Rabu, 15 Januari 2020

Rentetan Kasus Bule Gembel di Indonesia

Kasus bule gembel tak hanya terjadi tahun ini saja. Telah ada beberapa kasus bule gembel yang kehabisan uang yang merepotkan pariwisata Indonesia.

Kasus bule gembel di Bali menyita perhatian beragam pihak. Mereka yang traveling dan kehabisan uang, kemudian mengemis meminta bantuan kepada penduduk lokal atau siapapun yang mau membiayai mereka.

Dirangkum detikcom, Senin (8/7/2019) fenomena bule kehabisan uang ini bukanlah yang perdana. Bule yang kehabisan uang, mengemis, mengais sampah hingga menumpang di truk juga ada.

1. Bule Bulgaria mengais sampah di Bali

Pada akhir bulan Oktober 2018, Toto bule asal Bulgaria kedapatan mengais sampah di Pantai Sanur Bali. Dia melakukan karena demi menghemat uang supaya dia dapat melanjutkan perjalanannya keliling dunia.

2. Ian luntang lantung di Tangerang

Warga Jabodetabek juga sempat dihebohkan oleh bule yang luntang lantung di Tanggerang pada Maret 2018 lalu. Nama bule ini adalah Ian Whiteley, bule Inggris yang hidup luntang lantung di Tangerang, Banten.

Warga yang kasihan pun sering mentraktir ngopi di salah satu warung kopi. Ian pun menepis bahwa dia tidak hidup luntang lantung, dia hanya sedang mencari istrinya dan dia punya uang dari hasil pensiunannya. Ia mengaku diusir oleh istrinya.

3. Bule Selandia Baru Nebeng Truk ke Cirebon

Pada tanggal 24 Februari 2018, dua orang Warga Negara Asing (WNA) asal Selandia Baru bernasib malang saat sedang pelesiran di Jakarta. Dua bule itu mengaku kehabisan ongkos saat hendak menuju Cirebon, Jawa Barat.

Seperti diinformasikan melalui akun Instagram TMC Polda Metro Jaya, dua bule itu ditemukan di tepi jalan. Kemudian polisi membantu WNA tersebut untuk sampai tujuannya ke Cirebon dengan menaiki sebuah truk.

4. Bule Ceko Tak Bisa Bayar Hotel

Pertengahan September 2017, dua bule Republik Ceko dan Slowakia kehabisan ongkos saat berada di Pekalongan, Jawa Tengah setelah berkeliling ke beberapa tempat wisata di Jawa Timur. Kedua turis bernama Nedomelel Petr, laki-laki asal Republik Ceko dan Bratska Jara perempuan asal Slowekia ini dari Jawa Timur berencana menuju Jakarta dengan bus.

Keberadaan dua bule ini diketahui petugas Kepolisian Resor Pekalongan, setelah mendapatkan laporan dari pihak hotel. Saat keduanya akan meninggalkan hotel ternyata mereka tidak mampu membayar.

Biaya hotel akhirnya digratiskan oleh pengelola. Selain itu, ongkos bus menuju Jakarta juga digratiskan. Polisi Pekalongan bahkan patungan untuk memberi uang saku bagi kedua bule tersebut.

5. Bule dengan kaki gajah di Surabaya

Pada September 2016 lalu, seorang bule asal Jerman Benjamis Holst ditangkap Satpol PP Surabaya karena kedapatan mengemis dengan mengadnalkan kaki gajah. Awalnya dia mengemis di Bali dan kemudian pindah ke Surabaya. Dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp 1 juta. Namun uangnya dia gunakan untuk foya-foya.

Sedot 100.000 Wisatawan, Perputaran Uang di ACF 2019 Capai 5 Miliar

Aceh Culinary Festival (ACF) 2019 yang telah digelar pada 5-7 Juli 2019 berhasil mendatangkan 100 ribu wisatawan. Adapun perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan festival tersebut tercatat mencapai Rp 5 miliar.

"Seperti yang kita harapkan, ACF 2019 mampu menjadi magnet wisatawan. Ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh pihak yang bahu-membahu mensukseskan acara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin dalam keterangan tertulis, Senin (8/7/2019).

Menurut Jamaluddin, ACF 2019 menyajikan berbagai kuliner khas dari 23 kabupaten dan kota yang ada di Aceh serta berbagai atraksi lainnya yang membuat festival semakin berwarna. Sehingga sejak hari pertama Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh tempat dilangsungkannya festival sudah penuh sesak oleh wisatawan. Berbagai atraksi dan kuliner inilah yang juga mampu mendatangkan wisatawan dari Aceh, berbagai kabupaten dan kota lainnya, maupun mancanegara.

"Tahun ini banyak terobosan yang kita hadirkan. Selain itu kita juga mengundang chef dan penggiat kuliner ternama sehingga ACF 2019 kian diminati wisatawan yang terus berdatangan setiap harinya," papar Jamaluddin.

Jamaluddin mencontohkan acara yang menarik wisatawan seperti Culinary Camp yang berisi 50 sesi demo masak, workshop, dan diskusi mengenai kuliner. Ada juga pertunjukan seni budaya serta live musik dari berbagai band ternama. Ramainya wisatawan yang terus membanjiri festival ini juga membuat penjual kuliner yang menjadi peserta ACF 2019 kebanjiran pembeli.

Selasa, 14 Januari 2020

Beli Tiket Pesawat Tapi Batal Terbang, Ada Solusinya

 Ingin memesan tiket pesawat, namun hangus karena tidak bisa ambil cuti atau ada halangan? tiket.com memberikan solusinya.

Salah satu ketakutan dalam memesan tiket pesawat untuk liburan adalah gagal terbang. Beragam alasan membuat tiket gagal dipakai, hingga tiket pesawat hangus.

Dalam jumpa pers, Kamis (11/7/2019) tiket.com meluncurkan fitur baru dengan nama 'Tiket Anti Galau'. Fitur ini membantu traveler yang sudah memesan tiket pesawat namun gagal terbang.

"Fitur 'Tiket Anti Galau' ini adalah fitur paling yang dibutuhkan semua orang. Di mana kamu bisa memesan tiket pesawat tanpa perlu khawatir batal terbang," ujar Gaery Undarsa, Co-Founder and Chief Marketing Officer tiket.com.

Garry juga mengatakan bahwa pembatalan ini bisa dilakukan menjelang 4 jam sebelum jam terbang. Nanti uang konsumen akan dikembalikan up to seratus persen.

"Jika kamu batal terbang, bisa membatalkan penerbangan 4 jam sebelum terbang melalui aplikasi tiket.com. Nanti konsumen akan tetap mendapatkan refund hingga 100 persen. Hingga konsumen bisa lagi atur perjalanannya," tambah Gaery.

Tambahnya lagi fitur ini untuk di awal hanya bisa digunakan untuk penerbangan domestik saja. "Di awal launching ini, fitur hanya bisa digunakan pada penerbangan domestik. Dalam waktu dekat kami akan luncurkan juga untuk penerbangan internasional. Fitur ini bisa dilihat di aplikasi tiket.com," ujar Gaery.

Petualangan ke Gunung Dempo di Pagaralam

Mendaki Gunung Dempo di Pagaralam, Sumatera Selatan adalah pengalaman traveling yang luar biasa. Lelah fisik dan mental akan terbayar dengan pemandangan dahsyat.

Penulis mencoba menceritakan pengalaman perdana mendaki gunung dempo yang berada di Pagaralam, Sumatera Selatan. Awal cerita pendakian dimulai dengan adanya kabar dari adik sepupu penulis yang berada di Lahat memberi kabar bahwa karang taruna di tempat tinggalnya akan mengadakan pendakian Gunung Dempo yang dijadwalkan H+4 setelah Lebaran.

Singkat cerita pada H+3 Lebaran tepat pada hari Sabtu, penulis bersama 11 orang lainnya terdiri dari 8 orang laki-laki dan 3 orang perempuan berangkat ke Pagaralam mengunakan kendaraan bermotor. Setelah perjalanan sampai di wilayah Pagaralam, ada 1 perempuan yang bergabung dengan kami langsung menuju ke pasar yang ada di Pagaralam untuk membeli bekal pada saat pendakian. Setelah dari pasar, penulis dan rombongan langsung menuju ke Kampung IV untuk beristirahat menyiapkan segalanya untuk pendakian besok pagi.

Setelah sampai di Kampung IV, penulis beserta rombongan menginap di sebuah rumah. Pada saat ingin beristirahat, datang 1 orang untuk menginap bersama kami karena katanya dia ditinggal oleh rombongannya. Pada tengah malam, kami kedatangan 2 orang lagi untuk mendaki Gunung Dempo keesokan harinya. Jadi total 14 orang yang akan mendaki Gunung Dempo.

Hari yang ditunggu pun tiba, sebelum melakukan pendakian, kami melakukan packing ulang barang-barang yang telah dikeluarkan pada saat istirahat semalam. Setelah itu kami sarapan pagi di warung yang merupakan warung satu-satunya di Kampung IV. Pada pukul 08.00 pagi, kami memulai pendakian ke Gunung Dempo dengan semangat dan gembira karena kebanyakkan kami pendaki pemula yang ingin menaklukkan Gunung Dempo. Dari Kampung IV ke titik pendakian awal memakan waktu sekitar kurang lebih 40 menit yang melewati perkebunan teh yang sangat sejuk di pagi hari.