Selasa, 11 Februari 2020

Ada Yang Tahu Isi Batu Caves?

Batu Cave menjadi satu atraksi menarik saat liburan ke Malaysia. Punya tangga warna-warni dan gua, rupanya ada pemandangan menarik dari balik gua.

Batu Cave, Kuil umat Hindu terbesar di Malaysia ini sepertinya memang menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Tentu yang paling menarik adalah Patung Dewa yang berukuran besar dibagian depan dan tangga yang dicat berwarna warni.

Perjalanan kami dari Hotel di pusat KL menuju Batu Cave menggunakan Grab, karena transportasi online yang ada di Malaysia hanya Grab saja dan lebih cepat.

Mobil Grab akan mengantarkan teman-teman sampai gerbang masuk ke kuil ini dan harus berjalan kaki kurang lebih 150 meter untuk sampai ke anak tangganya. Tapi jangan terburu-buru untuk naik ke atas.

Karena untuk yang menggunakan celana pendek, wajib menggunakan selendang yang sudah disediakan bawah dan membayar 5 RM, 3 RM untuk deposit dan 2 RM untuk sewa selendang. Serta banyak spot foto yang bisa abadikan termasuk tentunya view bagian depan yang memang cakep banget.

Saatnya naik tangga, ini adalah bagian yang paling menyiksa karena tangganya banyak sekali. Selain itu juga cukup terjal, hati-hati buat teman-teman yang sudah kecapean, sebaiknya istirahat jangan dipaksakan, apabila pingsan di tengah jalan otomatis akan menggelinding kebawah.

Setelah sampai di bibir gua, kita akan disambut dengan 1 patung yang cukup besar juga tapi maaf saya tidak tahu pasti nama patung-patung ini.

Setelah berjalan sedikit lagi kedalam, akan dijumpai para pedagang yang menjual cendera mata maupun alat-alat untuk sembayang. Masuk lagi, akan menemukan satu ruangan gua yang besar dan di dalam sini terdapat 1 kuil yang cukup besar dan berarsitektur menarik.

Nah, untuk ruangan paling ujung yang menarik, agak sedikit naik lagi menggunakan anak tangga. Di sini ada 1 kuil yang dimana bagian atas dari gua terbuka, sehingga cahaya yang masuk sangat bagus sekali.

Memang gua ini secara ukuran cukup besar dan bagian dalamnya juga cukup bagus serta bersih. Hal yang cukup mengganggu hanya dari bau kotoran Kelelawar dan kelembabannya. Bagi yang alergi mungkin sebaiknya tidak masuk ke dalam gua ini.

Inilah Arc de Triomphe dari Martapura

 Alun-alun kerap menjadi ikon suatu kota. Nah, di Kalimantan Selatan juga ada alun-alun yang jadi kebanggaan warga Martapura, Ratu Zalecha.

Alun-alun suatu kota di Indonesia memiliki ciri khas yang beragam dan unik, tidak terkecuali Alun-alun Ratu Zalecha di kota Martapura yang menjadi landmark ikonik kota Martapura, Kalimantan Selatan.

Alun-alun Ratu Zalecha Martapura memiliki luas sekitar 1,3 hektar dibangun di eks lahan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura, dengan dilengkapi berbagai fasilitas seperi taman yang ditumbuhi beragam bunga dan pohon serta fasilitas pendukung lainnya.

Berdasarkan fakta sejarah, Ratu Zalecha adalah pahlawan wanita Banjar yang juga merupakan cucu pahlawan nasional, Pangeran Antasari, yang meneruskan perjuangan sang kakek dalam mengusir penjajah dari Kalimantan Selatan.

Di alun-alun Ratu Zalecha menjadi pusat kegiatan masyarakat Martapura dalam menyelenggarakan event-event besar.

Alun-alun Ratu Zalecha dihiasi oleh tanaman hias yang sejuk dan indah. Selain itu terdapat spot foto menarik favorit wisatawan yang datang, berupa tulisan Martapura berukuran besar disertai prasasti intan.

Kota Martapura memiliki kultur Islam yang sangat kental, tidak heran Martapura dikenal juga sebagai kota santri dan serambi Mekkah selain Aceh. Hal ini terlihat dari banyaknya tugu-tugu berbentuk kaligrafi Islami yang tersebar di alun-alun Ratu Zalecha.

Tidak jauh dari Alun-alun, terdapat gerbang Bumi Selamat yang menyerupai Arc de Triomphe yang ada di Paris, namun yang membedakan, pada gerbang berukuran besar ini terlukis aneka kearifan lokal masyarakat Banjar.

Alun-alun Ratu Zalecha tepat bersebelahan dengan pasar batu mulia, Cahaya Bumi Selamat. Tugu pasar Cahaya Bumi Selamat tampak menjulang tinggi dengan megah dari sisi lapangan alun-alun.

Tidak hanya wisatawan, namun warga lokal pun juga gemar menghabiskan waktu untuk bersantai di taman alun-alun ini pada hari libur atau akhir pekan, sambil berolahraga.

Senin, 10 Februari 2020

Lewat WTLE 2019, Kemenpar Genjot Kunjungan Turis Filipina (2)

Sedangkan target pengunjung pameran, 63 persen adalah para travelers, pelajar-mahasiswa sekitar 24 persen, lalu 13 persen adalah B2B.

"Industri memiliki peluang besar untuk mengeksplorasi pengunjung WTLE 2019. Proporsi terbesar pengunjung terdiri para travelers tentu menguntungkan. Sebab, informasi dan paket wisata yang ditawarkan tepat sasaran," kata Rizki.

Rizki menjelaskan beragam keramahan siap ditebar Wonderful Indonesia di WTLE 2019. Event ini akan menampilkan Kostum Karnaval. Selain itu ada juga parade seni budaya berupa Tari Bali, Tari Tifa NTT, dan Tari Gandrung Lombok.

Kemudian selain turut menghadirkan kehangatan kopi khas nusantara dari Toraja dan Bali, paviliun Indonesia juga membagikan suvenir berupa pouch, travel bag, hingga miniatur Kapal Pinisi.

Sementara itu Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani mengatakan WTLE 2019 menjadi momentum terbaik untuk bisa melakukan branding dan selling sekaligus.

"Untuk itu, beragam potensi pariwisata Indonesia akan ditampilkan secara masif. Kami yakin, publik Filipina akan penasaran lalu melihat langsung dengan datang ke Indonesia," kata Ricky.

Pergerakan wisatawan Filipina sangat positif sepanjang 2018. Kunjungan wisatawannya mencapai 217.644 orang. Angka ini surplus 103,6 persen dari target 210 ribu orang wisatawan Filipina.

Selanjutnya, mengacu realisasi tahun lalu, target besar pun dipancang 2019. Kunjungan wisatawan Filipina ditargetkan 260 ribu orang. Artinya, dibutuhkan penambahan slot wisatawan Filipna hingga 23,8 persen.

"Pergerakan wisatawan Filipina akan terus tumbuh. Apalagi, kami gencar melakukan branding di area Filipina. Selain jangka pendek melalui WTLE 2019, arus besar wisatawan Filipina akan terjadi di waktu berikutnya. Sebab, paket lengkap yang ditawarkan sangat menarik," paparnya.

Berdasarkan data Euromonitor, outbound wisatawan Filipina mencapai 8,59 juta orang pada 2017. Lalu, share wisman yang berkunjung ke Indonesia mencapai 4 persen. Filipina juga sudah memiliki destinasi favorit, seperti Bali, Jakarta, dan Batam (Kepulauan Riau).

"Akan ada banyak value yang didapatkan pariwisata Indonesia dari WTLE 2019. Impact positif terhadap ekonomi destinasi tentu akan sangat besar. Artinya ada garansi income besar yang bisa dinikmati oleh masyarakat," jelasnya.

Mengacu arus pergerakannya, wisatawan Filipina datang ke Indonesia dominan 70 persen menikmati liburan. Karakter yang dinikmatinya adalah wisata belanja dan kuliner selain wisata alam dan bahari.

Untuk slot MICE sekitar 26 persen dengan aktivitas meeting dan pertemuan. Pada setiap kunjungan, wisatawan punya length of stay rata-rata 5,97 hari. Kemampuan spending-nya USD 792,75 per kunjungan.

Di sisi lain Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan optimalisasi terhadap pasar Filipina harus dilakukan karena potensinya sangat besar. Ada banyak aspek dari WTLE 2019 yang menguntungkan pariwisata Indonesia.

"Postur pasarnya bagus, termasuk kemampuan spendingnya. Masyarakat Filipina silahkan datang ke Indonesia. Selain atraksi, aksesibilitas dan amenitas di Indonesia itu luar biasa. Ada penerbangan langsung dari Filipina baik ke Jakarta dan Bali setiap hari," ujar Arief.