Sabtu, 08 Februari 2020

Seharian di Kota Bandung, Ini Destinasinya

 Suasana sejuk dan indahnya Bandung tak pernah sepi dari wisatawan. Libur sehari, ini ragam atraksi yang bisa traveler lakukan di sana.

Jalanan Kota Bandung di pagi hari masih sejuk dan menyenangkan untuk diisi dengan jalan santai atau lari pagi. Setelah puas berolahraga santai, jangan lupa mengisi perut dengan sarapan aneka pilihan di Kota Bandung.

Seperti di Jalan Kelenteng, dekat Kebon Jati, Bandung, setiap pagi banyak gerobak pedagang yang berjejer menajajakan sarapan nikmat. Lontong kari, bubur ayam, nasi laksa, nasi campur, kupat tahu, nasi uduk, nasi kuning, dan berbagai jajanan pasar bisa menjadi pilihan sarapan para traveler.

Setelah puas sarapan, traveler bisa mengeksplore Kota Bandung, mulai dari taman-taman ikonik, kafe, atau tempat bernuansa budaya seperti Saung Angklung Udjo. Di Saung Angklung Udjo, traveler bisa menyaksikan pertunjukan angklung dan wayang.

Saung yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga Udjo ini tak pernah sepi pengunjung, baik traveler domestik maupun mancanegara. Traveler akan disuguhkan beberapa sesi pertunjukan, seperti belajar bermain angklung bersama, konser musik angklung oleh anak-anak binaan Saung Angklung Udjo, pertunjukan tari-tarian, pertunjukan wayang, dan diakhiri dengan konser angklung yang mengaransemen lagu-lagu populer dunia seperti Heal The World, Theme Song Mission Impossible, dan lain sebagainya.

Konser terakhir ini dibawakan oleh grup yang sudah kerap diundang ke berbagai negara untuk melakukan pertunjukan angklung.

Selanjutnya, traveler bisa bersantap siang di restoran ala Korea yang ada di Jalan Sawunggaling. Selain makanan berat khas Korea seperti jjapchae, bulgogi, bibimbap, nasi campur, ramyun, jangan lewatkan nikmati dessert pancake kacang merahnya yang enak. Pancake kacang merah ini merupakan salah satu menu andalan dan favorit para traveler bertajuk Chingu ini.

Menjelang malam, traveler bisa menuju Dago Pakar untuk menikmati suasana malam yang syahdu dan tenang di puncak-puncak bukit. Ada banyak kafe atau resto di Dago Pakar yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu Kota Bandung di bawah kaki bukitnya.

Bandung selalu menjadi kota yang klasik di tengah banyaknya hiruk pikuk tempat-tempat baru dengan berbagai konsep yang mengikuti perkembangan zaman.

Melihat Perkembangan Luar Angkasa di Museum Cosmonautics

Rusia dan Amerika Serikat pernah berlomba untuk menjelajahi luar angkasa. Sampai kirim anjing pertama ke luar angkasa, inilah Museum Cosmonautics di Moskow.

Meskipun terletak agak jauh dari pusat kota Moskow, museum ini patut jadi tujuan wajib saat berkunjung ke Moskow. Berbagai informasi mengenai perkembangan luar angkasa Uni Soviet dan negara lain di dunia, bisa kita temukan di sini.

Stasiun metro terdekat dari museum ini adalah VDNKh, kemudian kita akan melewati sebuah taman besar dengan bangunan utama yang menjulang tinggi. Inilah monumen perlombaan Uni Soviet (dengan Amerika Serikat) ke luar angkasa. Dan Museum Cosmonautics berada tepat di bawah monumen ini.

Tiket masuk museum adalah 250 rubel atau sekitar 55 ribu rupiah. Sebelum masuk, kita diharuskan menitipkan jaket terlebih dahulu di tempat penitipan.

Museum Cosmonautics sebenarnya tidak terlalu besar, tapi sangat sangat menarik dan informatif. Museum ini berisi 85.000 artefak yang berkaitan dengan astronomi, perjalanan luar angkasa, teknologinya, dan hal menarik lainnya.

Museum ini dibuka 10 April 1981, dua dekade setelah kosmonot Rusia Yuri Gagarin menjadi manusia pertama yang berhasil ke ruang angkasa.

Fokus utama di museum ini adalah program luar angkasa Uni Soviet dengan tema seperti Yuri Gagarin, Sergey Korolev, Sputnik juga Soyuz. Pada hari Cosmonautics di tahun 2009, museum dibuka kembali setelah 3 tahun rekonstruksi. Banyak tambahan bagian yang didedikasikan untuk program luar angkasa di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Cina dan International Space Station (ISS).

Yang juga menarik, di sini kita mendapatkan pengetahuan mengenai anjing pertama yang sampai ke luar angkasa yaitu Belka dan Strelka. Bisa kita lihat juga replika berbagai macam roket dari berbagai negara di dunia, baju-baju yang dipakai astronot dan juga seperti apa kehidupan dalam roket.

Karena sangat bagus untuk ilmu pengetahuan, jangan heran kalau disini banyak anak-anak sekolah yang datang untuk study tour.

Museum dibuka setiap hari (kecuali hari Senin) mulai pukul 10 pagi hingga 7 malam pada hari Selasa, Rabu, Jumat, Minggu dan hingga pukul 9 malam di hari Kamis dan Sabtu.

Batu Payung yang Ambruk di Mandalika, Umurnya 10 Juta Tahun

Sayang betul, Batu Payung yang unik di Mandalika, Lombok Tengah ambruk. Padahal menara batu ini umurnya ditaksi 10 juta tahun.

Proses pembentukan jenis bebatuan Batu Payung itu membutuhkan waktu sekitar sepuluh jutaa tahun. Tak heran jika banyak traveler yang merasa kehilangan. Melalui media sosial, mereka mengenang keberadaan Batu Payung.

Pakar geologi dari Dinas ESDM Pemprov NTB, Kusnadi menjelaskan proses pembentukan serta jenis bebatuan unik yang selama ini menjadi destinasi wisata yang sangat ikonik di Lombok bagian selatan itu.

"Batu Payung merupakan batuan pyroklastik yang dalam ilmu geologi namanya tufa atau lapili dengan sisipan batu gamping," kata Kusnadi, Rabu (3/4/2019).

Kusnadi menjelaskan bahwa batuan jenis pyroklastik ini terbentuk oleh proses vulkanisme sekitar 30 juta tahun yang lalu. Proses pembentukan bebatuan ini karena old marine volcano atau gunung api tua bawah laut. Menurutnya, batuan ini adalah salah satu jenis batuan tertua di pulau Lombok.

"Dalam prosesnya batuan ini sekitar 10 juta tahun yang lalu terangkat ke permukaan oleh proses tektonik dan membentuk pulau Lombok bagian selatan seperti saat ini," papar Kusnadi.

Penampakannya yang menyerupai payung itu diakibatkan dari adanya pengikisan oleh ombak atau abrasi. Bagian-bagian yang sedikit lebih keras akan bertahan dan yang lebih lembek akan terkikis dan mudah terlepas.

"Dulunya Batu Payung menyatu dengan pulau utama, tapi karena terkikis terus makanya memisah dan membentuk morfologi seperti payung," ungkap Kusnadi.

"Oleh karena itu, kejadian runtuhnya batu payung bisa merupakan kejadian alami dimana bagian bawah yang terus terkikis oleh ombak sudah tidak mampu lagi menahan keseimbangan material bagian atas sehingga runtuh," sambungnya.

Proses pembentukan kembali jenis batu pyroklastik ini sudah tidak ada lagi, karena gunung api bawah laut yang berada di sekitar kawasan itu sudah mati jutaan tahun yang lalu.

"Batuannya sih masih banyak di sepanjang bukit Teluk Awang, seperti Merese dan di daerah Batu Payung semua batuan pyroklastik," jelasnya.

Hal yang membedakan Batu Payung adalah bentuknya yang unik. Semua itu lebih disebabkan dari adanya aktivitas pengikisan oleh ombak yang berlangsung ribuan bahkan jutaan tahun.

Kusnadi mengatakan hampir semua batuan di Lombok adalah batuan pyroklastik. Produk bebatuan Gunung Rinjani juga termasuk batuan yang sama.

Ada suatu hal yang membedakan di bagian selatan Lombok, di sana terkenal dengan batuan gunungapi bawah laut (old marine volcano), di mana gunung apinya meletus di dalam laut.

"Itu merupakan salah satu keunikan di bagian selatan Lombok," kata Kusnadi.

Seharian di Kota Bandung, Ini Destinasinya

 Suasana sejuk dan indahnya Bandung tak pernah sepi dari wisatawan. Libur sehari, ini ragam atraksi yang bisa traveler lakukan di sana.

Jalanan Kota Bandung di pagi hari masih sejuk dan menyenangkan untuk diisi dengan jalan santai atau lari pagi. Setelah puas berolahraga santai, jangan lupa mengisi perut dengan sarapan aneka pilihan di Kota Bandung.

Seperti di Jalan Kelenteng, dekat Kebon Jati, Bandung, setiap pagi banyak gerobak pedagang yang berjejer menajajakan sarapan nikmat. Lontong kari, bubur ayam, nasi laksa, nasi campur, kupat tahu, nasi uduk, nasi kuning, dan berbagai jajanan pasar bisa menjadi pilihan sarapan para traveler.

Setelah puas sarapan, traveler bisa mengeksplore Kota Bandung, mulai dari taman-taman ikonik, kafe, atau tempat bernuansa budaya seperti Saung Angklung Udjo. Di Saung Angklung Udjo, traveler bisa menyaksikan pertunjukan angklung dan wayang.

Saung yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga Udjo ini tak pernah sepi pengunjung, baik traveler domestik maupun mancanegara. Traveler akan disuguhkan beberapa sesi pertunjukan, seperti belajar bermain angklung bersama, konser musik angklung oleh anak-anak binaan Saung Angklung Udjo, pertunjukan tari-tarian, pertunjukan wayang, dan diakhiri dengan konser angklung yang mengaransemen lagu-lagu populer dunia seperti Heal The World, Theme Song Mission Impossible, dan lain sebagainya.

Konser terakhir ini dibawakan oleh grup yang sudah kerap diundang ke berbagai negara untuk melakukan pertunjukan angklung.

Selanjutnya, traveler bisa bersantap siang di restoran ala Korea yang ada di Jalan Sawunggaling. Selain makanan berat khas Korea seperti jjapchae, bulgogi, bibimbap, nasi campur, ramyun, jangan lewatkan nikmati dessert pancake kacang merahnya yang enak. Pancake kacang merah ini merupakan salah satu menu andalan dan favorit para traveler bertajuk Chingu ini.

Menjelang malam, traveler bisa menuju Dago Pakar untuk menikmati suasana malam yang syahdu dan tenang di puncak-puncak bukit. Ada banyak kafe atau resto di Dago Pakar yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu Kota Bandung di bawah kaki bukitnya.