Senin, 13 Juli 2020

6 Imbauan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Soal Potensi Corona Airborne

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui munculnya bukti-bukti yang melihat virus Corona COVID-19 bisa menular lewat udara alias airborne. Selama ini virus dianggap bisa menginfeksi lewat paparan langsung droplet (percikan liur) dari orang sakit atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah.
Dalam dokumen yang diunggah pada 9 Juli 2020, WHO memperbarui pedoman mode transmisi COVID-19. Disebutkan bahwa beberapa studi melihat bahwa ada kemungkinan droplet berukuran ekstra kecil (mikrodroplet) yang dihasilkan saat batuk atau bersin dapat membuat virus bertahan lama di udara.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menekankan penularan secara airborne ini dapat terjadi terutama di ruangan tertutup. PDPI mengimbau agar masyarakat tidak panik dan mengikuti protokol kesehatan tambahan.

Berikut imbauan PDPI dalam rilis yang diterima detikcom dan ditulis Minggu (12/7/2020):

1. Masyarakat tetap waspada dan tidak panik.

2. Hindari keramaian baik itu tempat tertutup maupun tempat terbuka.

3. Gunakan masker di mana saja dan kapan saja bahkan dalam ruangan.

4. Ciptakan ruangan dengan ventilasi yang baik seperti, membuka jendela sesering mungkin).

5. Tetap jaga kebersihan tangan serta hindari menyentuh bagian wajah sebelum mencuci tangan.

6. Selalu terapkan jaga jarak pada aktivitas sehari-hari.

Saran Pakar Agar Minim Risiko Penularan Corona di Bioskop

 Bioskop di Indonesia rencananya akan kembali dibuka pada 29 Juli mendatang. Ahli kesehatan mengingatkan tentang potensi penularan virus Corona dari udara seperti yang sudah dijelaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Agus Dwi Susanto SpP (K),FISR,FAPSR, mengatakan bahwa rencana pembukaan bioskop harus ditinjau kembali dengan protokol kesehatan yang lebih maksimal. Alasannya karena bioskop merupakan ruangan tertutup sehingga kemungkinan lebih berisiko terhadap penularan virus Corona melalui udara.

"Saya menyarankan pengelola bioskop sebelum membuka bioskop menerapkan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, sering mencuci tangan, menggunakan disinfektan, dan jaga jarak. Perhatikan sirkulasi udaranya seperti penggunaan ventilasi yang baik sangat penting dan harus dikoordinasiin sama pemerintah juga," ucap dr Agus saat dihubungi detikcom pada Minggu (12/7/2020).

Hal serupa dinyatakan oleh Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunus Miko Wahyono. Bioskop-bioskop di daerah 'aman' bisa saja buka, namun harus memenuhi protokol kesehatan yang ketat.

"Protokol kesehatan harus ketat, jadi jarak antar penonton 2 bangku harus kosong. Kalau gitukan penonton bioskop jumlahnya tidak banyak." ucap Miko.

Selain menjaga jarak, ia juga menyarankan pengelola bioskop menyediakan exhaust fan di dalam ruangan karena dapat mengeluarkan udara dari dalam ruangan dan menarik udara segar dari luar.

Pengisi Suara Doraemon Meninggal, Ini Faktor Risiko Stroke dan Serangan Jantung

 Dunia hiburan Tanah Air kembali berduka. Pengisi suara Doraemon, Nurhasanah, meninggal dunia. Kabar ini disampaikan oleh Agus Nurhasan yang merupakan mantan dubber Suneo.
"Innalillaahi wainnailaihi roji'uun. Setelah kepergian Is Andespa (dubber Giant pertama), Hamdani Hasni (dubber Suneo pertama), Prabawati Sukarta (dubber Shizuka pertama) kini baru saja menyusul Nurhasanah (dubber Doraemon kedua)" ujar Agus dalam postingan di akun Facebook miliknya, Minggu (12/7/2020).

Menurut Bima Sakti selaku dubber karakter Giant, Nurhasanah meninggal karena sakit stroke dan jantung yang diidapnya.

"Iya sakit stroke semenjak Desember 2017, karena komplikasi jantung," sahut Bima, Minggu (12/7/2020).

Penyakit stroke dan jantung memiliki faktor risiko yang mirip, yakni sama-sama berhubungan dengan sistem pembuluh darah.

"Terutama stroke iskemik (penyumbatan di pembuluh darah otak), kejadiannya hampir sama dengan serangan jantung (penyumbatan di daerah pembuluh koroner atau pembuluh darah yang memperdarahi jantung)," kata dokter jantung dari RS Mayapada, dr Ayuthia Putri Sedyawan, BMedSc, SpJP, FIHA, beberapa waktu lalu.

"Keduanya memiliki faktor risiko yang juga mirip. Misalnya darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan lain-lain," lanjutnya.

Karena adanya beberapa kemiripan tersebut, maka maka sangat mungkin mengalami kedua jenis penyakit sekaligus. Artinya ketika seseorang punya riwayat penyakit jantung, maka orang tersebut juga berisiko mengalami stroke. Demikian juga jika pernah stroke, maka ada risiko mengalami serangan jantung.

6 Imbauan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Soal Potensi Corona Airborne

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui munculnya bukti-bukti yang melihat virus Corona COVID-19 bisa menular lewat udara alias airborne. Selama ini virus dianggap bisa menginfeksi lewat paparan langsung droplet (percikan liur) dari orang sakit atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah.
Dalam dokumen yang diunggah pada 9 Juli 2020, WHO memperbarui pedoman mode transmisi COVID-19. Disebutkan bahwa beberapa studi melihat bahwa ada kemungkinan droplet berukuran ekstra kecil (mikrodroplet) yang dihasilkan saat batuk atau bersin dapat membuat virus bertahan lama di udara.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menekankan penularan secara airborne ini dapat terjadi terutama di ruangan tertutup. PDPI mengimbau agar masyarakat tidak panik dan mengikuti protokol kesehatan tambahan.

Berikut imbauan PDPI dalam rilis yang diterima detikcom dan ditulis Minggu (12/7/2020):

1. Masyarakat tetap waspada dan tidak panik.

2. Hindari keramaian baik itu tempat tertutup maupun tempat terbuka.

3. Gunakan masker di mana saja dan kapan saja bahkan dalam ruangan.

4. Ciptakan ruangan dengan ventilasi yang baik seperti, membuka jendela sesering mungkin).

5. Tetap jaga kebersihan tangan serta hindari menyentuh bagian wajah sebelum mencuci tangan.

6. Selalu terapkan jaga jarak pada aktivitas sehari-hari.
https://kamumovie28.com/cast/mirei-kiritani/