Kamis, 18 Juni 2020

Wajib Tahu! Ini Cara Cegah Penularan Virus Corona di Lift

Di era 'new normal' pandemi virus Corona beberapa gedung perkantoran mulai dibuka dan karyawan mulai masuk kantor, mengakhiri masa WFH (work from home). Mal juga mulai buka yang membuat masyarakat diminta memperhatikan protokol kesehatan ekstra untuk mencegah penularan virus Corona.
Saat berada di tempat tersebut, salah satu tempat yang mungkin dikhawatirkan adalah lift. Langkah-langkah seperti membatasi jumlah orang yang menggunakannya sudah dilakukan. Tapi karena khawatir, beberapa orang ada yang memilih naik tangga daripada menggunakan lift.

Namun, tak mungkin rasanya bagi mereka yang bekerja di gedung-gedung bertingkat untuk naik tangga. Jadi apakah aman naik lift terlebih jika bersama orang yang berisiko tertular COVID-19?

Studi menyebut penularan Corona di lift sangat minim. Sebagai contoh, pada bulan Maret di Seoul, Korea Selatan, virus Corona terdeteksi di salah satu perkantoran namun hanya menginfeksi satu lantai saja. Penyebarannya tidak vertikal atau menginfeksi lantai lain.

Ini menunjukkan bahwa orang lain yang menggunakan lift yang sama tetapi turun di lantai berbeda tidak menyebarkan virus. Oleh karena itu kemungkinan risiko tertular Corona di lift disebut rendah.

"Risiko (tertular) virus Corona di lift rendah. Namun untuk tindakan pencegahan selalu gunakan masker saat di lift," kata Dr Simone Wildes, spesialis penyakit menular di South Shore Health dikutip dari Medical Daily.

Ada dua hal penting yang harus diperhatikan: penggunaan masker dan waktu yang dihabiskan di lift. Mengenakan masker saat ini adalah hal yang wajib dan sejauh ini tidak ada orang yang tinggal terlalu lama di lift sehingga membuat risiko infeksinya minim.

Namun, karena saat di lift Anda berada di ruangan kecil yang tertutup dengan orang lain, ada langkah konkret yang dapat Anda ambil untuk tetap aman: mengenakan masker, menjauh dari orang lain dan hindari menyentuh apapun.

Lampaui Singapura, Kasus Corona Indonesia Kini Terbanyak se-ASEAN

Pemerintah kembali mengumumkan penambahan kasus virus Corona di Indonesia. Pada Rabu (17/6/2020), terdapat penambahan 1.031 kasus baru virus Corona.
"Hari ini ada penambahan kasus konfirmasi COVID-19 positif sebanyak 1.031 orang sehingga akumulasi positif yang telah kita miliki sebanyak 41.431 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Rabu (17/6/2020).

Jumlah kasus positif virus Corona di Indonesia kini menjadi 41.431. Ini berarti kasus positif Corona Indonesia untuk pertama kalinya menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara (ASEAN).

Jumlah kasus positif virus Corona di Indonesia melampaui Singapura yang selama ini menjadi negara dengan kasus positif Corona tertinggi di ASEAN. Singapura hari ini hanya mencatatkan penambahan 247 kasus baru sehingga total kasus menjadi 41.216.

Indonesia diketahui sudah memeriksa sekitar 559.000 spesimen. Hari ini ada 19.757 spesimen yang diperiksa, semakin mendekati target dari Presiden Joko Widodo yaitu 20 ribu pemeriksaan spesimen per hari.

Mengutip Worldometer, berikut jumlah kasus positif virus Corona di ASEAN pada Rabu(17/6/2020):

Indonesia 41.431 kasus
Singapura 41.216 kasus
Filipina 27.238 kasus
Malaysia 8.515 kasus
Thailand 3.135 kasus
Vietnam 335 kasus
Myanmar 262 kasus
Brunei Darussalam 141 kasus
Kamboja 128 kasus
Timor Leste 24 kasus
Laos 19 kasus
https://cinemamovie28.com/cast/tonita-castro/

Rabu, 17 Juni 2020

Semakin Waspada, Penumpang KRL Bekasi-Kota Pakai Sarung Tangan untuk Pegangan

Sejak pasien positif virus corona COVID-19 terkonfirmasi di Indonesia, tepatnya di Depok, masyarakat semakin ketat menjaga kesehatan. Hal ini juga dilakukan saat menaiki transportasi umum commuter line atau KRL yang memang selalu dipadati penumpang, baik pagi maupun malam hari.
Sampai saat ini, hasil pantauan detikcom penumpang di KRL rute Bekasi - Jakarta Kota via Manggarai masih banyak yang terlihat 'santuy', bahkan tanpa masker. Saat berpegangan pun mereka terlihat santai dan biasa saja.

Tapi, salah satu penumpang wanita cukup menarik perhatian. Ia terlihat menggunakan sarung tangan kain yang biasanya digunakan untuk mengendari motor atau saat kedinginan, dan turun di Stasiun Gondangdia.

Saat berpegangan, ia hanya menggunakan tangan kanan yang tertutup sarung tangan dan masker yang menutupi hidung serta mulutnya. Tangan kiri yang tidak tertutup sama sekali tidak digunakan untuk berpegangan.

Lain halnya dengan penumpang lainnya, Juki. Ia dan sejumlah penumpang lain sama sekali tidak menggunakan masker ataupun alat pelindung yang banyak digunakan saat ini.

"Jauh itu di sana (Depok). Lah kita mah nggak ke sana-sana. Lagi harganya (masker) sekarang mahal banget kan, bisa buat bayar kontrakan sebulan malah," jawabnya padadetikcom sambil tertawa, Kamis (5/3/2020).

Bukan Panic Buying, Ini 5 Hal yang Harus Diperhatikan untuk Cegah Virus Corona

Munculnya kasus virus corona baru di Indonesia banyak membuat sebagian warga panik. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sampai membeli masker, hand sanitizer, dan kebutuhan lainnya dengan jumlah yang begitu banyak.
Sebenarnya bukan itu langkah yang tepat untuk cegah penularan COVID-19. Berikut 5 langkah yang perlu kamu perhatikan untuk cegah virus corona baru, dikutip dari Health:

1. Kenali gejala virus corona COVID-19
Gejala COVID-19 sangat mirip dengan pilek atau flu. Menurut Pusat Pengendalian dan Pecegahan Penyakit AS (CDC), gejala dari virus corona baru meliputi demam, batuk, dan sesak napas. Namun di sebagian kasus ditemukan kalau mereka yang terinfeksi COVID-19 mengalami diare dan muntah satu atau dua hari sebelum muncul demam dan kesulitan bernapas.

COVID-19 memiliki masa inkubasi yang lebih lama, mirip dengan virus corona mematikan lainnya yaitu MERS-CoV. CDC mengatakan bahwa gejala COVID-19 dapat muncul hanya dalam dua hari, atau selama 14 hari, setelah terpapar virus. Bahkan di beberapa kasus ada yang sama sekali tidak menunjukkan gejala yaitu disebut asimtomatik.

2. Waspada bagaimana virus menyebar
Menurut CDC, COVID-19 menyebar antarmanusia melalui droplet atau tetesan yang keluar saat batuk dan bersin dari orang yang terinfeksi. Perlu diingat kalau kontak dekat ini diartikan berada dalam jarak kurang lebih enam kaki. Penelitian baru juga menunjukkan kalau COVID-19 ini dapat menyebar melalui penularan tinja, serta melalui kontak dengan darah orang yang terinfeksi.

3. Batasi perjalanan
COVID-19 telah dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional oleh WHO. Baiknya hindari perjalanan ke tempat di mana pasien COVID-19 terinfeksi.