Jumat, 14 Februari 2020

Menyambangi Pulau Rinca, Awas Nabrak Komodo!

Di Pulau Rinca komodo ada di mana-mana. Kadang, keberadaannya tak terdeteksi oleh mata manusia. Padahal bila menabrak komodo, bisa fatal jadinya.

Pengalaman seru ini dirasakan detikcom pada Senin (25/2/2019). Bersama tim Teras BRI Kapal Bahtera Seva II, kami bergerak dari dermaga Desa Pasir Panjang menuju dermaga Loh Buaya menggunakan perahu bermotor, pukul 11.53 WITa.

Laut sedang tenang, terumbu karang terlihat jelas dari balik permukaan air yang jernih seperti kristal. Di tengah laut saat perjalanan, kerucut-kerucut raksasa warna hijau menjulang di sana-sini. Perbukitan itu seolah mampu memaksa kamera ponsel untuk terus aktif membidik.

Sampai di dermaga Loh Buaya setelah perjalanan sejam, kami melangkah ke dermaga kayu dan disambut pemandu bernama Kasmir Wan (37). Ada gerbang berbentuk patung dua komodo raksasa di Taman Nasional ini. Menurut saya, kulit patung komodo ini persis dengan gambaran yang biasa terlihat di televisi atau internet.

"Tapi bentuk kepalanya lebih mirip tokek kalau itu," kata Kasmir Wan sambil tersenyum. Kasmir adalah 'natural guide' lulusan kursus pemandu yang dikelola koperasi Taman Nasional Komodo. Sehari-harinya, dia selalu melihat komodo. Jadi dia tahu betul bahwa bentuk kepala komodo tidak seruncing patung itu.

Saya semakin penasaran, seperti apa rupa komodo sebenarnya, apakah sama seperti yang terlihat di televisi atau tidak. Di dekat gerbang sudah ada jejak keberadaannya, yakni kotoran komodo. Melangkah hingga ke pohon, nampak tiga kerbau sedang berkubang di lumpur pekat. Ini adalah kerbau liar mangsa komodo.

Kasmir dan pemandu-pemandu lainnya dibekali kayu bercabang berbentuk huruf Y sebagai alat untuk menghalau komodo. Untuk meminimalisir risiko, dia mengimbau agar tidak ada yang mengayun-ayunkan barang bawaan di area ini. Gerakan mengayun seperti itu berpotensi memancing serangan komodo.

Di siang hari yang terik ini, saya melanjutkan langkah berharap keberuntungan bisa berjumpa dengan kadal purba raksasa itu. Mata celingak-celinguk ke segala arah, tapi Kasmir tiba-tiba memperingatkan saya.

"Lihat di sebelah kiri, lihat tidak?" kata Kasmir.

Saya langsung menengok ke sebelah kiri bawah. Jantung tiba-tiba berdegup kencang. Saya hampir saja menabrak komodo sepanjang tiga meter yang sedang nongkrong di bawah pohon. Jaraknya hanya empat langkah. Bila Kasmir tidak memperingatkan saya, pasti kaki ini sudah terantuk reptil itu. Padahal hewan itu punya air liur yang sangat beracun. Bukan hanya satu, tapi dua ekor komodo di depan langkah saya.

Namun diamat-amati, dua komodo ini terlihat santai-santai saja. Kepalanya menempel ke tanah. Di titik lain berjarak 50 meter, ada lagi komodo dengan ukuran lebih kecil. Mereka semua terlihat malas siang ini. Ternyata kesan malas ini sering mengecoh, karena komodo bisa berubah sikap 180 derajat menjadi buas.

"Mereka ini memang tidak bisa ditebak," kata Kasmir.

Di sini pengunjung bisa berfoto dengan hewan komodo. Sesi foto dilakukan bergiliran. Dua petugas membantu, yang satu mengatur giliran, dan yang kedua membidik dengan kamera atau ponsel pengunjung. Hasilnya, komodo terlihat besar di potret. Sesi foto ini bukan dilakukan tanpa kewaspadaan. Komodo ini tidak dikerangkeng seperti di kebun binatang, tapi berjalan-jalan di tanah terbuka. Hewan ini bisa berlari dengan kecepatan 18 hingga 20 km/jam.

Ini adalah pengalaman seru. Kata Kasmir, banyak turis tidak seberuntung kami. Tak jarang wisatawan dari luar negeri berkunjung tanpa berjumpa komodo. Akan lebih beruntung lagi bila wisatawan melihat komodo berburu mangsa, namun itu jarang terjadi karena Pulau Rinca luas dan komodo hanya makan sebulan sekali dalam jumlah banyak.

"Waktu yang tepat untuk mengunjungi Loh Buaya Pulau Rinca adalah pagi hari. Kalau mau melihat komodo sedang berburu mangsa, tidak bisa ditebak kapan waktunya," kata Kasmir.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di *Ekspedisi Bahtera Seva*.

Kamis, 13 Februari 2020

WiFi di Pesawat, Cara Citilink Gaet Penumpang Milenial

Tidak bisa dipungkiri, banyak industri berusaha menggaet pasar milenial dalam berbagai sektor. Salah satunya penerbangan, termasuk Citilink Indonesia.

Citilink mengungkapkan, bahwa 70 persen dari penumpangnya berasal dari generasi milenial. Demografi ini mendominasi pasar, yang mana perusahaan pun juga berusaha membuat penumpangnya agar tetap setia menggunakan jasa Citilink.

Salah satu caranya adalah memberikan fasilitas koneksi internet WiFi dalam penerbangan. Agar para penumpang, khususnya milenial, dapat tetap menggunakan internet meski di ketinggian 35 ribu kaki.

"Hampir 70% penumpang citilink adalah milenial, yang tidak bisa terlepas dari yang namanya connectivity. Sebagai LLC ita juga mau penumpang mendapatkan layanan yang mumpuni, sehingga kita menggandeng Mahata yg juga mengakomodir empat maskapai penerbangan bintang 5," ujar Juliandra Nurtjahjo, Direktur Utama Citilink Indonesia saat ditemui detikcom di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta Kamis (21/3/2019)

Citilink juga mengklaim sebagai maskapai yang memberikan layanan koneksi WiFi secara gratis di Asia Pasifik. Sejak Januari 2019 lalu, Citilink sudah memasang 1 armada dengan koneksi WiFi.

"Kita ada rencana pesawat kedua akan kita luncurkan, citilink adalah LCC pertama di aspac yang memberikan inflight connectivity secara gratis," tambahnya.

Selain menggaet pasar milenial, cara ini juga digunakan Citilink untuk merepresentasikan digital airline. Di mana, menjadi visi dan program kerja maskapai bujet grup Garuda Indonesia tersebut.

"Citilink mau menjadikan maskapainya sebagai digital airline, merevisi visinya, karena sekarang segala sesuatunya sudah digital, oleh karena itu kita mau mendahukui yg lain, sehingga kita dpt cap bahwa citilink adalah digital airline. Jadi dari semua task pointnya, seluruh kegiatan mulai dari pre, in dan post flight, reservasi hingga pengambilan bagasi di tempat ujuan bisa ditrack lewat jejak digital," tambah Juliandra.

Maka dari itu, Citilink juga melihat perilaku konsumen agar dapat mewujudkan keinginan penumpang. Sehingga, mendapat pelayanan yang baik disetiap penerbangan Citilink.

"Kita lihat behavior milenial, revolusi industri dan digitalisasi. Kita ingin mendahului airline yang lain. Cap dan mindset dari customer digital airline. Maka semua proses akan jadi touch point," ujarnya.

Terminal 2F Soekarno-Hatta Dikukuhkan Sebagai Terminal LCC

PT Angkasa Pura II (Persero) mempersiapkan Terminal 2F menjadi terminal low cost carrier (LCC). Nantinya, khusus untuk maskapai-maskapai budget.

Persiapan untuk menjadikan Terminal 2F sebagai terminal yang menawarkan ketentuan tarif yang lebih murah ketimbang dengan terminal lain di Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah mendapat respon positif dari Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata.

"Hari ini kami (Kemenpar dan AP II) membahas bahwa kami akan secara formal mengoperasikan Terminal 2F sebagai LCCT pada 1 Mei mendatang. Sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden yang kemudian diinstruksikan melalui Menteri BUMN, Menteri Perhubungan dan Menteri Pariwisata," ujar Presiden Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, Kamis (21/3/2019) seperti dalam siaran pers yang diterima detikcom.

Strategi menjadikan Terminal 2F sebagai LCC agar segmentasi setiap terminal berbeda. Khususnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang memiliki Terminal 1, 2, 3 dan sebentar lagi akan ada Terminal 4.

"Ditambah lagi akan dibangun terminal khusus umrah, sehingga perlu ada segmentasi setiap terminal. Kami sudah melaporkan kepada Menteri perhubungan dan responnya positif," terang Awaluddin.

Termasuk juga, hari ini kepada Menteri Pariwisata PT Angkasa Pura II sudah melakukan pemaparan. "Secara teknis tadi Pak Menpar minta pengalokasian parking stand dan contact stand maskapai khusus LCC minta ditambah dari yang ada saat ini. Karena kan untuk supporting pariwisata itu salah satu yang menambah volume inbound traffic atau foreign tourist arrivals dari LCCT," tuturnya.