Senin, 24 Februari 2020

Kisah Inspirasi 7 Pendaki Buta Naik Gunung Kilimanjaro

Gunung Kilimanjaro di Tanzania merayakan momen spesial. 50 Tahun lalu ada 7 pendaki buta mendaki ke puncaknya, dan menjadi inspirasi kaum disabilitas.

Pendaki buta di sini bukan buta arah atau pendaki amatir. Mereka adalah pendaki disabilitas yang mampu mendaki atap tanah airnya di Benua Afrika, Gunung Kilimanjaro.

Melansir BBC, Jumat (22/2/2019), pada tanggal 20 Februari 1969, tujuh pendaki buta dan empat temannya telah menyelesaikan perjalanan yang sulit menuju puncak kawah Gunung Kilimanjaro, Tanzania. Gunung ini memiliki tinggi 5.885 mdpl atau puncak keempat dalam Seven Summit gunung tertinggi dunia.

Kelompok ini membutuhkan waktu selama 9 jam untuk menempuh jarak 9.843 meter terakhir, berjuang melawan angin kencang dan suhu beku. Tujuannya ke tempat di mana pesawat Fokker F27 Friendship berputar-putar mengamati pendaki itu sebagai bentuk penghormatan.

Ekspedisi ini digagas oleh John Wilson, pendiri amal Sightsavers. Tujuannya untuk membantu menciptakan citra baru bagi para penyandang kebutaan di Afrika dan menunjukkan bahwa orang-orang buta yang terlatih memiliki stamina mental dan fisik untuk mencapai tujuan yang tepat.

Pendaki buta ini memulai perjalanannya pada malam hari di tanggal 19 Februari pukul 20.00. Setelah tidur di sebuah gua dan melewati pendakian yang curam juga berbatu di hari itu, salah satu pendaki harus menyerah.

Di hari itu ada yang mengalami sakit di kakinya dan bersusulan dua orang mulai sakit ketinggian. Hal itu dijelaskan oleh Geoffrey Salisbury dari Royal Commonwealth Society for the Blind, bentuk organisasi Sightsavers saat ini.

Seperti yang dialami pendaki kebanyakan, para pendaki itu menderita wajah terbakar karena sinar matahari langsung. Tak sia-sia, meski buta, mereka mampu menemukan salju pertamanya dan memanjat bebatuan hingga memecahkan es raksasa.

Para pendaki ini sebelumnya telah dipilih dari ratusan sukarelawan dari Kenya, Uganda dan Tanzania. Mereka telah menjalani program pelatihan dua minggu yang meliputi panjat tali, berkemah saat malam dan menguasai penggunaan peralatan gunung.

Perjalanan itu juga diliput di halaman depan surat kabar di Afrika dan semua pendaki Gunung Kilimanjaro ini menerima sambutan bak pahlawan. Tiga pasang sepatu bot usang mereka ditampilkan di Museum Nasional Uganda.

Bagaimana menurut traveler, keren bukan? 

Yang Wajib Dilakukan di Negeri Sakura, Main Ski

Liburan musim dingin wajib dinikmati dengan main salju, apalagi kalau ke Jepang. Liburan maksimal di Kota Hiroshima enaknya sambil main ski.

Kota Hiroshima di Jepang menawarkan sejumlah wisata menarik untuk dijelajahi. Selain wisata sejarah, Hiroshima juga punya destinasi ski yang jadi favorit saat musim dingin tiba, Megahira Ski Resort.

Bersama dengan Japan Airlines, detikTravel datang dan bermain ski di Megahira Ski Resort. Bertempat di dekat kawasan Gunung Megahirayama, tempat ski ini selalu ramai pada akhir pekan.

Awak detikTravel mencoba untuk menjajal ski di tempat ini. Baru pertama kali, rupanya bermain ski susah-susah gampang.

Hal pertama yang mesti traveler lakukan adalah menyewa perlengkapan ski. Mulai dari topi, kacamata, sarung tangan, jaket, celana, sepatu, papan ski dan tongkat. Pemilihan alat pun tak boleh sembarangan.

Traveler harus memilih pakaian yang nyaman untuk bisa bergerak. Karena saat main ski, kamu dijamin berkeringat.

Sepatu harus dipasang dengan ketat di bagian betis. Sehingga meminimalisir terjadinya cedera saat latihan atau jatuh.

Sudah siap dengan perlengkapan? Sekarang saatnya berlatih main ski. Chikako Taniguchi, dari Megahira Ski Resort, menjadi pelatih dan memberikan instruksi untuk melakukan pemanasan sebelum latihan.

Alat-alat yang dibawa diletakkan di tempat yang telah disediakan. Sehingga tidak tercecer dan membahayakan pengunjung lainnya.

Pemanasan dilakukan dengan melakukan gerakan dasar untuk perenggangan. Mulai dari kepala, bahu, tangan dan kaki, dilemaskan agar tidak kaku.

Setelah itu, Chikako memberi instruksi untuk memasang sepatu ke papan ski. Caranya, ujung sepatu dimasukkan terlebih dahulu, kemudian injak bagian belakang papan. Kamu bisa memakai sepatu sambil berdiri, namun butuh keseimbangan kalau belum terbiasa.

Untuk bisa bermain ski, ada dua dasar posisi yang harus dipahami dengan baik. Ada posisi seluncur dan rem, ini wajib dikuasi untuk bisa bermain ski bagi pemula.

"Saat meluncur badan harus tegak, buka kaki dan tangan," ujar Chikako.

Untuk posisi rem, kaki harus dibuat dengan posisi pizza. Ujung papan ski menyempit sedangkan bagian belakang dibuka lebar. Posisi lutut menekuk sedikit dan tarik badan ke arah bawah.

"Perlahan saja, jangan takut," tutur Chikako saat melatih.

Minggu, 23 Februari 2020

Kenali Jakarta Lebih Dekat di Museum Fatahillah

Wajib mengunjungi Museum Fatahillah jika berkunjung ke Kawasan Kota Tua Jakarta. Di sini kita bisa mengetahui sejarah Kota Jakarta. Yuk!

Museum Fatahillah yang memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta terletak di Kawasan Kota atau tepatnya di Jalan Taman Fatahillah No.1 Jakarta Barat. Jujur ini merupakan pertama kalinya saya berkunjung ke dalam Museum Fatahillah walaupun beberapa kali berkunjung ke Kawasan Kota Tua. Museum yang memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi ini cukup membuat kita mendapatkan banyak pengetahuan khususnya tentang Jakarta pada zaman dahulu.

Dahulu ketika Jakarta masih di bawah pemerintahan Belanda, Museum Fatahillah dimanfaatkan sebagai balai Kota Batavia atas perintah Gubernur-jendral Joan Van Hoorn. Maka tidak heran jika bangunan museum ini menyerupai Istana Dam di Amstredam.

Namun setelah Indonesia merdeka, bangunan ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 dan sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan hanya memamerkan benda-benda yang berasal dari periode Batavia tetapi juga harus bisa menjadi tempat untuk menambah pengetahuan bagi semua kalangan usia. Terutama untuk anak-anak yang sebaiknya diajarkan untuk mencintai museum sejak dini. Museum ini memiliki nama lain Museum Fatahillah disebabkan karena lokasinya yang berada di Jalan Taman Fatahillah.

Orang-orang yang datang ke Kawasan Kota Tua ini biasanya hanya memanfaatkan halaman depan Museum Fatahillah untuk berfoto-foto karena memang menjadi salah satu daerah di Jakarta yang instagramable. Namun hal itu sebenarnya sangat disayangkan karena untuk memasuki museum ini, pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak.

Hanya dikenakan biaya Rp 2.000 untuk anak-anak serta pelajar dan Rp 5.000 untuk dewasa. Harga yang sangat murah jika dibandingkan dengan begitu banyaknya pengetahuan yang akan didapat dari museum ini. Museum Fatahillah ini juga dibuka sejak hari Selasa hingga hari Ahad (Minggu) mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Saat saya berkunjung ke sini, saya bersyukur karena pengunjungnya banyak hingga harus antri untuk masuk ke dalam Museum Fatahillah. Tidak hanya wisatawan dalam negeri tapi juga ada beberapa wisatawan luar negeri yang terlihat sangat antusias ketika memasuki museum.

Bagian dalam Museum Fatahillah memiliki desain neoklasik dengan dominasi cat berwarna kuning tanah. Kusen pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati berwarna hijau tua. Perpaduan keduanya membuat kita terasa seperti di Jakarta tempo dulu.

Namun semakin ke dalam, ruangan terlihat berbeda dengan sentuhan desain yang lebih moderen seperti terdapat lukisan dinding yang sangat besar, kotak penyimpanan koleksi Museum Fatahillah yang dilengkapi lampu LED juga suasana setiap ruangan yang memiliki khas masing-masing.

Di antaranya ada beberapa ruangan yang dilengkapi dengan penjelasan berupa video yang ditayangkan di dinding museum menggunakan proyektor. Menurut saya, hal itu sangat bermanfaat dan menarik sekali terutama bagi anak-anak sehingga mereka tidak akan merasa bosan ketika berada di dalam Museum Fatahillah.

Namun di sini yang masih harus diperbaiki adalah suara yang dihasilkan tidak terlalu jelas sehingga sedikit membuat bingung pengunjung yang sedang melihat tayangan tersebut. Hal ini bisa menjadi bahan evaluasi agar Museum Fatahillah dapat selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk pengunjungnya.

Setelah puas berkeliling di dalam Museum Fatahillah, akhirnya saya keluar museum yang ternyata masih terdapat tempat menarik di bagian belakang museum ini. Seperti ruangan-ruangan yang dahulu dijadikan sebagai penjara bagi para tahanan hingga sebuah sumur yang ukurannya cukup besar.

Bagian belakang dari Museum Fatahillah ini juga tidak kalah instagramable dibandingkan dengan bagian depan museum sehingga saya pun tidak lupa untuk mengabadikannya.

Puas rasanya setelah mengunjungi Museum Fatahillah ini. Walaupun saya tidak berasal dari Jakarta tapi saya mendapatkan banyak pengetahuan mengenai sejarah ibu kota Indonesia dengan mengunjungi museum ini. Karena hari masih siang saya berencana melanjutkan ke destinasi selanjutnya yang tidak terlalu jauh dari sini.

Jika destinasi yang kita rencanakan letaknya tidak berjauhan, kita dapat menyewa mobil melalui aplikasi tiket.com karena #semuaadatiketnya. Ternyata tiket.com tidak hanya dapat digunakan untuk memesan tiket pesawat, kereta api dan hotel tapi juga tiket event-event tertentu hingga jasa penyewaan mobil yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Mulai dari berapa lama kita akan menyewa, jenis-jenis mobil yang sesuai dengan budget dan jumlah penumpang, hingga layanan untuk memilih plat nomor ganjil atau genap. Jadi segera install aplikasi tiket.com untuk mendapatkan berbagai kemudahan untuk keperluan perjalanan kita, karena #semuaadatiketnya di tiket.com.