Jumat, 07 Februari 2020

1.500 Pelari Ikuti Malioboro KulineRUN 2019

 Malioboro KulineRUN digelar hari ini di Yogyakarta. Sebanyak 1.500 pelari ikut serta dalam ajang ini.

PT Hotel Indonesia Natour (HIN Persero) kembali menggelar Malioboro KulineRUN Minggu pagi ini. Acara ini adalah yang kedua kali diadakan di Yogyakarta, setelah pelaksanaan yang pertama tahun 2017 silam.

Direktur Utama PT HIN, Iswandi Said, menjelaskan Malioboro KulineRUN sengaja digelar untuk mendukung kepariwisataan di Yogyakarta. Event ini merupakan seri lanjutan di berbagai kota pilihan sejak tahun 2017.

"Event Malioboro KulineRUN 2019 merupakan bagian dari komitmen HIN dalam mendukung pengembangan industri kepariwisataan nasional dan Yogyakarta," jelas Iswandi di Yogyakarta, Minggu (7/4/2019).

Malioboro KulineRUN diikuti sekitar 1.500 pelari profesional dan warga. Ada tiga kategori yang dilombakan di event ini, yakni jarak 2.5 km, 5 km dan 10 km. Titik start dimulai di pelataran Hotel Grand Inna Malioboro pukul 06.30 WIB.

Selain Iswandi, turut hadir di acara ini Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Irjen Pol Ahmad Dofiri dan Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi.

Iswandi mengatakan, Malioboro KulineRUN 2019 merupakan event yang mengombinasikan olahraga dan pariwisata dengan mengangkat kearifan lokal dalam bentuk sajian kuliner khas Yogyakarta.

"(Pelari) melalui (rute) jalan-jalan utama ibu kota (city run) sambil menikmati pemandangan bangunan peninggalan sejarah (heritage) yang diakhiri dengan berbagai hiburan dan sajian kuliner khas DIY," tuturnya.

Setelah seluruh peserta mencapai garis finis juga di pelataran Hotel Grand Inna Malioboro, mereka langsung mendapatkan medali. Tak hanya itu, mereka juga bisa menikmati berbagai kuliner khas Yogyakarta di booth yang tersedia.

Setidaknya ada 20 UKM yang mengisi booth kuliner. Seperti Sate Kere, Sate Klatak, Soto Kadipiro, Brongkos, Mie Lethek, Gudeg, Pecel, Mangut lele, Tengkleng Kambing, Enthok Slenget, Gathot, Tiwul, Lopis, Cenil, dan lainnya.

Berikut rute Malioboro KulineRUN 2019:

Rute 2,5 km
Grand Inna Malioboro - Jl. Malioboro - Jl. Jend. Ahmad Yani - Titik Nol - Jl.Senopati - Jl. Dr. Mayor Suryotomo - Jl. Mataram - Jl. Abubakar Ali - Grand Inna Malioboro

Rute 5 km
Grand Inna Malioboro - Jl. Malioboro - Jl. Jend. Ahmad Yani - Titik Nol - Jl. Senopati - Jl. Sultan Agung - Suryopranoto - Puro Pakualaman - Jl. Masjid Pakualaman - Jl. Gajah Mada - Jl. Juminahan - Jl. Mataram - Jl. Abubakar Ali - Grand Inna Malioboro

Rute 10 km
Grand Inna Malioboro - Jl. Malioboro - Jl. Jend. Ahmad Yani - Titik Nol- Jl. KH. Ahmad Dahlan - Jl. Wahid Hasyim - Pojok Beteng Barat ke kiri - Jl. MT Haryono - Jl. Suryo Pranoto - Puro Pakualaman - Jl. Masjid Pakualaman - Jl. Gajah Mada - Jl. Juminahan - Jl. Mataram - Jl. Abubakar Ali - Grand Inna Malioboro

Situ Gunung, Danau & Jembatan Gantung yang Eksis di Medsos

Akhir pekan di Sukabumi, asyiknya ke Situ Gunung. Traveler bisa menikmati keindahan danau hingga menyeberangi jembatan gantung di tengah hutan.

Penjelajahan weekend kali ini adalah berkunjung ke kawasan wisata Situ Gunung yang berada di daerah Kadudampit, Cisaat, Kabupaten Sukabumi yang tentu sudah tidak asing lagi terutama di kalangan para siswa dan mahasiswa.

Situ Gunung menjadi salah satu tujuan wisata untuk berkemah dan kegiatan outdoor lainnya ketika liburan tiba. Kawasan Situ Gunung berada di bawah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Untuk bisa mencapai lokasi Situ Gunung, tentu saja bisa menggunakan berbagai moda transportasi, baik pribadi maupun umum dengan roda dua atau roda empat.

Dari jalan raya Cisaat bisa turun di perempatan Pos Polisi yang menuju Kadudampit. Kalau pagi sekali kendaraan umum yang bisa dipakai adalah hanya dengan ojek pangkalan ataupun ojek online. Namun ketika siang kendaraan umum yang bisa dipakai selain ojek pangkalan dan online bisa juga menggunakan angkot.

Tentu saja akan lebih nyaman menggunakan transportasi pribadi, namun akan lebih menantang dan menjadi sensasi sendiri jika dengan menggunakan transportasi umum di mana kita bisa bertemu dan berkomunikasi dengan orang baru dan masyarakat sekitar.

Jalan menuju kawasan Situ Gunung tentu saja semakin ke atas semakin menanjak dan udaranya semakin sejuk dan berkabut apabila kunjungan dilakukan pada pagi hari. Dari perempatan jalan raya Cisaat untuk sampai pada pintu masuk kawasan diperlukan waktu tempuh sekitar 30-45 menit.

Begini Rasanya Mendaki Gunung Raung

Banyak gunung yang menantang buat didaki di Pulau Jawa. Salah satunya Gunung Raung di Jawa Timur.

Gunung Raung memiliki ketinggian 3.332 mdpl dan berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Jember. Akses menuju puncak Gunung Raung pun tidak hanya satu, bisa melewati via Kalibaru Banyuwangi atau via Bondowoso.

Jalur menuju puncak Raung via Bondowoso memiliki medan yang cukup ringan bila dibandingkan dengan via Banyuwangi. Pendakian kali ini melalui jalur via Bondowoso. Basecamp Gunung Raung via Bondowoso terletak di Kecamatan Sumber Wringin.

Dari jalan raya untuk menuju desa ini tidak terdapat rambu-rambu yang jelas, karena pendakian Gunung Raung sendiri memang tidak banyak peminatnya. Sedikitnya peminat ini dikarenakan medan di Gunung Raung yang dirasa sangat berat. Tiket didapatkan di Basecamp dengan harga 20 ribu setiap orangnya. Sayangnya letak basecamp dengan jalur pendakian masih berkisar 2,5 km. Sepeda diparkir di rumah warga dengan biaya parkir seikhlasnya.

Yang membuat istimewa yaitu di Gunung Raung terdapat istilah Jembatan Shiratal Mustaqim. Jembatan ini sebenarnya gundukan tanah yang berukuran 1 jengkal dengan kanan kiri jurang. Dijuluki Jembatan Shiratal Mustaqim karena sempit dan menyeramkan. Melewatinya pun harus merangkak terlebih dahulu. Jembatan ini terdapat di perjalanan dari pos deden menuju puncak.

Pendakian dimulai dengan melewati perkebunan kopi dengan estimasi waktu satu jam sampailah di pos motor, setelah melewati kebun kopi disambut jalan setapak kecil dengan jalanan sedikit menanjak.

Jika tidak ingin terlalu capek tersedia jasa ojek yang mengangkut dari rumah warga menuju pos motor dengan biaya 25 ribu setiap orangnya. Terdapat beberapa pos yang dilalui saat pendakian Gunung Raung ini di antaranya pos motor, pos aborsi, pos sumur, pos demit, pos mayit, pos angin, pos deden, dan yang terakhir puncak.

Estimasi waktu perjalanan dari pos motor menuju pos aborsi sekitar 3 jam dengan medan jalan setapak menanjak sudut kemiringan 30 derajat. Dari pos aborsi menuju sumur hanya 10 menit dengan jalan setapak menanjak sudut kemiringan 20 derajat.

Pos sumur menuju pos demit membutuhkan waktu 3-4 jam dengan medan jalanan setapak menanjak sudut kemiringan 50-70 derajat. Pos demit menuju pos mayit membutuhkan waktu 30 menit dengan jalanan setapak menanjak sudut kemiringan 20-30 derajat. Pos demit menuju pos angin membutuhkan waktu 2-3 jam.

Setelah dari pos angin menuju pos deden hanya 30 menit. Pos deden merupakan batas vegetasi. Pos deden menuju puncak membutuhkan waktu 30 menit dengan medan bebatuan menanjak sudut kemiringan 40-50 derajat. Estimasi waktu perjalanan ini tentunya juga tergantung pada kecepatan jalannya juga.

Lelah terbayar setelah melihat pemandangan di puncak Gunung Raung. Puncak Gunung Raung memiliki kaldera terbesar se-Pulau Jawa. Lekukan indah relief-relief batu mengelilingi kaldera Gunung Raung. Sayangnya, terdapat batas waktu saat di puncak yaitu pada jam 10.00 semua pendaki harus sudah turun dari puncak. Aturan ini dibuat karena pada saat pukul 10.00 ke atas cuaca sering tidak stabil, terkadang juga terjadi badai.

Sebelum melakukan pendakian di Gunung Raung pastikan fisik benar-benar dalam keadaan sehat. Bawalah bekal makanan dan minuman secukupnya karena pendakian Gunung Raung via Bondowoso ini tidak terdapat sumber mata air.

Usahakan 1 orang minimal 3 botol. Mantel dan penghangat sangat diperlukan dalam pendakian Gunung Raung ini karena cuaca sangat mudah berubah-ubah. Untuk menambah stamina bawalah makanan yang manis-manis seperti madu, cokelat, atau gula.