Jumat, 10 Januari 2020

Mengapa Jepang Disebut 'Negeri Matahari Terbit'?

Tiap negara di dunia punya julukan masing-masing. Misalnya Jepang terkenal dengan nama 'Negeri Matahari Terbit', mengapa disebut seperti itu?

Jepang sudah jadi impian traveler dunia, apalagi traveler Indonesia. Jepang memiliki banyak atraksi wisata dari bentang alam yang indah, budaya yang khas, kuliner sampai sebagai surga belanja.

Negeri Matahari Terbit, sudah melekat bagi Jepang. Julukan negaranya, yang rasanya semua orang tahu. Tapi tunggu, apakah kamu tahu kalau ada sejarah panjang mengenai julukan itu?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Rabu (24/7/2019) pada masa-masa sebelum tahun Masehi, kekaisaran China lebih maju, lebih berkuasa dan lebih hebat dibanding kekaisaran Jepang. Saat itu, Jepang disebut dengan nama Wa yang artinya kerdil.

Meski begitu, orang-orang China pun kala itu menyebut Jepang sebagai tempat matahari terbit. Sebab posisi Jepang berada di timur China, sehingga matahari terbit lebih dulu terlihat dari sana.

Ada sejarah panjang antara China dan Jepang di awal-awal tahun Masehi. China sebagai negara maju saat itu, menjadi 'kiblat' orang-orang Jepang dalam segala hal. Singkat katanya, Jepang belajar dari China.

Di sekitar abad 6 Masehi, Pangeran Shotoku menyerap banyak pengaruh China dalam kehidupan Jepang seperti sistem administrasi dan lainnya. Bisa dibilang, Pangeran Shotoku sangat nge-fans dengan China.

Bahkan dia tahu, kalau sebenarnya orang-orang China menyebut Jepang dengan sebutan tempat matahari terbit. Barulah dia kemudian mengganti Jepang yang semula dikenal dengan nama Wa, menjadi Nihon atau juga disebut Nippon yang memiliki arti 'asal muasal matahari'.

Namun, rupanya Dinasti Sui yang berkuasa di China ketika itu, tidak menyukai nama tersebut. Apalagi ketika Pangeran Shotoku mengirim surat Kaisar Yang dengan tulisan 'Anak dari Surga yang muncul di tempat matahari terbit'.

Masalahnya, Dinasti Sui juga mengklaim bahwa merekalah 'Anak dari Surga'. Sehingga ada konflik saat itu, yang mana orang-orang Jepang tetap pada pendiriannya. Malah mereka menambahkankan nama Nippon, menjadi Dai Nippon. Dai memiliki arti lebih hebat.

Di abad ke-8, Dinasti Sui digantikan Dinasti Tang. Permaisuri Wu Zetian (satu-satunya wanita yang menjadi kaisar di China), tidak mau ambil pusing. Dia mempersilakan Jepang memakai kata Nippon.

Dari situlah, Jepang dikenal dengan sebutan Negeri Matahari Terbit. Matahari melekat di segala kehidupan orang Jepang, termasuk bendera kenegaraannya.

Bendera negara Jepang disebut dengan nama 'Nisshoki' yang memiliki arti bendera tanda matahari. Orang Jepang lebih suka menyebutnya 'Hinomaru' alias lingkaran matahari.

Sudah ribuan tahun, julukan Negeri Matahari Terbit menjadi julukan Jepang. Hingga kini pun, julukan tersebut masih terus menjadi kebanggaan penduduknya.

Cerita Vlogger Jepang Kulineran di Restoran Mewah Apung Pulau Rinca

Peserta familirization trip (famtrip) media Jepang dibuat terkesan saat bertandang ke Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak hanya mengunjungi destinasi favorit seperti Pulau Rinca, mereka juga dijamu dengan beragam kuliner spesial di Plataran Komodo Beach Resort (PKBR).

Sebelumnya, peserta Famtrip menginap di Live On Board Kapal Sea Safari yang juga punya pelayanan yang berkelas. Adapun PKBR, dirancang untuk memberi pengalaman relaksasi yang baik. Intim namun lapang. Setiap vila memiliki taman tropis pribadi. Lengkap dengan layanan pribadi, keamanan terjamin, dan terdapat Xanadu Restaurant and Bar. Di sinilah lidah peserta famtrip dimanjakan.

"Ini tempat makan spesial. Area yang menarik dengan tema alam terbuka. Layanan dan menu yang disajikan dapat memuaskan beragam selera. Tempat ini juga memiliki pemandangan laut yang sangat indah," kata perwakilan dari Hokuriku Asahi Broadscasting, Kazuhiko Hamasaki, dalam keterangannya, Rabu (24/7/2019).

Xanadu Restaurant and Bar memang tempat berkelas di tengah PKBR yang mewah. Terletak di pantai yang tenang, dengan pemandangan Laut Flores yang mempesona.

"Menu-menu yang disajikan juga beragam. Bukan hanya masakan tradisional Indonesia, tapi ada pula seafood yang lezat dan masakan internasional. Pengunjung tak perlu bingung jika makan di tempat ini. Semua enak!," timpal Kotoe Onda, rekan sekantor Kazuhiko Hamasaki.

Hampir semua peserta famtrip betah berlama-lama di sini. Maklum, Plataran Komodo Beach Resort adalah gambaran taman laut yang terlindung. Di sini, wisatawan bisa melakukan aktivitas menyelam atau snorkling. Menikmati keindahan terumbu karang dan biota laut dari dalam air.

Kamis, 09 Januari 2020

Kereta Mati, Ratusan Penumpang Terjebak Seperti di Neraka

Cuaca panas ektsrem terjadi di beberapa negara di Eropa, salah satunya Belgia. Dampaknya, kereta sampai mati dan penumpang terjebak kepanasan sampai pingsan.

Di Paris, turis masuk ke kolam Menara Eiffel karena suhu panas yang ekstrem. Masih tentang cuaca panas ekstrem, Belgia juga kebagian sial.

Dilihat detikcom dari Media Internasional The Sun, Jumat (26/7/2019) panasnya cuaca di Belgia tak menyurutkan turis untuk berwisata dengan kereta Eurostar.

Namun cuaca ekstrem membuat gelombang panas di seluruh area Belgia. Saking panasnya, darurat cuaca ini ditandai dengan kode merah.

Hal ini membuat listrik di Tubize padam, sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Kereta Eurostar yang berangkat dari Brussel menuju London pun kena getahnya.

Kereta yang membawa 700 penumpang ini harus berhenti di tengah jalan. Pendingin udara pun seketika mati. Tapi penumpang masih belum dievakuasi dari dalam gerbong karena cuaca panas.

Saat itu suhu di luar ruangan mencapai 38 derajat celsius, sebuah rekor untuk Belgia. Bayangkan, di dalam gerbong tanpa pendingin udara, suhu bisa mencapai 60 derajat Celsius.

Tak dipungkiri, satu persatu penumpang mulai kehabisan oksigen dan pingsan. Pendingin udara terus dipaksa untuk dinyalakan, tapi tak ada hasil.

Penumpang diminta untuk tetap tenang karena petugas menjanjikan kereta penyelamat. Penumpang akhirnya diminta untuk keluar dari gerbong yang panasnya seperti neraka.

Setelah dua jam menunggu, kereta penyelamat tak juga datang. Para penumpang mengantre dalam barisan di dalam sebuah terowongan, menunggu untuk diselamatkan.

Tak ingin ada korban lagi, pihak kereta Eurostar pun memutuskan untuk membatalkan semua jadwal ke Belgia hari itu. Kereta dengan tujuan London dari Belgia juga ikut dibatalkan.

"Kami sedang berupaya menyelesaikan ini sesegera mungkin, dan kereta lain telah dikirim dari Brussels. Calon penumpang dengan pemesanan sore ini harus memeriksa situs web kami apakah ada pembatalan lainnya dan kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan," ujar juru bicara Eurostar.

Setelah penantian yang cukup menyiksa, kereta penyelamat akhirnya tiba.

6 Fakta MesaStila, Resor Mewah Bekas Stasiun Kereta di Magelang

Resor di Kabupaten Magelang ini dibikin dari bekas stasiun. Namun, kesan mewan tetap ada di MesaStila.

Inilah 6 fakta yang mengupas MesaStila, seperti dirangkum detikcom, Jumat (26/7/2019). Berikut daftarnya:

1. Dikelilingi Gunung Merapi hingga Merbabu

Resor ini ada di perbukitan. Asri, itulah kesan pertama dengan pepohonan rindang dan gerombolan pohon bambu yang menjulang tinggi kehijauan.

MesaStila berlokasi di Desa Losari, Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Resor ini dikelilingi oleh beberapa gunung, yakni Merbabu, Merapi, Andong hingga Telomoyo. Hawa sejuk hingga dingin pasti dirasakan para tamu.

2. Kamar hotel berkonsep villa

Kamar-kamar di sini berupa vila sebanyak 23 buah. Bangunannya adalah rumah bedolan rumah Jawa jenis Joglo yang diperoleh dari Semarang, Bawen, Solo, Demak hingga Kudus.

Jadi, kalau kamu menginap di sana akan merasa tinggal di pedesaan. Namun, kesan mewah akan terlihat di fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kamarnya, mulai dari bathub, tempat tidur dan lainnya.

Untuk diketahui, saat musim liburan MesaStila biasa diinapi pengunjung sebanyak 800-1.000 orang. Mereka yang datang biasanya dari Italia dan Prancis.

3. Koleksi bangunan tua dan stasiun milik PT KAI

Ada bangunan berupa Stasiun Mayong, Jepara. Bangunan dari tahun 1983 dan juga hanggar.

Stasiun Mayong, Jepara yang milik PT KAI dan masih 95% persen asli. Hanya beberapa bagian bangunan saja yang diganti karena dimakan usia.

Vila-vila untuk menginap dan bangunan pendukung lainnya menempati 11 hektar dari total 22 hektar luas lahan.