Senin, 22 Juni 2020

Butuh 110 Manusia untuk Memulai Peradaban di Planet Mars

Kolonisasi Mars digadang-gadang beberapa pihak, sebut saja Elon Musk sang pemilik SpaceX. Nah, kira-kira berapa orang diperlukan untuk memulai peradaban di planet Merah itu?
Studi yang dilakukan ilmuwan The Bordeaux Institut National Polytechniqu di Perancis menyimpulkan, diperlukan 110 manusia di tahap awal. Mereka dikirim ke sana untuk membuat berbagai perangkat dan komoditas penting bagi diri mereka.

Mereka diasumsikan tinggal di dalam kubah penuh oksigen. Studi ini dibesut oleh Profesor Jean Marc Salotti menggunakan model matematika.

"Bagaimana kemungkinan survival di planet lain dan bisa mencukupi diri sendiri? Pertanyaan ini penting bagi masa depan penjelajahan antariksa dan mungkin juga masa depan manusia secara umum," katanya.

"Saya tunjukkan bahwa model matematika bisa digunakan untuk menentukan angka minimum orang dan cara bertahan hidup di planet lain, dengan Mars sebagai contohnya," imbuh dia.

"Maka angka minimum orang telah dikalkulasi dan hasilnya adalah 110 individual," lanjutnya, seperti dikutip detikINET dari Mirror.

Namun demikian, peluang mereka survive bergantung pada beberapa hal. Misalnya seberapa baik mereka bisa bekerja sama dan mengorganisir waktu serta sumber daya yang ada.

Saat ini, SpaceX merupakan perusahaan paling serius dalam upaya mengirimkan manusia ke Mars. Mereka menjadikan pesawat antariksa powerful, Starship, sebagai prioritas utama untuk sampai ke sana.

Indonesia Harus Belajar dari Isu Kebocoran 230 Ribu Data COVID-19 RI

Pengamat keamanan siber Pratama Persadha mengatakan, kebocoran data 230 ribu pasien COVID-19 di Indonesia harus segera diselidiki dan aturan yang memayunginya harus ditegakkan.
Diketahui, 230 ribu data pasien COVID-19 di Indonesia diduga telah dicuri hacker yang kemudian diperjualbelikan di forum dark web RaidForums. Pelaku dengan akun Database Shopping ini memajang 'jualannya' itu sejak Kamis (18/6) lalu.

"Masih harus dicek dan digital forensic dari mana asal data tersebut, dari Kementerian Kesehatan atau lembaga lain yang mengelola data COVID-19," ujar Pratama dalam keterangan tertulisnya.

Hacker mengklaim data yang bocor ini terdiri dari tanggal laporan, status, nama responden, kewarganegaraan, kelamin, umur, telepon, alamat tinggal, resiko, jenis kontak, hubungan kasus, tanggal awal resiko, tanggal akhir resiko, tanggal mulai sakit, tanggal rawat jalan, faskes rawat jalan, tanggal rawat inap, faskes rawat inap, keluhan demam, keluhan sakit, tanggal pengiriman sampel, status ODP/PDP/Positif dan NIK.

"Data yang sebenarnya cukup berisiko terutama untuk pasien karena ada alamat rumah dan statusnya. Data memang menjadi hal yang diburu oleh para peretas dewasa ini, tak selalu mereka mencari data kartu kredit. Selain itu, resiko dijauhi secara sosial juga cukup serius, karena masih ada bagian di masyarakat kita yang bersikap berlebihan pada pengidap COVID-19," tutur Pratama.

Bahkan, kata Pratama, sebenarnya sangat beresiko bagi negara juga. Terutama bila yang membeli data punya tujuan menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.

"Karena masih banyak masyarakat yang mudah tersulut dengan isu COVID-19. Misalnya melakukan pengucilan bahkan pengusiran, hal yang bisa menimbulkan gesekan horizontal," sebutnya.

Untuk itu, perlindungan data dan keamanan siber pada sistem di Tanah Air khususnya lembaga pemerintah memang masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Utamanya karena faktor UU, porsi anggaran dan budaya birokrasi. Perbaikan ke arah pro penguatan siber di tiga hal itu akan membuat perlindungan data dan penguatan sistem elektronik bisa diaktualisasikan secara merata.

"Memang sebaiknya ini menjadi prioritas negara, bila tidak maka peristiwa peretasan akan semakin menghiasi pemberitaan nasional setiap harinya. Tentu hal ini tidak diinginkan," imbuhnya.
https://kamumovie28.com/the-human-comedy/

Menunggu Taji Direksi 'The Winning Team II' Telkom

Memiliki target transformasi jadi digital telco company, susunan direksi Telkom dirombak penuh. Menurut pengamat telekomunikasi, susunan direksi Telkom kini adalah The Winning Team II.
Bila dibandingkan dengan susunan direksi sebelumnya, menyisakan Ririek Adriansyah yang masih jadi Direktur Utama dan Eka Witjara yang berpindah dari Direktur Human Capital Management ke Direktur Enterprise.

Sementara yang lain merupakan wajah baru, yaitu Muhammad Fajrin Rasyid yang merupakan Pendiri Bukalapak, kemudian Venusiana Papasi yang ditarik Telkom dari anak perusahaannya Telkomsel, Heri Supriadi, Herlan Wijanarko, Afriwandi, dan Budi Setiawan. Lalu Dian Rahmawan dari Pelindo 1 kembali lagi masuk ke jajaran direksi.

Pendiri IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin menuturkan RUPST Telkom kali ini seperti menghasilkan The Winning Team II. Ia teringat kala Arief Yahya diangkat menjadi Dirut Telkom pada 2012, di mana kala itu Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan kebebasan ke Arief Yahya untuk mengangkat jajaran direksi yang akan mendukung kinerjanya.

"Kala itu AY (panggilan akrab Arief Yahya) menjuluki direksi pilihannya sebagai The Winning Team," ucapnya.

"Melihat hasil RUPST Telkom kali ini, bisa dikatakan sebagian besar jajaran direksi adalah orang-orang yang selama ini sudah lama bekerjasama dengan Ririek sebagai Dirut Telkom, atau ketika menjadi Dirut Telkomsel, bahkan saat Ririek masih sebagai direksi Telkom di masa The Winning Team I era AY," tuturnya.

Dalam direksi terbaru perusahaan BUMN ini, dihiasi orang-orang yang termasuk muda dan memiliki kompetisi di bidang digital. Adapun, Telkom sendiri memiliki target transformasi menuju digital telco company.

"Artinya, dengan dominannya jajaran direksi dari kalangan internal, speed untuk bergerak maju bagi manajemen akan cepat karena konsolidasi tak perlu berlama-lama," jelas Doni.

Sementara penempatan Fajrin sebagai Direktur Digital Service dan Budi Setiawan sebagai Direktur Straegic Portfolio, kata Doni, bisa dikatakan kombinasi darah muda dan pengalaman yang nantinya diharapkan menghasilkan bisnis digital lebih baik bagi Telkom.

Sedangkan, Budi Setiawan dulu pernah berhasil melakukan rejuvenation bisnis Melon milik Telkom. Jadi, sudah tak asing juga dalam mengembangkan atau melakukan akuisisi bisnis digital.

Sedangkan, kehadiran Herlan Wijanarko yang memang malang melintang dalam membangun infrastruktur Telkom akan menjadi sinyal, Telkom akan tetap konsisten menggelontorkan belanja modal besar untuk membangun jaringan digital.

Belum lagi kembalinya Dian Rachmawan yang akan mengelola Wholesale & International Service, ungkap Doni, ini tentu juga memberikan sinyal Telkom akan kembali gencar melakukan ekspansi internasional melalui Telin. Dian adalah sosok yang dikenal membangun Telin Hong Kong.

Sedangkan Venusiana di Telkomsel sudah makan asam garam dengan bisnis konsumer, ditambah pengalamannya dalam membangun jaringan, ini akan membuat layanan IndiHome bisa makin tinggi penetrasi di pasar nantinya.

Ada lagi sosok Edi Witjara yang diharapkan akan mampu mengangkat bisnis enterprise dari Telkom agar bisa memberikan profitabilitas lebih tinggi. Sosok Edi tadinya sudah lama berkecimpung di finansial dan terakhir di SDM, ini tentu menjadi modal menata bisnis enterprise Telkom.

Jangan lupakan Afriwandi yang bsia dikatakan menjadi "Bek" untuk menjaga keseimbangan dari pergerakan perusahaan, terutama dalam pengembangan talenta digital Telkom.

"Tantangan bagi The Winning Team II ini memang lumayan berat mengingat di masa New Normal, semua operator masih mengalami kendala efek gunting dari layanan data, dimana trafik tinggi, perubahan perilaku pelanggan yang menjadikan titik site harus ditambah atau diubah sesuai kebutuhan, hingga nilai tukar rupiah yang masih melemah," kata Doni.

Ibarat Klub Sepak Bola, The Winning Team II ini jangan sampai terbebani dengan sejarah dari prestasi pendahulu di masa lalu. Mereka harus bisa menulis sejarahnya sendiri bagi Telkom, yang kita harapkan membawa BUMN ini berjaya di dalam dan luar negeri.
https://kamumovie28.com/bound/