Minggu, 09 Februari 2020

Terabas Trek Offroad Gunung Merapi Pakai Mobil Lawas

Libur Isra Miraj besok, bisa traveler manfaatkan naik mobil lawas di jalur offroad Gunung Merapi. Dijamin seru dan bikin ketagihan!

Kalikuning, sungai yang hulunya langsung dari puncak gunung merapi, menjadi lintasan lahar ketika Gunung Merapi erupsi. Salah satu spot di Kalikuning ini juga menjadi tempat favorit untuk menjajal adrenalin bersama jeep-jeep lavatour khusus Landi atau Landrover tahun lawas yang tetap gahar di lintasan bebatuan Kalikuning.

Menginjak pedal gas hingga penuh untuk menguji adrenalin di track yang berbatu khas Kalikuning. Yah, Kalikuning salah satu spot dengan panorama alam dan background Gunung Merapi ini menjadi salah satu spot unggulan untuk memacu adrenalin di atas jeep.

Khusus landrover lawas ini, mencoba melawan umur untuk menjajal track bebatuan sisa merapi membuat landi(landrover) ini terlihat gahar di trek Kalikuning. Wisata lereng Merapi menjadi salah satu destinasi wisata yang berada daerah Sleman khusus Cangkringan.

Offroad menggunakan roda empat ini berhasil menarik penggemarnya sendiri, khususnya bagi mereka yang ingin berwisata dengan suasana yang berbeda. Berkeliling dengan mobil lawas ini tentunya sudah memiliki banyak peminat, bukan hanya untuk remaja, melainkan orang tua pun tidak mau ketinggalan untuk menikmati sensasi menembus sungai dan genangan aliran Sungai Kalikuning.

Perlu di ketahui mobil dengan dengan pengeluaran tahun 70-80an ini masih berani diadu lho untuk menjajal jalan extream. Berani tidak kamu?

Puri Tri Agung di Pulau Bangka yang Tenang & Damai

Berkunjung ke Pulau Bangka, jangan hanya melihat pantainya saja yang cantik. Kunjungi juga Puri Tri Agung yang tenang dan damai ini.

Tempat ini mengingatkanku untuk sesekali merenungi sekaligus menertawakan kehidupan yang tabiatnya telah menjebak kita dalam jeratan rutinitas kesibukan. Cerita ini masih sekitar memoir perjalanan ku ke Pulau Bangka awal bulan Oktober 2018 silam.

A random moment in life bring me to this place. Sungguh, perjalanan yang tidak direncanakan. Tetapi, kejutan dalam hiduplah yang membuat hidup terasa lebih hidup. Pak sopir yang baru kami kenal mengantar kami ke tempat ini, another a stunningly beautiful place.

Nama tempat yang mungkin hanya akan aku kunjungi once in a lifetime ini adalah Padepokan Puri Tri Agung. Yang membuat aku paling senang dari Pulau Bangka ini adalah karena Pulau ini belum banyak dikenal orang. Pulau ini masih kalah populer dengan pulau kecil tetangganya, Pulau Belitung.

Harus diakui, popularitas novel dan film 'Laskar Pelangi' berhasil mengangkat nama Belitung setidaknya ke sorot panggung nasional. Tetapi tidak sama halnya dengan Pulau Bangka.

Kurang populernya Pulau Bangka, buatku justru sesuatu yang harus disyukuri. Keindahan alamnya dapat kita nikmati secara lebih intim.

Terbayang kan, betapa amat menyebalkanya mengunjungi sebuah tempat yang penuh berjubel orang-orang, yang sebagian besar datang hanya untuk berfoto, bukan untuk menikmati dan merenungi keindahanya. Apalagi mencoba berbahasa dengan alam semesta.

Padepokan ini terletak di atas sebuah bukit yang langsung berhadapan dengan pantai. Jangan ditanya lagi, pantainya yang indah dan bersih dengan warna turquoise (pirus, biru-kehijauan) yang memesona. Suasana di Padepokan yang adem berkolaborasi dengan pemandangan pantai yang indah. What a stunningly beautiful place, isn't it?

Sejenak tempat ini mengingatkanku suatu perjalanan menyusuri daratan Italy beberapa waktu silam. Bentuk bangunan padepokan ini berbentuk kerucut bersusun tiga. Mirip dengan masjid Jawa yang biasanya atapnya juga bersusun tiga. Kenapa harus tiga? Ada filosofi tentunya, bukan sekedar purely a random number.

Setelah melewati tangga berundak panjang lebar, dengan sisinya yang berwarna putih, di depan Padepokan kita akan disambut oleh sebuah patung (kalau tidak salah) Budha dengan perut gendut, santai dan sedang tertawa. Melihat patung ini, membuat kita jadi ikut-ikutan tertawa.

Jadi, kalau sampean lagi setres dengan segala keruwetan hidup, melihat patung ini bisa jadi terapi mujarab penghilang setres. Eh, atau malah jadi kebablasan stresnya.

Air Terjun Magis dari Pulau Samosir

Tahukah kalian, ada air terjun indah tapi tersembunyi di Pulau Samosir. Air terjun tersebut bernama Efrata. Kecantikannya memang magis!

Belum sah kalau ke Medan belum menginjak Pulau Samosir. Pulau Samosir menjadi salah satu ikon Sumatera Utara. Anda akan terbius oleh keindahan alamnya jika berkunjung ke sini. Berjarak sekitar 206 km dari Kota Medan, yuk kita intip keindahan apa saja yang ditawarkan pulau ini.

Untuk menuju ke Samosir, ada beberapa cara yang bisa Anda pilih. Salah satunya  dengan  menyebrang dengan menggunakan ferry, speed boat, dan kapal penumpang. Bagi anda yang ingin membawa serta kendaraan anda menuju Pulau Samosir bisa menyeberang dari pelabuhan Ajibata yang terletak di Parapat, menuju Tomok.

Harga penyebrangan kendaraan dan penumpangnya sekitar Rp 115.000. Pelayanan penyebrangan kapal ferry ini beroperasi mulai pukul 08.30 dengan kapal ferry KMP Tao Toba I dan KMP Tao Toba II.

Pada hari biasa, penumpang tidak akan seramai pada saat liburan, sehingga hanya KMP Tao Toba II saja yang beroperasi. Sedangkan KMP Tao Toba I akan beroperasi bila ada lonjakan penumpang saat Natal, Tahun Baru, Idul Fitri ataupun libur nasional lainnya.

Bagi Anda yang tidak ingin membawa kendaraan menuju Pulau Samosir, bisa meletakkan kendaraan di tempat yang telah disediakan, kemudian menggunakan kapal penumpang untuk menyeberang ke Samosir.

Nah untuk kapal penumpang kalian bisa lewat Pelabuhan Tigaraja. Harga per penumpangnya sekitar Rp 10.000. Sementara jika punya budget berlebih kalian bisa menyewa speedboat yang harganya sekitar Rp 500.000 untuk menyebrang ke Samosir.

Selama ini kami penasaran dengan air terjun indah yang berada di pulau ini. Karena kami berangkat menggunakan kapal penumpang, otomatis kami harus menyewa motor begitu sampai di hotel. Oh ya kapal penumpang ini akan menurunkan kalian pas di depan dermaga hotel-hotel yang akan kalian tempati yah. Bermodalkan motor sewaan Rp 100.000 sehari, akhirnya kami pun berpetualang menembus hujan untuk melihat dengan mata kepala sendiri keindahan Air Terjun Efrata.

Air Terjun Efrata berada di Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian. Berjarak 20 km lebih dari pusat kota Kabupaten Samosir. Tidak terlalu banyak wisatawan kemari, meskipun pada musim liburan.

Mungkin karena jaraknya cukup jauh dari objek wisata yang familiar seperti Danau Toba. Ataukah memang keberadaannya masih banyak yang belum tahu. Maklum, walau pun hanya berjarak 15 menit dari Menara Tele, jalanan menuju ke sana terbilang rusak parah.

Bebatuan besar kecil menutupi jalan menuju ke air terjun ini. Jalanan yang berkelok pun membuat medan menuju air terjun ini ini sulit untuk dilalui. Perlu keberanian dan kehati-hatian untuk menyusuri jalan ini. Perjalanan selama kurang lebih 2 jam dari hotel kami menginap seolah tidak terasa, karena pemandangan alam cantik tersaji.

Tidak ada petunjuk untuk menuju air terjun ini. Kami hanya mengandalkan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat untuk bertanya-tanya. Masih ingat pepatah malu bertanya sesat di jalan bukan? Nah kira-kira peribahasa ini cocok sekali diterapkan pada perjalanan kami kala itu. Beruntung Air Terjun Efrata ini dekat dengan rumah-rumah penduduk, sehingga jika kami merasa tersesat langsung bisa menanyakannya dengan penduduk setempat.

Sirna sudah lelah dan kecemasan kami sepanjang perjalanan. Megah dan indah Air Terjun Efrata ini. Dengan tinggi kurang lebih 100 M, airnya yang deras mengalir dari Tele menuju Danau Toba.  Sangat disayangkan air terjun yang megah dan magis ini belakangan cukup tidak terawat karena banyak dahan pohon di sekitarnya yang tidak dibersihkan. Banyak juga sampah plastik yang ditinggalkan pengunjung yang tidak dibersihkan.

Bumiku adalah Rumahku. Dengan menjaga lingkungan akan membuat bumi selalu tersenyum. Masalah sampah ini harusnya menjadi perhatian semua orang, baik pengunjung maupun pengelola tempat wisata. Yuk, kita sama-sama menjaga keindahan alam Indonesia dengan peduli masalah sampah. Jangan buang sampah sembarangan yah!

Semua berawal dari kita. Kalau nggak sekarang kapan lagi?Kalau bukan kita, siapa lagi?