa mengompres perut atau di bagian yang nyeri dengan air hangat. Namun hal itu pasti akan membuat aktivitas terganggu.

Oleh karena itu iFree Pad Terapi Hangat hadir menjadi solusi praktis, efektif dan aman bagi kamu yang ingin mengatasi nyeri haid dan tetap beraktivitas tanpa harus meminum obat. iFree Pad ini akan memberikan terapi hangat yang bisa merelaksasi otot rahim, melancarkan aliran darah ke otot rahim dan memblok signal sakit.

Kamu hanya perlu menempelkan pad pada tingkatan hangat yang diinginkan. Misalnya, tempelkan di bagian dalam baju untuk tingkatan agak hangat, tempelkan di luar celana dalam untuk tingkatan hangat, dan bisa juga ditempelkan di dalam celana dalam untuk tingkatan yang lebih hangat. Tapi pad ini tidak disarankan untuk ditempelkan langsung ke kulit, ya.

Dengan proses alami OxyHeat, proses yang secara alami menimbulkan efek hangat seketika saat kemasan pad dibuka. Efek hangatnya pun akan terasa sampai dengan 8 jam. Dengan iFree Pad, keram perut dan nyeri saat haid akan hilang dan kamu bisa kembali beraktivitas normal.

Produk iFree Pad ini dapat dibeli di beberapa e-commerce tepatnya di official store iFree Pad yang ada di Tokopedia, Shopee dan Lazada. Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa cek Instagram @ifree.indonesia juga.
https://cinemamovie28.com/page/49/?p=711