Rabu, 05 Februari 2020

Komitmen Pemerintah Bawa Indonesia ke Puncak Wisata Halal Dunia

 Indonesia akhirnya menempati posisi pertama pada Indeks Wisata Halal Dunia atau Global Muslim Travel Index (GMTI) dengan skor 78. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan capaian ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah terhadap pariwisata, ditambah dengan langkah Kemenpar yang meluncurkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada pertengahan Februari 2019 lalu.

Menurut Arief, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia menempati rangking 1 pada GMTI. Atas dasar pemikiran itulah, ia kemudian menggagas IMTI bekerja sama dengan Mastercard-CrescentRating dengan acuannya tetap pada standar GMTI.

"Pergerakan muslim traveler di dunia sangat luar biasa. Indonesia punya komitmen tinggi untuk menjadi global player dalam hal pariwisata halal," ujar Arief, dalam keterangan tertulis, Minggu (14/4/2019).

Arief menambahkan, setidaknya ada 10 destinasi wisata halal yang dipilih dan dibina dalam bimbingan teknik menggunakan standar GMTI. Antara lain Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya).

Terkait perolehan skor tertinggi pada GMTI 2019, Arief menjelaskan terdapat 4 kriteria penilaian yang menjadikan Indonesia memperoleh Wisata Halal Terbaik Dunia. Dari penilaian tahun 2018 ke tahun 2019, semua nilai mengalami peningkatan. Prestasi ini tentunya tidak dicapai secara instan, melainkan naik secara berjenjang.

Dimulai pada 2015, Indonesia baru menempati rangking ke-6 GMTI. Kemudian tahun 2016 meningkat ke posisi 4, tahun 2017 di posisi 3, lalu tahun 2018 merangkak ke peringkat 2, hingga akhirnya di tahun 2019 ini bertengger di posisi terbaik GMTI.

Adapun 4 kriteria penilaian GMTI, yaitu pertama menyangkut soal akses yang meliputi persyaratan visa, konektivitas udara, infrastruktur transportasi. Kedua menyangkut komunikasi yang meliputi jangkauan, kemudahan komunikasi, dan kehadiran digital. Ketiga, soal lingkungan hidup yang meliputi keselamatan dan budaya, kedatangan pengunjung, dan iklim yang mendukung. Terakhir, soal Layanan yang meliputi kebutuhan inti/ makanan halal dan doa, hotel, bandara serta pengalaman unik.

"Konektivitas udara salah satu faktor penting. Karena 70 persen wisatawan asing datang menggunakan transportasi udara. Indonesia juga telah membangun 15 bandara baru, renovasi 27 terminal penumpang dan runway, serta meningkatkan layanan kereta api di lebih dari 232 rute Jawa dan Sumatera. Dalam hal ini, Indonesia memperoleh skor 63,3," bebernya.

Dalam hal komunikasi, lanjut Arief, Indonesia banyak memiliki pemandu wisata dan tour planner di masing-masing daerah, termasuk di 10 destinasi wisata halal. Promosi menggunakan digital dan penempatan media dalam jumlah besar juga jadi faktor penilaian. Usaha di bidang komunikasi ini membuahkan skor 83.

Pada kriteria selanjutnya, GMTI menyoroti atraksi 'muslim friendly' yang makin berkembang di 10 destinasi wisata halal Indonesia. Dari 2.289 atraksi alam, 755 di antaranya dianggap muslim friendly. Ada pula 1.260 atraksi budaya yang 705-nya muslim friendly, serta terdapat 1,238 Islamic heritage Site. Di sini, Indonesia mendapat skor 65,75.

Terkait layanan wisatawan, lanjut Arief, Indonesia memiliki 6.333 restoran bersertifikat halal, hotel halal dan hotel ramah muslim ada 68 yang bersertifikat halal, dan 118 hotel dengan dapur bersertifikat halal. Untuk kriteria ini, Indonesia memperoleh skor 77,8.

Lebih jauh Arief mengatakan, prestasi Indonesia sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia tahun 2019 jelas akan terus dipertahankan. Antara lain dengan mengawal implementasi IMTI 2019 yang mengacu standar global GMTI. Serta melakukan bimbingan teknis (bimtek) dan workshop di 10 destinasi pariwisata halal unggulan Tanah Air.

"Dalam dua tahun terakhir, IMTI telah melakukan penilaian kinerja 10 destinasi pariwisata halal unggulan yang menunjukkan terjadi peningkatan skor di masing-masing destinasi. Pada IMTI 2018, skor rata-rata sebesar 50, dengan skor tertinggi 58 diperoleh Lombok (NTB). Sedangkan pada IMTI 2019, terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 55, dengan skor tertinggi 70 masih dipegang Lombok (NTB)," ungkapnya.

Cantik! Air Terjun Bantimurung di Maros Menyala Warna-warni

Bagi warga Sulawesi Selatan, objek wisata alam Bantimurung di Maros tentu jadi salah satu yang terfavorit. Kabar terbaru, destinasi ini diubah makin cantik.

Saat ini, pihak pengelola terus melakukan inovasi untuk meningkatkan angka pengunjung. Salah satunya, mengubah tampilan Bantimurung menjadi lebih instagramable dengan sentuhan warna-warni di beberapa titik. Mulai dari pintu masuk, hingga menara yang ada di depan air terjun.

"Sejak dua bulan terakhir ini, memang kita fokus terus melakukan pembenahan. Salah satunya tampilan baru kita yang lebih fresh dan kekinianlah. Memang masih banyak yang harus dibenahi ke depannya. Dampaknya sejauh ini sudah cukup lumayan," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Muhammad Ferdiansyah pada detikcom, Minggu (14/04/2019).

Selain dari sisi tampilan, pengelola wisata alam yang sudah berumur satu abad ini juga telah melaunching wisata kuliner malam hari di Bantimurung tiap malam minggu. Kegiatan ini pun disambut baik oleh ribuan pengunjung yang datang menikmati suasana malam di Bantimurung ini.

"Semalam tercatat itu ada dua ribuan pengunjung yang datang di acara launching Bantimurung Culinary Night Festival. Ini dil uar dari prediksi kami yang hanya sekitar 500 orang saja. Ini memang pertama kali kita buat event malam di sini," lanjutnya.

Selain untuk meningkatkan minat wisata ke Bantimurung, kegiatan ini ditujukan untuk memberdayakan masyarakat lokal untuk menambah penghasilan meraka dengan menjual jajanan. Di ajang ini pun, pihak pengelola menggratiskan tiket masuk bagi pengunjung.

"Jadi ada jajanan, terus ada juga kita siapkan penampilan band akustik. Kita memang niatkan untuk pemberdayaan masyarakat lokal biar ada tambahan penghasilan dengan jual makanan. Tahap awal kita memang gratiskan tiket masuk bagi pengunjung sampai nanti kita evaluasi lagi," terangnya.

Yang tak kalah menarik, sorotan lampu warna-warni ke air terjun. Pemandangan ini unik karena memang tidak pernah dibuat sebelumnya. Ribuan pengunjung yang datang pun harus antre untuk berswafoto dengan latar belakang air terjun dengan sorot cahaya warna-warni.

"Kami penasaran, bagaimana pemandangan malam di Bantimurung ini. Memang kan tidak pernah dibuka kalau malam. Ternyata sangat indah setelah ditata begini. Kami sangat terkesan, apa lagi dengan air terjun yang disorot cahaya lampu. Pemandangannya sungguh unik dan istimewa," kata seorang pengunjung, Rianti.

Bagi para pengunjung, wajah baru Bantimurung ini tentu jadi hal yang positif. Jika dulunya mereka hanya bisa berfoto di depan air terjun, saat ini sudah banyak spot foto kekinian yang telah disiapkan oleh pengelola. Tiket masuk ke tempat ini, wisatawan lokal dikenakan harga sebesar Rp 25 ribu saja.

Komitmen Pemerintah Bawa Indonesia ke Puncak Wisata Halal Dunia

 Indonesia akhirnya menempati posisi pertama pada Indeks Wisata Halal Dunia atau Global Muslim Travel Index (GMTI) dengan skor 78. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan capaian ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah terhadap pariwisata, ditambah dengan langkah Kemenpar yang meluncurkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada pertengahan Februari 2019 lalu.

Menurut Arief, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia menempati rangking 1 pada GMTI. Atas dasar pemikiran itulah, ia kemudian menggagas IMTI bekerja sama dengan Mastercard-CrescentRating dengan acuannya tetap pada standar GMTI.

"Pergerakan muslim traveler di dunia sangat luar biasa. Indonesia punya komitmen tinggi untuk menjadi global player dalam hal pariwisata halal," ujar Arief, dalam keterangan tertulis, Minggu (14/4/2019).

Arief menambahkan, setidaknya ada 10 destinasi wisata halal yang dipilih dan dibina dalam bimbingan teknik menggunakan standar GMTI. Antara lain Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya).

Terkait perolehan skor tertinggi pada GMTI 2019, Arief menjelaskan terdapat 4 kriteria penilaian yang menjadikan Indonesia memperoleh Wisata Halal Terbaik Dunia. Dari penilaian tahun 2018 ke tahun 2019, semua nilai mengalami peningkatan. Prestasi ini tentunya tidak dicapai secara instan, melainkan naik secara berjenjang.