Rabu, 06 Mei 2020

Intelijen Barat Tepis Trump Soal Virus Corona Rekayasa China

 Laporan intelijen dari negara-negara sekutu Amerika Serikat yang tergabung kelompok Five Eyes menyatakan sangat tidak mungkin virus corona menyebar secara tidak sengaja dari laboratorium di Kota Wuhan, China.

Menurut hasil analisis mereka, virus mematikan tersebut kemungkinan besar berasal dari pasar di China.

Hal itu disampaikan oleh dua pejabat Barat yang bertentangan dengan klaim Presiden AS, Donald Trump, dan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo.


Aliansi intelijen Five Eyes terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, serta negara dari badan intelijen pro AS di dunia.

"Kami pikir sangat tidak mungkin itu kecelakaan, (tapi) sangat mungkin itu terjadi secara alami dan infeksi ke manusia berasal dari interaksi manusia dan hewan secara alami," kata seorang pejabat diplomatik Barat yang memiliki informasi intelijen.

Penilaian dari anggota kelompok intelijen tersebut mematahkan klaim Trump dan Pompeo di beberapa hari terakhir, karena mereka sangat yakin jika wabah itu berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, dan bukan dari pasar ikan.

Hal ini kemungkinan akan meningkatkan tekanan kepada Trump untuk memberi bukti pendukung klaimnya yang sejauh ini belum dilakukan, meskipun Trump dan semakin para diplomatnya semakin gencar berkomentar, seperti dilansir CNN, Selasa (5/5).

Sumber ketiga juga datang dari negara Five Eyes mengatakan kepada CNN bahwa pihaknya mengakui bahwa masih ada kemungkinan virus itu berasal dari laboratorium, tapi ia memperingatkan untuk tidak membenarkan teori tersebut.

Sumber itu menambahkan dari hasil analisis saat ini virus tersebut berasal dari pasar, tetapi belum diketahui bagaimana virus itu bisa sampai di pasar.

Tanpa ada kerja sama dan keterbukaan dari China, ia tidak bisa memberikan kepastian total. AS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait keterangan itu kepada publik.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah National Geographic yang diterbitkan pada Senin kemarin, pakar penyakit menular AS, Dr. Anthony Fauci, mengatakan ia tidak percaya virus itu berasal dari laboratorium.

"Jika Anda melihat evolusi virus pada kelelawar dan apa yang ada di luar sana sekarang, (bukti ilmiah) sangat, sangat condong ke arah ini. Tidak mungkin secara artifisial (buatan) atau sengaja dimanipulasi. Segala sesuatu tentang evolusi bertahap dari waktu ke waktu sangat menunjukkan bahwa (virus ini) berevolusi di alam lalu berpindah ke spesies" kata Fauci kepada majalah itu.

Komunitas intelijen AS menerbitkan pernyataan pada Kamis pekan lalu bahwa pihaknya masih bekerja untuk mencari tahu apakah wabah itu dimulai lewat kontak dengan hewan yang terinfeksi, atau akibat dugaan kecelakaan di laboratorium di Wuhan, serta mengatakan bahwa virus Covid-19 bukan buatan manusia atau dimodifikasi secara genetik.

Pada Senin kemarin, sebuah tabloid milik Partai Komunis China menolak klaim pemerintahan Trump bahwa virus corona berasal dari sebuah laboratorium.

Menanggapi komentar Pompeo tentang bukti besar untuk mendukung teorinya, surat kabar Global Times milik pemerintah China mengatakan dalam sebuah editorial bahwa mantan Direktur Badan Intelijen AS (CIA) itu telah mengejutkan dunia dengan tuduhan yang tidak berdasar.

"Karena Pompeo mengatakan klaimnya didukung oleh 'bukti yang sangat besar,' maka dia harus menyajikan apa yang disebut bukti ini kepada dunia, dan terutama kepada publik Amerika yang terus-menerus dia bodohi," demikian isi editorial itu.

China telah menghadapi kritik di dalam dan luar negeri atas penanganan virus tersebut, terutama di awal wabah. Negara itu dituduh membungkam pelapor dan menunda memberi tahu masyarakat tentang parahnya krisis.

Akan tetapi, para kritikus menuduh pemerintahan Trump berupaya menyalahkan China atas penyebaran virus ini secara global, untuk menutupi kritik atas penanganan pandemi corona di AS.

Hingga saat ini, AS telah mencatat lebih dari 1,1 juta kasus virus corona dan setidaknya 68.000 kematian terkait dengan Covid-19. 

China Sebut RI Akan Menang Lawan Corona Secepat Mungkin

Pemerintah China meyakini bahwa Indonesia bisa segera mengendalikan pandemi virus corona (Covid-19).

Melalui kedutaan besar di Jakarta, China menganggap pemerintahan Presiden Joko Widodo telah menerapkan kebijakan secara komprehensif dan menanggapi wabah secara ampuh.

"Pihak Tiongkok percaya Indonesia akan menangkan epidemi secepat mungkin. Kami dengan tulus ikhlas mengapresiasi upaya Indonesia dan sangat percaya (Indonesia) pasti dapat segera mungkin mengatasi epidemi dan memulihkan tatanan ekonomi dan sosial yang normal," kata Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian dalam jumpa pers virtual tentang pencegahan dan pengendalian Covid-19 pada Selasa (5/5)

Tak hanya dari kebijakan pemerintah, Xiao menilai masyarakat Indonesia menunjukkan tekad dan keyakinan kuat untuk mengatasi penyebaran corona.

Menurut Xiao, China menganggap pemerintahan Jokowi terbuka, transparan, dan bertanggung jawab dalam melindungi seluruh warga negara dan warga asing di Indonesia dari penularan corona.

Kata dia, pemerintah Indonesia menunjukkan citra terbuka, transparan dan bertanggung jawab dengan melakukan kerja sama internasional secara aktif, memberikan perlindungan setara terhadap warga negara asing di Indonesia, serta menyediakan fasilitas bagi para diplomat dan anggota keluarga untuk mengunjungi dokter. 

Xiao menegaskan Presiden Xi Jinping bertekad akan terus memberi dukungan dan bantuan bagi Indonesia dalam menghadapi virus corona.

China telah mengirimkan gelombang pertama bantuan medis bagi Indonesia pada 28 Maret lalu yang meliputi alat tes corona, masker medis, pakaian APD, dan ventilator. 

Xiao menyebut China akan segera mengirimkan bantuan gelombang kedua ke Indonesia dalam waktu dekat. Ia mengatakan sejumlah provinsi dan kota hingga perusahaan di China juga telah atau berencana mengulurkan bantuan bagi Indonesia.

"Pihak Tiongkok sedang berkomunikasi erat dengan pihak Indonesia mengenai bea cukai, transportasi, dan serah terima persediaan medis," ujarnya.

Dia mengatakan sejauh ini China telah atau bersiap menyumbangkan 163 ribu alat tes corona, 123 ribu masker N95, 3,5 juta masker bedah medis, 144 ribu pakaian APD, 25 ribu kacamata pelindung, 528 ribu sarung tangan, 50 set ventilator portabel, ratusan termometer dahi, pulse oksimeter, dan beberapa alat diagnostik dengan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligent).

Selain bantuan logistik, Xiao mengungkapkan China terus memperkuat pertukaran informasi soal penanganan corona degan Indonesia.

Angka kematian akibat corona di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. 

Intelijen Barat Tepis Trump Soal Virus Corona Rekayasa China

 Laporan intelijen dari negara-negara sekutu Amerika Serikat yang tergabung kelompok Five Eyes menyatakan sangat tidak mungkin virus corona menyebar secara tidak sengaja dari laboratorium di Kota Wuhan, China.

Menurut hasil analisis mereka, virus mematikan tersebut kemungkinan besar berasal dari pasar di China.

Hal itu disampaikan oleh dua pejabat Barat yang bertentangan dengan klaim Presiden AS, Donald Trump, dan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo.


Aliansi intelijen Five Eyes terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, serta negara dari badan intelijen pro AS di dunia.

"Kami pikir sangat tidak mungkin itu kecelakaan, (tapi) sangat mungkin itu terjadi secara alami dan infeksi ke manusia berasal dari interaksi manusia dan hewan secara alami," kata seorang pejabat diplomatik Barat yang memiliki informasi intelijen.

Penilaian dari anggota kelompok intelijen tersebut mematahkan klaim Trump dan Pompeo di beberapa hari terakhir, karena mereka sangat yakin jika wabah itu berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, dan bukan dari pasar ikan.

Hal ini kemungkinan akan meningkatkan tekanan kepada Trump untuk memberi bukti pendukung klaimnya yang sejauh ini belum dilakukan, meskipun Trump dan semakin para diplomatnya semakin gencar berkomentar, seperti dilansir CNN, Selasa (5/5).