Kamis, 13 Februari 2020

WiFi di Pesawat, Cara Citilink Gaet Penumpang Milenial

Tidak bisa dipungkiri, banyak industri berusaha menggaet pasar milenial dalam berbagai sektor. Salah satunya penerbangan, termasuk Citilink Indonesia.

Citilink mengungkapkan, bahwa 70 persen dari penumpangnya berasal dari generasi milenial. Demografi ini mendominasi pasar, yang mana perusahaan pun juga berusaha membuat penumpangnya agar tetap setia menggunakan jasa Citilink.

Salah satu caranya adalah memberikan fasilitas koneksi internet WiFi dalam penerbangan. Agar para penumpang, khususnya milenial, dapat tetap menggunakan internet meski di ketinggian 35 ribu kaki.

"Hampir 70% penumpang citilink adalah milenial, yang tidak bisa terlepas dari yang namanya connectivity. Sebagai LLC ita juga mau penumpang mendapatkan layanan yang mumpuni, sehingga kita menggandeng Mahata yg juga mengakomodir empat maskapai penerbangan bintang 5," ujar Juliandra Nurtjahjo, Direktur Utama Citilink Indonesia saat ditemui detikcom di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta Kamis (21/3/2019)

Citilink juga mengklaim sebagai maskapai yang memberikan layanan koneksi WiFi secara gratis di Asia Pasifik. Sejak Januari 2019 lalu, Citilink sudah memasang 1 armada dengan koneksi WiFi.

"Kita ada rencana pesawat kedua akan kita luncurkan, citilink adalah LCC pertama di aspac yang memberikan inflight connectivity secara gratis," tambahnya.

Selain menggaet pasar milenial, cara ini juga digunakan Citilink untuk merepresentasikan digital airline. Di mana, menjadi visi dan program kerja maskapai bujet grup Garuda Indonesia tersebut.

"Citilink mau menjadikan maskapainya sebagai digital airline, merevisi visinya, karena sekarang segala sesuatunya sudah digital, oleh karena itu kita mau mendahukui yg lain, sehingga kita dpt cap bahwa citilink adalah digital airline. Jadi dari semua task pointnya, seluruh kegiatan mulai dari pre, in dan post flight, reservasi hingga pengambilan bagasi di tempat ujuan bisa ditrack lewat jejak digital," tambah Juliandra.

Maka dari itu, Citilink juga melihat perilaku konsumen agar dapat mewujudkan keinginan penumpang. Sehingga, mendapat pelayanan yang baik disetiap penerbangan Citilink.

"Kita lihat behavior milenial, revolusi industri dan digitalisasi. Kita ingin mendahului airline yang lain. Cap dan mindset dari customer digital airline. Maka semua proses akan jadi touch point," ujarnya.

Terminal 2F Soekarno-Hatta Dikukuhkan Sebagai Terminal LCC

PT Angkasa Pura II (Persero) mempersiapkan Terminal 2F menjadi terminal low cost carrier (LCC). Nantinya, khusus untuk maskapai-maskapai budget.

Persiapan untuk menjadikan Terminal 2F sebagai terminal yang menawarkan ketentuan tarif yang lebih murah ketimbang dengan terminal lain di Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah mendapat respon positif dari Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata.

"Hari ini kami (Kemenpar dan AP II) membahas bahwa kami akan secara formal mengoperasikan Terminal 2F sebagai LCCT pada 1 Mei mendatang. Sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden yang kemudian diinstruksikan melalui Menteri BUMN, Menteri Perhubungan dan Menteri Pariwisata," ujar Presiden Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, Kamis (21/3/2019) seperti dalam siaran pers yang diterima detikcom.

Strategi menjadikan Terminal 2F sebagai LCC agar segmentasi setiap terminal berbeda. Khususnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang memiliki Terminal 1, 2, 3 dan sebentar lagi akan ada Terminal 4.

"Ditambah lagi akan dibangun terminal khusus umrah, sehingga perlu ada segmentasi setiap terminal. Kami sudah melaporkan kepada Menteri perhubungan dan responnya positif," terang Awaluddin.

Termasuk juga, hari ini kepada Menteri Pariwisata PT Angkasa Pura II sudah melakukan pemaparan. "Secara teknis tadi Pak Menpar minta pengalokasian parking stand dan contact stand maskapai khusus LCC minta ditambah dari yang ada saat ini. Karena kan untuk supporting pariwisata itu salah satu yang menambah volume inbound traffic atau foreign tourist arrivals dari LCCT," tuturnya.

Bintan Mulai Bersolek Sambut Gelaran Sport Tourism

Persiapan jelang Tour de Bintan semakin matang, sejalan dengan besarnya dukungan dari pemerintah daerah. Pada rute yang akan dilalui, jalan-jalan rusak sudah diperbaiki. Jalur-jalur yang tampak berpasir juga sudah dibersihkan agar tidak membahayakan peserta.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan, Wan Rudy, persiapan sudah sekitar 80 persen. Ia juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan sejumlah pihak. Termasuk dengan Polres Bintan dan Satpol PP terkait kemanan bagi peserta saat bertanding nanti.

"Kita ingin Tour de Bintan sukses digelar seperti tahun-tahun sebelumnya. Terlebih, event ini masih menjadi bagian dari seri dunia UCI Gran Fondo. Ini juga menjadi pertaruhan nama baik Indonesia karena banyak warga negara asing yang ikut sebagai peserta," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (21/3/2019).

Ajang sport tourism, Tour de Bintan, sendiri akan digelar selama tiga hari, mulai 29-31 Maret 2019. Ada beberapa kelas atau kategori yang dilombakan. Tanggal 23 Maret digelar Individual Time Trial yang menempuh jarak 17 km. Kemudian tanggal 24 Maret ada Classic Class dengan jarak tempuh 144 km, dan Challenge Class sepanjang 82 km. Selanjutnya tanggal 25 Maret ada Century Class sejauh 111 km dan Discovery Class dengan rute 55 km.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizky Handayani menyatakan, gelaran event Tour de Bintan secara langsung akan berdampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi di daerah setempat. Peserta akan melihat lebih dekat 'wajah' Bintan dan menikmati semua yang tersaji, bahkan dengan keluarga masing-masing.

"Info yang kami dapat, hotel di tempat event berlangsung yakni Bintan Lagoon sudah full booking di jadwal perlombaan. Saya yakin hotel-hotel lain di sekitarnya juga demikian. Semua akan mendapat untung dari Tour de Bintan. Termasuk para pengusaha kuliner, nantinya bakal kebanjiran tamu," ungkapnya.

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menambahkan, peserta akan mendapat keuntungan dobel dari ajang ini. Selain bisa mengukir prestasi, mereka juga dapat menikmati keindahan alam dengan jalan-jalan yang ditata lebih baik, serta sejumlah resor kelas internasional.

"Acara tiga hari ini adalah tour lengkap dari pulau tropis dengan jalan-jalan pantainya yang menakjubkan, hutan hijau yang rimbun, dan desa-desa yang semarak berbaris di jalan-jalan untuk menyaksikan kecepatan dan warna-warni peserta," ujarnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, sport tourism menjadi salah satu konsep yang cukup berhasil menarik wisatawan mancanegara. Terbukti, dari tahun ke tahun kunjungan wisman ke Bintan terus meningkat. Ini menjadi kabar baik bagi industri pariwisata setempat.

"Tour de Bintan adalah pembuka dari serangkaian event Bintan tahun 2019 yang masuk kategori sport tourism. Setelah Tour de Bintan, akan digelar Bintan Triathlon (7-9 Juni), Ironman Bintan (25 Agustus), Bintan Marathon (8 September), Bintan Golf Challenge (12 Oktober), dan Bintan KasmaRun (31 Desember). Semua potensial menarik wisman," jelasnya.