Kamis, 27 Februari 2020

Yang Baru di Ciamis, 'Hotel' Buat Domba

Ada destinasi wisata baru di Ciamis, namanya Pangangonan Farm. Uniknya tempat ini menyediakan 'hotel' khusus untuk menginap ternak domba.

Pangangonan Farm di Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat baru diresmikan pada pertengahan Januari 2019. Destinasi baru ini dikelola oleh BUMdes setempat khusus untuk dijadikan wisata alternatif bagi masyarakat.

Seperti konsep awal, tujuan dibangunnya Pangangonan Farm ini untuk wisata edukasi. Baik bagi para siswa Paud, TK, SD, lembaga pendidikan lainnya maupun masyarakat umum.

Nah, Pangangonan Farm ini punya Hotel Domba. Memang bukan bangunan hotel seperti pada umumnya, melainkan kandang domba berukuran panjang. Fungsinya untuk penitipan hewan ternak dengan sistem investasi. Jadi warga yang ingin beternak domba tapi tak memiliki kandang, bisa dititip di 'hotel' domba ini.

Lamanya penginapan sekitar 100-120 hari, sampai domba layak dijual. Tahap awal ini, ruang yang tersedia berkapasitas 35 ekor. Nantinya pemilik modal akan memperoleh bagian 40 persen, kemudian 40 persen untuk BUMdes dan 20 persen untuk sewa 'hotel'.

Wisatawan yang datang kemari bisa berkeliling sekitar peternakan dan bertemu domba-domba yang ada. Domba yang dititip di sini diberi nama unik, yakni nama bunga atau buah dalam bahasa Sunda.

"Anak-anak sekarang sudah jarang yang mengetahui nama-nama bunga atau buah dalam bahasa Sunda. Jadi kami edukasi melalui nama domba yang dititipkan ini," jelas Pengelola Pangangonan Farm Aep Saepudin saat ditemui detikTravel di lokasi, Rabu (13/2/2019).

Aep menjelaskan, di tempat wisata ini anak-anak juga dikenalkan tata cara beternak domba. Selain itu juga diajarkan bercocok tanam sayuran dan palawija dengan praktik langsung. Sehingga pengelola menyediakan lahan hingga 3,5 hektar. Nantinya hasil dari tanaman tersebut bisa dinikmati oleh penanamnya saat berkunjung kembali ke tempat tersebut.

"Ada juga beberapa saung untuk bersantai, permainan tradisional anak masa kecil seperti perosotan dari bambu dan kawung, ayunan, jungkitan dari kayu, egrang dan bakiak. Di sini semua serba tradisional, untuk nostalgia. Karena di era modern saat ini sudah sangat jarang anak-anak memainkan permainan tradisional," tuturnya.

Menurut Aep, sejak dibuka pada pertengahan Januari lalu, antusiasme warga cukup tinggi. Terutama pada Sabtu-Minggu pengunjung dari anak-anak TK, PAUD cukup banyak. Untuk wisata kemari tak dipatok biaya, tapi kalau mau wisatawan bisa ikut menyumbang untuk biaya perawatan kebersihan.

"Untuk masuk ke lokasi wisata gratis, tapi kami sediakan kotak amal bagi yang ingin mengisi silahkan. Nanti itu untuk perawatan kebersihan," terang Aep.

Menteri BUMN Bakal Buka Chocolate Glenmore Run di Banyuwangi

Akhir pekan ini akan ada acara asyik di Banyuwangi. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka event wisata olahraga Chocolate Glenmore Run.

Selama dua hari, 16-17 Februari 2019, di Doesoen Kakao Banyuwangi akan digelar Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling, dan Chocolate Jazz and Food Festival. Menteri BUMN Rini Soemarno akan membuka Chocolate Glenmore Run, sebagai event pembuka.

Dikatakan Kabag Humas Setda Banyuwangi Djuang Pribadi, Menteri Rini akan hadir dalam kompetisi lari yang menyuguhkan trek perkebunan kakao di kawasan Glenmore Banywuangi.

"Bu Menteri Rini yang didampingi sejumlah pejabat BUMN akan hadir dalam Chocolate Glenmore Run, bahkan rencananya beliau akan ikut berlari bersama peserta," kata Djuang, Jumat (15/2/2019).

Event lari tersebut akan dimulai pukul 06.00 WIB di Doesoen Kakao, sebuah kawasan wisata yang terdapat pabrik pengolahan coklat yang lokasinya berada di perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer. Kompetisi lari tersebut akan diikuti 1.000 peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan terdapat dua pelari asing asal Kenya yang turut bertanding dalam kompetisi ini.

Sampah dan Limbah, Momok Wisata Berkelanjutan di Pantai Sanur (2)

Tak hanya keluhan soal sampah maupun bau, pengelola Sanur juga mengaku kesulitan berhadapan dengan birokrasi. Salah satunya soal izin penggunaan mobil listrik yang minim polusi sebagai kendaraan wisata di Sanur.

"Kami sudah minta izin ke Dishub Provinsi tapi masih terkendala izin operasi, karena regulasi di Denpasar maupun nasional sepertinya belum ada. Kita minta izin Dishub mobil ini kita gunakan di wilayah Danau Tamblingan nggak bisa nyeberang by pass," tutur Biro Sosial Lingkungan Yayasan Pembangunan Sanur, Wayan Parka.

Menanggapi itu, Tenaga Ahli Menteri Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Valerina Daniel menuturkan hasil FGD ini bakal dia olah menjadi program kerja Maret 2019. Dalam waktu dekat ini, Kemenpar juga akan mengundang para bupati daerah STD, dan Monitoring Center for UNWTO Sustainable Tourism Observatories (MCSTO) untuk meneken MoU tentang wisata berkelanjutan ini.

"Setelah itu kita akan membuat rapat kerja dalam rangka untuk menentukan dari 9 isu utama dari UNWTO untuk diteliti kita akan mengutamakan yang mana dari kondisi MCSTO yang ada dan permasalahan krusial di Indonesia. Dari situ kita akan mengadakan juknis MCSTO, teknologinya, kemudian kita juga menyiapkan langkah konkret berupa self assestment buat masing-masing MCSTO sehingga tiap tiga bulan mereka bisa self assesment, sehingga pada bulan keenam kita melihat self assesment apakah masalah itu masih menjadi yang utama, setelah itu di akhir tahun kita akan membuat laporan komprehensif ke UNWTO," urainya.

"Intinya kita berusaha mencoba jawab 9 persoalan UNWTO, waste management, limbah cair, kepuasan pengunjung, manajemen ekonomi lokal, kemudian renewable energy. Jadi permasalahan ini kita akan coba diskusikan bersama sehingga bisa ditentukan mana yang prioritas," sambungnya.

Terkait temuan di Sanur, Kemenpar bakal mendorong koordinasi antara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dengan Dinas Pariwisata. Valerina menambahkan Kemenpar juga berusaha memenuhi rekomendasi UNWTO untuk menggunakan geo reference berupa teknologi digital.

"Dari situ kita bisa mengetahui sebenarnya sumber sampah dari mana, supaya kita tahu, metodologinya itu sekarang kita lagi rancang menggunakan metodologi yang sudah dilakukan Kemenpar. Tapi ini masih dalam proses, tapi kita berusaha membuat satu sistem UNWTO teknologi digital. Jadi bentuknya seperti apa ini masih tahap diskusi dan mudah-mudahan ke depannya bisa diimplementasi untuk membantu mengatasi (permasalahan) tadi," ujar Valerina.

Dia berharap dengan pemetaan ini, Kemenpar bisa menyusun program-program yang sesuai dengan masalah di tiap daerah. "Jadi kita lagi mencoba menentukan isu utama teknologi mana yang tepat diaplikasikan di daerah tersebut," cetusnya.

Acara FGD ini dihadiri pengurus Yayasan Pembangunan Sanur yaitu Putu Suanta sebagai sekretaris, Ketut Sudira sebagai Ketua III dan Ida Bagus Wisnu Diwangkara sebagai biro pariwisata. Dari Kemenpar dihadiri Kabid Perencanaan dan Strategi, Yuyanti. 

Hanya saja, saat ini yang menjadi masalah adalah penumpukan antrean truk sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Sarbagita Suwung. Tak hanya itu, bau tidak sedap dari TPA itu bahkan juga tercium hingga ke Sanur.

"Kalau angin dari barat itu baunya tercium sampai di sini (Sanur). Antrean membuang sampah ke TPA juga panjang jadi menambah biaya (transport dan waktu tunggu)," ujar Bendahara Umum Yayasan Pembangunan Sanur, Susi Darmayanti.