Senin, 06 April 2020

Ingin Main Lagi ke Sukabumi (2)

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika kami sudah mendekati Danau. Langit yang semakin mendung nampaknya membuat Danau tidak seramai dua tempat sebelumnya yang kami kunjungi. Benar saja, baru mengambil beberapa foto, tetesan air sudah mengenai badan kami dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali menuju hotel.

Malam harinya kami menuju Jalan Ahmad Yani. Menikmati hangatnya sekoteng Singapore bersama dengan pisang goreng pandan dan tahu genjrot serta tak lupa membeli kue Bandros Atta yang sangat terkenal disana. Malam berlalu dengan perut yang penuh oleh makanan yang memuaskan lidah kami.

Hari kedua kami sempat bingung menghabiskan waktu kemana setelah rencana ke Goa Buni Ayu terpaksa dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung. Padahal kami sudah memesan tiketnya. Akhirnya sebelum makan siang kami memutuskan untuk pergi ke Taman Rekreasi Selabintana.

Hamparan rumput hijau yang luas disertai pohon-pohon tinggi yang tumbuh subur belum lagi udara yang sejuk, cocok untuk liburan keluarga. Cukup membawa tikar atau bisa juga menyewa, dijamin semilir angin akan membuat betah berlama disini. Jangan lupa untuk melihat tanaman-tanaman hias yang dijual sebelum pintu masuk ketika pulang.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi Wisata Bukit Baros setelah sebelumnya kami menikmati makan siang di bakmi Cacaw. Sampai di Bukit Baros sekitar pukul 14.00 dan cuaca terlihat mendung. Sepanjang jalan menuju area parkir, hamparan pohon pinus seperti menyambut kami, belum lagi terlihat spot-spot foto didalamnya. Itu membuat teman-teman saya begitu antusias.

Banyak yang bisa dinikmati di wisata Bukit Baros. Ada batu-batu yang diwarnai di pinggiran sungai, ada kolam renang, ada spot-spot fotogenik di bukit Pinus dan tidak ketinggalan Pabrik Keju. Sayangnya kami tidak masuk ke dalam Pabrik Keju. Rintik hujan membuat kami harus menyudahi bermain di wisata Bukit Baros. Beruntung semuanya sudah puas mengambil foto. Sebelum pulang kami sempat membeli yoghurt dan keju yang diproduksi oleh pabrik keju baros.

Malam terakhir di Sukabumi kami habiskan dengan mencoba beberapa makanan. Kami menikmati bubur ayam Odeon yang terkenal, lalu kami lanjutkan ke Kedai Serabi Durian yang berada di Jalan Sudirman. Belum terasa kenyang, kami juga membeli piscok Cakra yang punya slogan coklatnya meledak di dalam mulut. Setelah puas menikmati makanan, kamipun memutuskan kembali ke hotel karena masih harus packing, bersiap untuk pulang ke Jakarta.

Keesokan paginya sebelum pergi ke stasiun kami menyempatkan untuk membeli mochi, untuk cemilan di kereta dan oleh-oleh pastinya. Sepertinya dua malam di Sukabumi belum cukup apalagi kami belum mencoba explore Goa Buni Ayu. Lain kali saya akan kembali menjelajah Sukabumi.

Bahkan beberapa pengunjung kembali tidak melanjutkan sampai ke ujung. Perasaan takut itu perlahan hilang setelah melihat pemandangan pepohonan hijau yang menyejukkan dari ketinggian 161 meter. Bahkan kami sempat berfoto untuk mengabadikan keseruan berjalan diatas ketinggian 161 meter.

Selesai dengan Suspension Bridge, kami melanjutkan menuju Curug Sawer. Derasnya air terjun yang jatuh membuat pelangi dibagian bawah curugnya. Udara yang dingin serta cipratan air terjun sangat menyegarkan bagi pengunjung. Setelah berhasil mengambil beberapa foto, kami beristirahat sejenak sambil menikmati sosis bakar lalu melanjutkan menuju Danau.

PELNI Berikan Transportasi Gratis untuk Tenaga Medis

PT Pelayaran Nasional Indonesia (PT PELNI) menyediakan bus gratis untuk antar jemput tenaga medis sebagai gugus depan penanganan Corona.
Dalam mendukung dan membantu mobilisasi para tenaga medis dalam menangani COVID-19, PT PELNI (Persero) bersama dengan dua anak usahanya, yaitu PT SBN dan PT PIDC menyediakan sarana armada bus sebagai transportasi antar-jemput bagi tenaga medis yang bekerja di Rumah Sakit PELNI, Jakarta.

Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT PELNI (Persero), Yahya Kuncoro, menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan dukungan terhadap tenaga medis yang bekerja di RS PELNI.

"Saat ini salah satu anak usaha PELNI yang bergerak di bidang kesehatan (RS PELNI) telah ditunjuk oleh pemerintah sebagai salah satu rumah sakit rujukan dalam menangani Covid-19 di Jakarta. Kami semua berharap dengan adanya bantuan transportasi ini dapat memudahkan pergerakan para tenaga medis dari dan menuju rumah sakit," kata Yahya yang tercantum dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (6/4/2020).

Bantuan transportasi antar jemput bagi tenaga medis RS PELNI juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penularan COVID-19 yang mungkin terjadi apabila tenaga medis RS PELNI menggunakan transportasi publik serta memberikan waktu bagi tenaga medis untuk beristirahat selama perjalanan.

"Sebagai garda terdepan dalam penanganan COVID-19, para tenaga medis juga harus memperhatikan kondisi tubuh agar tetap fit saat merawat pasien," tambahnya.

PT Rumah Sakit PELNI merupakan salah satu anak usaha milik PT PELNI (Persero) yang bergerak pada bidang kesehatan. Sejak 16 Maret 2020, RS PELNI ditunjuk sebagai salah satu Rumah Sakit rujukan penanganan COVID-19 di Jakarta dan menyediakan 100 ruangan yang dikhususkan untuk merawat pasien PDP dan pasien positif COVID-19.

PELNI sebagai Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak pada bidang transportasi laut hingga saat ini telah mengoperasikan sebanyak 26 kapal penumpang dan menyinggahi 83 pelabuhan serta melayani 1.100 ruas.

PELNI juga melayani 45 trayek kapal perintis yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di daerah T3P dimana kapal perintis menyinggahi 275 pelabuhan dengan 3.739 ruas.

PHRI: Hotel Tidak Pas Kalau Jadi Tempat Tinggal Tenaga Medis

Kebijakan Kemenparekraf menjadikan hotel sebagai tempat tinggal tenaga medis dinilai tidak pas karena hanya melibatkan hotel tertentu dan fungsi hotel berbeda dengan rumah sakit.
Belakangan ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng sejumlah hotel untuk menyediakan tempat tinggal bagi tenaga medis yang menangani Corona. Mengenai kebijakan tersebut, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pun angkat bicara.

"Menurut saya melakukan itu oke tapi kalau Kementerian Pariwisata yang melakukan itu, menurut saya ya nggak pas aja," kata Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran kepada detikcom.

Maulana menjelaskan sejumlah alasan ketidaktepatan kebijakan yang diambil oleh Kemenparekraf tersebut. Maulana juga mempertanyakan seberapa besar kemampuan Kemenparekraf dalam membantu industri perhotelan dengan cara tersebut.

"Sampai berapa kuat dia akan menolong pelaku usaha yang sudah 1.100 sekian usahanya itu yang tutup dan akan terus bertambah. Toh bukti yang ada kan cuma beberapa hotel saja yang diajak," ujarnya.

Sampai saat ini, sejumlah hotel yang telah bekerja sama dengan Kemenparekraf adalah Novotel Cikini, Mercure Cikini, Ibis Styles Jakarta Sunter, Ibis Senen, dan Swiss-Belhotel Pondok Indah.

Selain itu, Maulana juga mengkritisi sisi keamanan hotel yang awalnya didesain sebagai tempat singgah biasa, bukan sebagai rumah sakit yang sudah punya standar kesehatannya sendiri.