Rabu, 19 Februari 2020

Ini Lho Kembaran Stonehenge di Bondowoso

 Tak perlu jauh-jauh ke Inggris untuk melihat Stonehenge. Bondowoso juga punya susunan batuan yang mirip seperti Stonehenge.

Stonehenge adalah monumen prasejarah di Wiltshire, Inggris. Namun, tahukah traveler bahwa ada kembarannya di Bondowoso?

'Stonehenge' di Bondowoso itu berjuluk Betoh So'on. Nama ini diambil dari dari bahasa lokal warga setempat, yaitu Madura. Betoh (batu), So'on (sunggi, atau membawa barang ditaruh dikepala). Jadi, Batu So'on artinya adalah batu yang bertumpuk-tumpuk seperti disunggi.

Betoh So'on terletak di Desa Solor, Kecamatan Cermee, Bondowoso. Kawasan yang kini tengah dikembangkan menjadi tempat wisata di Bondowoso ini berjarak sekitar 40 km atau dua jam perjalanan dari pusat kota.

Tak terlalu sulit untuk mencapainya. Baik menggunakan motor dan mobil. Sebab, akses menuju lokasi tersebut sudah beraspal mulus. Meski di beberapa titik terdapat tanjakan dan turunan serta jalan berkelok-kelok. Tempat ini bisa jadi destinasi baru untuk liburan akhir pekan.

Jalan menuju ke lokasi juga berupa jalan desa yang ada di tengah perkampungan penduduk dan terlihat masih asri. Sepanjang jalan didominasi hamparan sawah dan ladang yang menghijau. Di beberapa kawasan terdapat hutan serta sungai berbatu yang mengalir jernih.

Ada dua cara menuju Batu So'on. Bisa dimulai dari Bondowoso atau Situbondo. Perjalanan dari dua titik ini bertemunya sama, di pertigaan jalan raya Prajekan. Setelah pertigaan, traveler bisa langsung menuju lokasi melalui Cermee. Dari pertigaan Prajekan jaraknya sekitar 22 km. Maka, sampailah ke lokasi.

Begitu menasuki kawasan Solor, panorama indah sudah mulai terbentang. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah gugusan bukit berbatu setinggi 15-30 meteran. Batu-batu tersebut tersusun rapi menumpuk ke atas seolah ditata.

Batuan jenis andesit tinggi menjulang bak menara itu letaknya memang di dasar lembah. Panorama hanya bisa dinikmati dari atas bukit. Tapi jika mau, pengunjung bisa menuruni lembah curam tersebut, lalu dilanjutkan dengan menyusuri hamparan rumput ilalang dan semak hingga mendekat ke gugusan batu.

Sampai saat ini belum ada yang memastikan, bagaimana asal muasal batuan itu hingga tertata sedemikian rupa. Namun, diperkirakan batuan itu tersusun secara alami sejak ribuan tahun yang lalu.

Belakangan, pemerintah daerah setempat mulai membangun sarana prasarana di lokasi tersebut. Pembangunan dilakukan untuk mendukung tempat wisata di Bondowoso yang kini kerap disebut Stonehenge van Java itu.

Sarana penunjang itu antara lain sejumlah fasilitas umum, gardu pandang, serta sejumlah spot khusus untuk berswofoto. Tempat ini relatif aman karena sengaja dibuat dari beton yang sisi kanan dan kirinya berpagar besi. Lokasinya juga dibuat agak menjorok ke arah lembah, agar wisatawan bisa lebih leluasa untuk mendapatkan view dengan latar belakang Batu So'on.

"Kami sengaja prioritaskan dulu fasum dulu sebagai penunjangnya. Misalnya toilet, mushola, tempat parkir, dan lainnya," ujar Adi Sunaryadi, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Olah Raga Bondowoso, kepada detiktravel, Sabtu (2/3/2019).

Menurutnya, karena fasilitas umum itu merupakan sarana vital yang sangat dibutuhkan para pengunjung. Apalagi, lokasi ini relatif jauh dari perkampungan penduduk sekitar. Sehingga kebutuhan sarana tersebut mutlak diperlukan. Setelah itu, barulah dibangun sarana penunjang lainnya.

"Baru kemudian menyusul sarana penunjang lain yang bersifat pengembangan. Sebab, bagaimana pengunjung mau ke situ jika sarprasnya masih susah," paparnya.

Selasa, 18 Februari 2020

Mona Ratuliu & Suami: Banyuwangi Pas Banget Buat Bulan Madu

Mona Ratuliu baru-baru ini traveling ke Banyuwangi bersama sang suami. Menurutnya Banyuwangi dengan pantainya yang indah cocok buat destinasi bulan madu.

Artis Mona Ratuliu dan Indra Brasco berkunjung ke Banyuwangi. Selama dua hari di Banyuwangi, Mona dan Indra mengaku terkesan dengan kabupaten yang berjuluk The Sunrise of Java ini. Bahkan Mona juga empat kali mengunggah foto keindahan Pantai Solong di akun instagramnya.

Saat tiba di Banyuwangi, Mona bersama suaminya, langsung diajak menikmati Villa Pantai Solong. Di sana, kedua pasangan artis ini terlihat sangat menikmati keindahan pantai yang menghadap ke Selat Bali. Mereka mengaku seperi bulan madu kembali.

"Pantai dan penginapan di Villa Solong sangat bagus viewnya. Apalagi untuk ber-selfie. Pas banget untuk bulan madu lagi," kata Mona kepada wartawan, Senin (4/3/2019) lalu.

Mona juga menyempatkan mencicipi kuliner khas Banyuwangi, Nasi Tempong. "Di sini banyak makanan sambel mentah ya, enak dan seger. Saya suka ini," kata Mona.

Tak ketinggalan, dia juga memborong oleh-oleh khas Banyuwangi berupa kudapan dan kaos khas Banyuwangi. Kedua selebiriti ini pun, berjanji akan kembali kemari sembari mengajak keluarganya setelah melihat Banyuwangi yang begitu indah.

"Saya begitu terkesan, apalagi melihat destinasi wisatanya yang apik. Segera saya akan kembali mengajak keluarga dan anak-anak. Rasanya kurang lama di sini," pungkasnya.

Kedatangan Mona ke Banyuwangi dalam rangka memeriahkan Festival Posyandu Kreatif yang digelar di Pendopo Banyuwangi, Senin (4/3). Dalam seminar yang diikuti ribuan kader posyandu se-Banyuwangi, Mona memberikan tips-tips mengasuh anak generasi milenial. Mulai bagaimana memahami karakter anak, mendidik hingga memberi perhatian kepada kids jaman now.

Menurut presenter dan juga bintang film ini, orang tua sekarang perlu memahami karakter umum yang dimiliki anak-anak di generasinya. Mulai dari memahami mana saja yang masuk generasi X, Y, Z, hingga generasi Alpha.

"Kita perlu karakter umum tiap generasi, karena ini akan memudahkan kita dalam mendidik, menyesuaikan gaya mereka. Anak jaman now memang susah-susah gampang, karena berbeda zaman dengan orang tua," kata Mona.

Pantangan-pantangan Buat Wisatawan Selama Nyepi di Bali

Kamis (7/3) esok, Hari Raya Nyepi akan dirayakan di seantero Bali. Berikut pantangan-pantangan buat wisatawan yang wajib diketahui selama Nyepi.

Untuk menjaga kekhusyukan Nyepi di Bali akses internet, saluran televisi hingga jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) akan dimatikan sementara.

Tak hanya itu, wisatawan juga diminta memperhatikan sejumlah pantangan. Apa saja?

"Nyepi di Bali itu pemimpin agama, umat Hindu tidak melakukan kegiatan keluar rumah, turis-turis pun tidak boleh keluar hotel," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Badung, Gede Rudia Adiputra saat berbincang dengan detikTravel, Rabu (6/3/2019).

Selama Nyepi, para umat Hindu melaksanakan catur brata yaitu amati geni, amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Selama Nyepi berlangsung semua toko tutup, dan tidak ada warung yang buka.

Di sepanjang jalan hanya ada pecalang yang bisa lalu lalang untuk pengamanan. Rudia pun meminta para turis agar tidak keluar hotel.

"Bagi non Hindu silakan di dalam hotel asal dia tidak berkeliaran di luar. Nyepi itu untuk membersihkan dunia kita dari polusi udara, polusi suara, dan yang lainnya," terangnya.

Rudia mengatakan bagi karyawan hotel yang bekerja dipersilakan untuk berangkat pukul 05.00 Wita. Sehingga diharapkan pukul 06.00 Wita sudah tiba di kantornya dan tidak berada di jalan.

"Besok itu sudah sepi, tidak ada orang lalu lalang. Oleh karena itu untuk karyawan hotel yang rumahnya jauh, diberi kesempatan jam 05.00 pagi berangkat dari rumah supaya jam 06.00 sampai di hotel," terangnya.

Rudia pun mempersilakan para turis untuk tetap beraktivitas selama berada di dalam hotel.

"Tidak ada juga, tinggal di dalam hotel saja. Mau baca-baca, kalau disiapkan ya makan di hotelnya, tidak keluar lagi karena sudah disiapkan di hotel," jelasnya.