Jumat, 14 Februari 2020

Penumpang Bandara Solo Menurun Tajam Karena Tiket Mahal

Mahalnya harga tiket pesawat berimbas pada penurunan jumlah kedatangan maupun keberangkatan wisatawan. Bandara Adi Soemarmo di Solo, Jawa Tengah mengalami penurunan wisatawan domestik yang sangat signifikan.

Hal itu terjadi di seluruh bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero). Penurunan jumlah penumpang itu tercatat pada periode Januari-Februari lalu.

"Secara keseluruhan dari Januari-Februari memang terjadi penurunan seitar 14 persen, tapi khusus di Ngurah Rai nggak ada penurunan, yang internasional tetep naik, kalau yang domestik lebih tinggi hanya sekitar 1 persen," kata Dirut AP I Faik Fahmi di Terminal Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Senin (18/3/2019).

"Jadi memang dari 13 bandara ini bervariasi, memang yang paling parah kelihatannya kemarin data terakhir di Solo, sampai 38 persen," ujarnya.

Faik mengatakan Bali masih menjadi destinasi wisata bagi para turis baik domestik maupun mancanegara. Jumlah kunjungannya turis di bandara ini pun terpantau mengalami peningkatan.

Setelah sempat lesu, Faik menyebut saat ini arus kedatangan maupun keberangkatan penumpang di wilayah AP I sudah mulai meningkat. Sebagai pengelola, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan para pengelola maskapai penerbangan untuk mencari solusi.

"Bagiamana kita bisa berkomunikasi dengan airlines, program-program yang bisa meningkatkan frekuensi. Jadi mulai program insentif, membebaskan landing fee kalau mereka bisa membuka penerbangan baru di rute-rute baru kita. Intinya kita mensupport bagaimana agar airlines ini bisa mengembalikan bisnis mereka lebih baik lagi," jelasnya.

Faik mengaku tak tahu soal banyaknya penerbangan yang dibatalkan karena sepi penumpang. Dia menduga pembatalan itu juga terkait dengan maintenance (perawatan) pesawat.

"Saya nggak tahu itu kan policy dari masing-masing airlines. ketika kita komunikasi dengan masing-masing airlines juga kita, kalau pesawat itu ada periode maintenance dan mereka biasa mengambil maintenance di mana penumpang sedikit. Jadi kita Februari mulai timing yang bagus untuk maintenance jadi tidak semata-mata masalah komersial sih kalau menurut saya," urai Faik.

Jerinx 'SID' Mau Ada Filterisasi Turis di Bali, Ini Kata Netizen

 Jerinx 'SID' gerah dengan kelakuan turis yang bikin ulah di Bali. Dia mau ada sistem filterisasi bagi turis yang masuk ke Bali, apa kata netizen?

Dilihat detikcom dari laman Instagram pribadinya, @jrxsid pada Senin (18/3/2019) Jerinx me-report foto dari akun Instagram @tele.bali. Dia mengungkapkan, banyak turis yang berkelakuan buruk di kawasan Kuta.

Bahkan, Jerinx ingin ada sistem filterisasi turis yang masuk Bali. Dia meyakini, hal itu akan didukung oleh masyarakat Pulau Dewata.

Postingan Instagram jerinx mengenai hal itu pun sudah dikomentari 1.000-an lebih netizen. Dalam pantauan detikcom, banyak netizen yang setuju atas ide tersebut.

"Saya yg bukan warga Bali juga 100% support bli," kata akun @sowamhabibi.

Bahkan, banyak juga netizen yang bercerita soal pengalaman tak menyenangkan saat bertemu atau melihat turis yang bikin ulah. Mereka pun merasa gerah.

"Dulu ada pengalaman pas nongkrong di poppies bawa temen sekitar jam 11an,lagi enak2 nyantai ngebir tau2 ada bule telanjang dada naik motor berhenti di jalan tu motor digeber2 kayak dia yg punya,udah bagus gak digebukin orang2," kata akun @santosoanaz.

"Bener banget bli!! Ini yg bikin saya males balik lagi ke daerah kuta dan legian, 2015 ke SkyGarden subuh2 ada bule gila yg bikin ribut didepan monumen bom bali, alhasil setelah itu ngerasa kok bali jadi gak aman gini," tulis akun @fiyabar.

"Banyak sekali yg begini di kuta bli, sampe takut malahan lewat dari gang poppies kalau malam. Banyak yang mabuk dan teriak2 gak jelas naik motor. Dulu bali gak sebegitunya, skrg makin agak kacau," cerita akun @sheila.simanjuntak.

"Bener bli, sy sm temen sy @uwlan_theola pernah jalan kaki lewat kuta (poppies lane 2) dan di timpuk pake botol aqua kosong sm bule2 yg nongkrong di pinggir jalan, sy mau lawan tp bnyk bgt mereka segerombolan," ungkap akun @fianty_defani.

Apakah kamu punya pengalaman serupa? Dan apa pendapat kamu soal ide filterisasi turis di Bali seperti kata Jerinx 'SID'? Tulis di kolom komentar ya.

Ma'ruf Amin Sebut Rumah Betang di Debat Cawapres 2019, Apa Itu?

Dalam Debat Cawapres 2019, Cawapres Ma'ruf Amin mengungkap 3 kearifan lokal, salah satunya Rumah Betang. Apa itu ya?

Debat Cawapres Pilpres 2019 semalam mencuri perhatian publik karena filosofi yang berhubungan dengan kebudayaan yang diungkapkan Cawapres Ma'ruf Amin. Dia mencontohkan tiga kearifan lokal itu dalam kalimat ini.

"Kami akan terus kembangkan budaya nasional terutama juga kearifan lokal. Kita punya Dalihan Na Tolu, kita punya Pela Gandong, kita punya Rumah Betang," kata Ma'ruf Amin.

Tahukah traveler tentang Rumah Betang? Ini adalah kearifan lokal dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Rumah Betang juga bisa traveler temukan di Kalimantan Barat. Rumah Betang punya makna kekeluargaan, gotong royong, persatuan dan kesatuan.

Dikumpulkan detikTravel, Senin (18/3/2019) Rumah Betang menjadi rumah bagi sejumlah Suku Dayak yang masih tinggal secara tradisional di bantaran hulu sungai. Berbentuk rumah panggung dan panjang, Rumah Betang dibangun dari kayu ulin.

Pada umumnya, hulu Rumah Betang dibangun menghadap ke arah timur dan hilirnya menghadap ke barat. Ada tujuannya lho, menghadap ke timur atau Matahari terbit mengandung aitu kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin. Sedangkan menghadap arah Matahari terbenam atau barat mengandung arti akan pulang sebelum matahari terbenam. Begitulah bentuk disiplinnya orang Suku Dayak.

Mudah saja untuk mengenali bentuk fisik Rumah Betang. Rumah ini dibangun di atas ketinggian 3-5 meter dari permukaan tanah, juga panjangnya rumah mulai dari 30-150 meter dengan lebar 30 meter. Memiliki satu tangga masuk dan satu pintu.

Rumah berukuran besar ini menjadi filsafah toleransi antar suku, agam dan ras yang ada di Kalimantan Tengah. Juga ada alasan dan fungsi kenapa Rumah Betang dibangun seperti ini lho.

Pertama, menghindari rumah dari banjir, karena banyak Rumah Betang yang dibangun dipinggir sungai. Kedua melindungi penghuni dari binatang buas dan melindungi penghuni dari musuh.

Rumah ini juga punya bagian-bagian dengan beda fungsi. Ada tiga komponen utama yang dimiliki Rumah Betang. Antara lain ruang depan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat, Karung atau bilik keluarga yang menjadi tempat tidur, serta likid atau ruang dapur. Sejumlah ukiran yang erat kaitannya dengan budaya Dayak pun banyak menghiasi rumah.

Namun di balik bentuk fisiknya yang memanjang dan kokoh, tersimpan makna yang dijaga turun temurun dari leluhur. Mulai dari gambaran tata desa, organisasi sosial hingga sistem kemasyarakat, semua tertuang dalam satu Rumah Betang.

Diketahui, kalau satu Rumah Betang selalu dihuni oleh satu keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga kecil (bisa mencapai 10 keluarga). Di mana dalam satu keluarga besar dipimpin oleh seseorang yang dikenal sebagai Pembakas Lewu.

Singkatnya, berikut bagian-bagian dari Rumah Betang beserta fungsinya.

1. Sado, ini adalah bagian rumah tempat lalu lalang penghuni, juga tempat musyawarah, tempat menganyam dan lainnya.

2. Padong, ruang keluarga yang biasanya dari masing-masing keluarga memiliki satu padong. Biasanya digunakan untuk berkumpul, makan, minum, dan menerima tamu.

3. Bilik untuk tempat tidur.

4. Dapur, biasanya dibagian belakang dan hanya satu di dalam rumah. Dapur ini untuk memasak satu rumah lho.

5. Bagian tengah biasa dihuni oleh ketua adat.

Dalam beberapa Suku Dayak, pembangunan Rumah Betang pun dilakukan dengan tata cara dan persyaratan tertentu. Mulai dari lokasi rumah yang harus berada di hulu sampai arahnya yang harus sejajar dengan matahari terbit, tidak sembarangan.

Jika traveler jalan-jalan ke Palangkaraya dan ingin melihat Rumah Betang yang masih dihuni dan kental suasana tradisionalnya, memang harus sedikit berjuang. Karena Rumah Betang ini berada di pedalaman dan dekat sungai.