Jumat, 10 Januari 2020

Selamat! Ini 3 Pemenang d'Traveler of The Month Juni

Bulan Juni menjadi momen para traveler bertualang. Inilah 3 pemenang d'Traveler of The Month yang mendapatkan hadiah total jutaan rupiah.

detikTravel punya kompetisi bulanan d'Traveler of The Month untuk para member travel blogger detikTravel yang disebut d'Traveler. Mereka menulis artikel dan mengirimkan foto perjalanan. Kompetisi ini memilih juara dari 3 kategori yaitu:

1. Most Shared: artikel yang paling banyak disebar di media sosial
2. Most Published: penulis terbanyak bulan tersebut
3. Most Read: artikel yang paling banyak dibaca orang bulan tersebut.

Hadiahnya juga mantap lho!
Most Shared berhadiah Rp 2 juta
Most Published berhadiah Rp 2 juta
Most Read berhadiah Rp 1 juta

Bulan Juni pun mungkin menjadi bulan yang paling ramai untuk traveling. Pertama, kita ada momen libur Lebaran di mana semua orang pulang ke kampung halaman. Kedua ada momen liburan kuliah dan sekolah.

Redaksi pun menerima banyak tulisan cerita perjalanan dan kiriman foto-foto cerita perjalanan baik di dalam maupun di luar negeri dari para d'Traveler. Setelah dilakukan penilaian, inilah tiga juara d'Traveler of The Month bulan Juni yaitu:

1. Most Shared: Karina Kusuma
Dengan artikel: Luwuk, Surga Tersembunyi di Sulawesi Tengah

2. Most Published: Fadhil Nugroho (26 artikel)

3. Most Read: Feni Novida Saragih
Dengan artikel: Siapa Sangka, Pulau Seindah Ini Ada di Jakarta

Selamat kepada Karina, Fadhil dan Feni! detikTravel akan menghubungi para pemenang untuk kordinasi lebih lanjut.

Mau menang seperti mereka? Kamu bisa ikutan untuk beradu dalam d'Traveler of The Month Juli yang akan diumumkan pada bulan Agustus mendatang. Periode lombanya dari tanggal 1-31 Juli 2019.

Kalau kamu mau menang kategori Most Shared, sebar sebanyak-banyaknya artikel kamu yang sudah tayang, kalau perlu kasih tahu teman dan saudara untuk bantu menyebarkannya. Kalau mau menang kategori Most Published, menulislah sebanyak-banyaknya. Selain itu, menulis dan memotretlah sebagus mungkin supaya banyak dibaca orang dan menang kategori Most Read.

Ayo-ayo, kirim artikel cerita perjalanan kamu atau kirimkan artikel foto perjalanan kamu. Bikin yang bagus, bikin yang banyak dan sebar yang banyak. Jadilah pemenang d'Traveler of The Month periode selanjutnya! Info lengkap, klik DI SINI.

Pendaki, Yuk Coba Jalur Baru Ke Puncak Lawu!

Puncak Lawu membuka jalur baru via Singolangu. Meski belum diresmikan, jalur ini sudah mencuri hati para pendaki.

Bagi anda yang suka menaklukkan puncak gunung dengan pendakian, wajib mencoba jalur baru di gunung Lawu. Jalur baru ini diberi nama jalur Singolangu, karena berada di Dusun Singilangu, Desa Sarangan Kecamatan Plaosan, Magetan.

"Memang untuk pendakian ke puncak Lawu ada jalur baru yang di buka untuk umum. Diberi nama jalur pendakian Singolangu yang berada di daerah Sarangan," ujar Kasi Kedaruratan dan logistik BPBD kabupaten Magetan Fery Yoga Sahputra, kepada detikcom di kantornya, Rabu (24/7/2019).

Lokasi jalur pendakian Singolangu ini kata Fery berjarak sekitar 10 Km dari jalur pendakian lama, Cemoro Sewu perbatasan Magetan Jawa Timur dengan Karanganyar Jawa tengah. Jalur ini, lanjut Fery, hanya berjarak sekitar 2 Km dari obyek wisata telaga Sarangan.

"Dari lokasi jalur Cemoro Sewu dengan jalur yang baru Singolangu ini sekitar 10 Km. Dekat dengan telaga sarangan lokasi pintu masuk," katanya.

Diungkapkan Fery jalur Singolangu ini memiliki jarak sekitar kurang lebih delapan kilometer hingga puncak Sendang Drajat, atau pos lima Gunung Lawu.

Dari pos lima sendang Drajat itu pendaki masih melanjutkan perjalanan sekitar dua kilometer menuju Hargo Dalem dan Hargo Dumilah sebagai puncaknya Gunung Lawu.

"Jaraknya sekitar delapan kilometer sampai puncak Sendang Drajat. Perjalanan waktu sekitar delapan sampai sembilan jam," ujarnya.

Tiap menuju lima pos yang ada memiliki ciri khas pemandangan masing-masing yang dapat membuat pendaki takjub. Misalnya hamparan Bunga Eidelweis hingga tembus ke Sendang Drajat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nedi warga setempat yang juga merupakan petugas BPBD yang ikut memantau lokasi pendakian Singolangu. Menurutnya jalur pendakian ke puncak Lawu via Singolangu memang masih baru dan belum di launching secara resmi.

"Untuk launching resmi belum tapi memang sudah dibuka insiatif warga bersama pihak perhutani juga BPBD dalam pemantauan," tutur Nedi.

Pria 35 tahun itu mengaku sejak di buka sekitar hampir dua bulan lalu setelah lebaran, jumlah pengunjung sudah mencapai seribu lebih.

"Pengunjung sudah seribu lebih sejak pasca lebaran. Karena libur sekolah jadi lumayan ramai," paparnya.

Banyuwangi Raih Platinum di Indonesia's Attractiveness Index 2019

Kabupaten berjuluk The Sunrise of Java, Banyuwangi berhasil meraih Platinum di Indonesia's Attractiveness Index 2019. Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang meraih prestasi award Platinum dengan menjadi yang terbaik dalam sektor infrastruktur dan pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, di Banyuwangi kedua sektor tersebut telah berjalan dengan baik dan berkontribusi secara langsung terhadap pembangunan daerah. Sehingga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, terciptanya lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan daerah, juga sekaligus bisa menaikkan tingkat konsumsi masyarakat di daerah.

"Pengukuran IAI 2019 menggunakan empat dimensi yaitu investasi, insfrastruktur, pariwisata dan pelayanan publik. Seluruh dimensi penilaian dilakukan berdasarkan data sekunder dan data primer. Kecuali pelayanan publik yang dinilai berdasarkan data primer," ujar Arief, dalam keterangan tertulis, Rabu (24/7/2019).

Dalam acara Indonesia Attractiveness Index (IAI) 2019 yang digelar Pullman Hotel Jakarta, Selasa (23/7/2019) malam itu, Arief menilai keputusan Banyuwangi menjadikan pariwisata sebagai leading sektor dinilai sudah sangat tepat. Sebab, Banyuwangi memiliki potensi alam yang sangat luar biasa, begitu juga dengan potensi budayanya.

"Saat ini Banyuwangi sudah pada track (jalur) yang benar menempatkan pariwisata sebagai leading sector (sektor terdepan) dalam pembangunan daerahnya," ujarnya

Apalagi, lanjut Arief, pariwisata adalah masa depan bangsa. Pariwisata sedang berproses menjadi peringkat pertama penyumbang devisa terbesar buat daerah.

"Saya tidak khawatir dengan atraksi Banyuwangi. Karena, budaya dan alam Banyuwangi memiliki modal besar untuk menjadi yang terbaik di dunia. Banyuwangi sudah ditetapkan sebagai Kota Festival Terbaik di Indonesia. Karena, memiliki jumlah festival yang sangat banyak. Banyuwangi juga memiliki Ijen dengan Blue Fire-nya. Destinasi yang tidak dimiliki daerah lain," ujar Arief.

Untuk infrastruktur, lanjut Arief, Banyuwangi hingga saat ini terus menggenjot, seperti akses udara, pembangunan Bandara Banyuwangi masih terus dilakukan. Pelebaran Apron sudah jadi sebelum IMF-World Bank Meeting, dari sebelumnya 3 parking stand narrow body, sekarang Bandara Banyuwangi punya 9 narrow body.

Tidak hanya itu, pelebaran runway juga turut dilakukan. Lebar runway yang sebelumnya 30 meter, kian diperluas menjadi 45 meter dengan progres sudah mencapai 70%. Proyek ini ditargetkan selesai Juli 2019. Perpanjangan runway juga dilakukan. Dari 2.250 meter menjadi 2.500 meter, target selesai Desember 2019.

"Dari dulu salah satu kelemahan Banyuwangi adalah akses. Untuk akses darat, jalan tol direncanakan akan beroperasi pada tahun 2021. Untuk Bandara Banyuwangi, sudah memiliki status bandara international. Namun, secara fisik masih harus ditingkatkan kualitasnya," papar pria yang juga kelahiran Banyuwangi ini.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan data sekunder untuk dimensi investasi, insfrastruktur dan pariwisata berasal dari berbagai instansi seperti BKPM, BPS, Bank Indonesia dan kementerian. Sedangkan untuk data primer dilakukan dengan cara mystery calling terhadap 12 institusi di masing-masing kota/kabupaten.

"Dari data yang berhasil dihimpun oleh tim penilai, Banyuwangi dinyatakan lolos verifikasi dan akhirnya meraih penghargaan Indonesia Attractiveness Index Award 2019," ujar Anas.

Sektor pariwisata juga merupakan salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memberikan kontribusi yang besar bagi Banyuwangi. Banyuwangi mampu menarik turis dari dalam negeri maupun mancanegara telah memberikan pemasukan yang besar. Sehingga meningkatkan pajak daerah dan menggairahkan ekonomi setempat baik sektor perdagangan, transportasi, akomodasi, dan lainnya.

Berkat pembangunan pariwisata, lanjut Anas, Banyuwangi berhasil menekan angka kemiskinan yang sebelumnya di atas 15 persen, kini tinggal 7 persen. Selain itu, peningkatan pendapatan daerah juga melonjak 134 persen.

"Produk domestik bruto juga mengalami kenaikan dari Rp 32 triliun, menjadi Rp 78 triliun. Kemudian pendapatan perkapita rakyat Banyuwangi naik dari Rp 20,8 juta menjadi Rp 48,7 juta," imbuh Anas.

Sebagai informasi, penghargaan Indonesia Attractiveness Index (IAI) 2019 ini diberikan dalam 4 kategori sektor yaitu Infrastruktur, Investasi, Pariwisata, dan Pelayanan Publik. Award ini juga diberikan dalam berbagai kategori di antaranya Provinsi, Kabupaten dan Kotamadya dengan indikator daerah dengan skala ekonomi berdasar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kategori kecil, sedang, dan besar.

Daerah dengan Index tertinggi sebagai juara 1 menerima award Platinum. Dan daerah dengan Index terbaik kedua menerima award Gold.