Minggu, 09 Februari 2020

Ide Liburan Isra Miraj: Main Sepeda Gunung di Ponorogo

 Liburan Isra Miraj di tengah minggu bisa diisi dengan kegiatan mengasyikan. Misalnya saja naik sepeda gunung di Gunung Bayangkaki, Ponorogo.

Suka tantangan ekstrem ? Sepertinya ini lokasi yang pas bagi Anda pecinta olahraga ekstrem, Mountain Bike alias MTB. Namanya Gunung Bayangkaki yang terletak di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.

Gunung Bayangkaki bisa dijajal dengan mengendarai sepeda jenis MTB. Di sini pengendara ditantang dengan medan tanjakan dan turunan lengkap dengan bebatuan serta dikelilingi jurang. Wow, cukup memacu adrenalin. Ini sungguh sebuah tempat wisata di Ponorogo yang unik.

Berjarak 28 km ke arah timur dari pusat Kota Ponorogo, gunung ini memiliki pemandangan eksotis yang khas. Sebab, setibanya di puncak kita disuguhi pemandangan perbukitan hijau nan asri. Selain itu banyak spot selfie yang menarik pas untuk diunggah ke Instagram.

Seperti yang dilakukan oleh Hendras Setiawan (35) salah satu pecinta olahraga ekstrem sepeda gunung MTB Ponorogo berkesempatan mencoba jalur menantang ini.

"Variasi tanjakan dan turunannya oke banget, single tracknya bagus dan memuaskan," tutur bapak dua orang anak ini kepada detikcom, Senin (1/4/2019).

Paling penting, lanjutnya, harus dipastikan kondisi sepedanya fit. Terutama shock dan rem serta perlengkapan keamanan seperti helm dan sepatu. Sekaligus membawa makanan dan minuman karena sebelum sampai puncak, tenaga terkuras habis.

Menurutnya, banyaknya tanjakan dan turunan jalan berbatu semakin memacu adrenalin. Dia pun menyarankan untuk pemula, jalur di Gunung Bayangkaki ini agak berat. Sebabnya, harus melewati sekitar 5 tanjakan yang panjang dan tinggi sebelum sampai ke puncak.

"Pas sudah sampai puncak, kita disuguhi hamparan pegunungan dan perbukitan hijau yang menyejukkan mata. Bahkan kita juga bisa melihat megahnya Waduk Bendo dari atas," terang dia.

Sementara itu, salah satu perangkat Desa Temon, Sipur (31) mengatakan dari bawah hingga puncak gunung berjarak 2 km yang bisa dilalui dengan jalan setapak. Gunung ini memang paling pas didaki dengan menggunakan MTB atau berjalan kaki.

"Meski belum dikembangkan maksimal, tempat wisata Gunung Bayangkaki ini mulai dilirik wisatawan. Di sini banyak spot selfie menarik dengan background pemandangan perbukitan serta waduk Bendo kelihatan dari puncak," jelasnya.

Wisatawan, lanjut Sipur, selain bisa ke puncak juga ada wisata Gua Mranten dan ada Makam Pangeran Kalipo Kusumo. "Jadi ada banyak lokasi wisata di satu tempat, silakan yang mau datang ke sini. Tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis," pungkas dia. 

Viral di Instagram! Aksi Unik Tukang Rajut Keliling Dunia

Cara unik dilakukan turis AS saat liburan keliling dunia. Dia selalu berfoto dengan sweater rajut yang gambarnya yang sama dengan latar tempat wisatanya.

Jika biasanya kita jalan-jalan mempersiapkan uang, peta dan kemampuan bahasa asing, lain pula dengan turis Amerika ini. Dia selalu merajut sebelum pergi liburan.

Dirangkum detikcom, Selasa (2/3/2019) pria berumur 40-an ini bernama Sam Barsky. Dia suka traveling dan punya cara unik mengabadikan jalan-jalannya.

Sebelum bepergian, Sam selalu merajut sweater bergambar destinasi yang ingin dikunjunginya. Jadi jangan heran, jika dalam akun Instagramnya dia memamerkan rajutannya sama dengan latar fotonya.

Sampai saat ini, Sam telah merajut sendiri 136 sweater dengan pola dan gambar yang berbeda selama 20 tahun terakhir. Berarti dia telah berkunjung ke 136 destinasi wisata sampai saat ini.

Awal ide ini bermula ketika Sam mengundurkan diri sebagai perawat di tahun 1999 di Amerika Serikat karena masalah kesehatan. Setelah itu dia belajar merajut dari beberapa orang wanita. Setelah itu dia merajut sweater dan menjualnya.

Karena kreatif dan pola rajutnya yang beragam, Sam pun semakin terkenal dan sering diundang oleh toko-toko rajutan menjadi pembicara. Dari situlah Sam mendapatkan uang dan mulai bepergian.

Uniknya lagi, Sam tidak pernah merajut sweater yang sama untuk kedua kalinya. Jadi bisa dikatakan setiap hasil rajutannya adalah satu-satunya di dunia dan instimewa.

Selain sweater, Sam pun mengembangkan usahanya dengan membuat topi bayi. Nantinya hasil rajutannya akan dia berikan ke frumah sakit terdekat.

Setiap bepergian traveling, Sam pasti berfoto dan mengaploadnya ke Instagram dan akhirnya menjadi viral. Karena gayanya yang tidak biasa ini, telah mencuri perhatian netizen hingga dia punya pengikut lebih 36 ribu orang di Instagram.

Puri Tri Agung di Pulau Bangka yang Tenang & Damai (2)

Memasuki pedepokan kita akan disambut oleh tiga patung pemimpin agama, yang sedang khusuk bermunajat (baca: bermeditasi) dengan caranya masing-masing kepada Yang Maha Memberi hidup. Patung yang paling kiri adalah KONG ZI, tokoh sentral dalam agama Konghucu, yang tengah adalah Patung Sang BUDDHA SYAKAMUNI, dan yang paling kanan adalah patung LAO ZI, tokoh sentral dalam agama Taoisme.

Di depan ketiga patung tersaji sesajen berupa tumpukan bunga dan buah-buahan. Wangi semerbak dari kemenyan atau hio atau dupa ataulah apanya yang dibakar memenuhi seluruh sudut ruangan. Rasanya wangi yang tercium masuk menyentuh memenuhi segenap rongga dada.

Ketiga patung ini mengingatkan diriku, bahwa kita manusia, apapun rupa dan bahasnya, hanyalah jiwa-jiwa kering nan rapuh, yang sebenarnya sangat merindukan kehadiran Tuhanya. Karenanya, inti dari agama apapun, mengajarkan cara mendekatkan diri pada Tuhanya.

Apakah dengan bermunajat dalam sujud dan dzikir-dzikir yang panjang di keheningan sepertiga malam yang terakhir, ataukah bermeditasi dalam kesunyian, ataukah dengan lagu puji-pujian, pada intinya adalah untuk merasakan peristiwa intim, transedental, menyatu dengan kehadiran Tuhan pada jiwa-jiwa kita yang kering. Jiwa yang tenang, yang dekat dengan Tuhanya, bukankah itu sejatinya sumber kebahagiaan dan ketenteraman dalam hidup?

Hal lain yang menarik perhatian adalah ornamen interior atap padepokan yang indah. Rasanya tak kalah indah dengan seni fresco yang jamak ditemui di gereja-gereja katolik di Eropa. Di Inggris, apalagi di Itali. Eh, tetapi rupanya seni fresco ini juga sudah di adopsi di masjid kampung ku lho.

Aku cukup terperanjat kapan hari waktu pulang kampung, sholat di masjid dusun, di pelosok desa, kabupaten Banyuwangi sana, waktu menengadah ke atap kubah masjid. Wau, sebuah pemandangan seni yang mewah sekali untuk ukuran dusun kami.

Setidaknya mewah untuk cita rasa seni perkampungan petani tulen di dusun kami. Sebuah ornamen yang didominsi warna biru langit dengan hiasan kelap-kelip lampu hias. Indah betul jika dilihat malam hari. Kabarnya, seni fresco di masjid dusun kami itu menghapuskan puluhan juta rupiah.

Jumlah yang sangat besar di mata orang-orang dusun. Tetapi, kabarnya uang itu adalah sumbangan dari pemuda-pemuda dusun kami yang sukses jadi TKI di Korea Selatan dan Taiwan di tambah hasil penjualan kavling kuburan di depan masjid dusun.

Ohya, Padepokan ini terletak di Jalan Pantai Tikus, desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diresmikan oleh pak menteri agama bersama dengan pak menteri pariwisata pada Tahun 2015.

Nama desa dan nama padepokan ini rasanya terlalu Jawa. Rebo, bukankah itu cara orang-orang Jawa desa mengucapkan hari Rabu? Begitupun padepokan Puri Tri Agung. Bukankah itu juga terlalu Jawa juga? Padepokan kurang lebih artinya pondok, Puri artinya kurang lebih rumah, Tri artinya Tiga dan Agung artinya Besar. Yang kalau aku boleh menerjemahkan secara bebas artinya tempat yang merupakan rumah tiga orang besar. Tiga tokoh agama yang aku ceritakan di atas. Entahlah?