Kamis, 02 Januari 2020

Sembunyikan Pisau di Buket Bunga, Traveler Ini Kena Hukum

Ada-ada saja akal traveler yang ingin menyeludupkan barang yang dilarang terbang. Seperti traveler ini, yang seludupkan pisau disela-sela tangkai bunga.

Ragam ulah penumpang, ragam juga bawaannya yang harus disita oleh petugas keamanan bandara. Seperti yang terjadi di Seattle-Tacoma International Airport ini.

Dilansir detikcom dari beragam sumber, Senin (12/8/2019) petugas kemanan bandara Amerika Serikat atau dikenal juga dengan TSA (Transportation Security Administration) menyita sebuket bunga dari seorang penumpang. Ternyata dia menyembunyikan pisau di dalam buket.

Kejadian bermula ketika seorang penumpang diberhentikan petugas setelah melewati pemeriksaan bagasi. Dia dihentikan karena ada masalah dalam bawaannya.

Setelah di cek, ternyata penumpang menyembunyikan pisau dalam buket bunga yang dibawanya. Dia pun dikenakan hukum perdata karena membawa senjata tajam.

Hal ini pun diterangkan juga oleh TSA dalam Instagramnya. Bahwa mereka melakukan pemriksaan pada tanggal 23 Juli lalu pada tas jinjing dsan mendapati pisau yang tersembunyi ini.

Mengenal Mumi Papua yang Belum Banyak Orang Tahu

Mungkin belum banyak orang yang tahu, Papua punya Mumi. Warisan dari leluhur ini menjadi salah satu bukti betapa kayanya budaya Papua.

"Ada 5 suku di Papua yang punya tradisi kematian berupa jenazah dijadikan mumi yaitu suku Mek di Pegunungan Bintang, suku Dani di Lembah Baliem, suku Moni di Intan Jaya, suku Yali di Kurima dan suku Mee di Dogiyai," kata peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada detikcom, Senin (13/8/2019).

Hari menjelaskan, jenazah yang dijadikan mumi bukanlah jenazah orang sembarangan. Biasanya, merupakan jenazah seseorang yang dinilai berjasa bagi sukunya, baik itu merupakan kepala suku, panglima perang atau orang yang sangat dihormati.

"Ada tahapan-tahapan dalam mempersiapkan dan menangani mumi, yaitu menunjuk anggota suku yang bertugas mengerjakan proses pemumian, menyiapkan kayu bakar, dan menyiapkan honai sebagai tempat pelaksanaan pemumian," terangnya.

Dalam proses pengerjaan mumi, terlebih dahulu mayatnya diasap dengan kayu bakar. Sebelum pengasapan dilakukan, dipersiapkan babi yang baru lahir sebagai tanda waktu.

Waktu pengasapan berlangsung adalah sejak babi lahir sampai babi tersebut mempunyai taring yang panjang. Setelah selesai pengasapan, kemudian dilakukan upacara-upacara untuk memandikan para petugas, pelepasan mumi dengan memotong babi yang digunakan sebagai tanda waktu dan mengalungkan ekor babi yang dipotong tersebut ke leher mumi. Setelah semua proses pengerjaan mumi selesai, maka diakhiri dengan pesta bakar batu.

Menariknya, ada satu proses lain dalam pemumian di Papua. Suku Mek, menaruh jenazah di atas pohon selama satu tahun sehingga menjadi mumi secara alami.

"Cuaca yang dingin di atas pohon menjadikan jenazah terawetkan secara alami. Baru setelah itu, diturunkan dan ditaruh di dalam gua," terang Hari.

Jadi ada dua metode pemumian di Papua, yakni diasapi dan ditaruh di atas pohon. Kemudian, muminya ada yang ditaruh di dalam honai (rumah tradisional Papua) dan ada di dalam gua.

"Kalau dilihat, mumi-mumi di Papua itu posisinya duduk. Alasannya dalam konsep prasejarah, penguburan dalam posisi duduk ibarat bayi dalam kandungan," terang Hari.

Pasar Wisata Digital Dayeuh Manggung Sajikan Atraksi Anak Disabilitas

Pariwisata di Garut terus digenjot oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar), salah satunya yang terjadi pada Dayeuh Manggung. Di tempat ini, bakan ada destinasi wisata digital yang akan di buka pada Selasa (13/8/2019).

Menurut Bupati Garut Rudy Gunawan, destinasi baru tersebut akan semakin memperkuat objek wisata lain yang lebih dulu eksis. Hal itu karena Pasar Wisata Digital Dayeuh Manggung menawarkan konsep yang sangat unik dan kekinian. Bukan hanya menyediakan spot-spot yang instagramable, tetapi juga menghadirkan beragam pertunjukan yang pastinya menghibur semua pengunjung.

"Acaranya seru dan tidak membosankan. Ada atraksi pencak silat, pertunjukan karawitan gending, arumba sonagar, jaipong, seni bangreng, dan lain-lain," ujar Rudy, dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2019).

Selain itu, lanjut Rudy, Perkumpulan Sabilulungan turut berpartisipasi dengan menghadirkan atraksi dari anak-anak disabilitas yang selama ini menjadi binaan anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah. Mereka menunjukkan kepiawaiannya dalam menguasai jurus-jurus seni beladiri pencak silat, termasuk memainkan alat musik angklung.

"Sebagai pasar wisata digital, Dayeh Manggung juga menghadirkan aneka kuliner khas Garut yang menggugah selera. Ada atraksi minum teh, prosesi minum kopi, dan kemunculan noni-noni serta tampilan demang di dalam prosesi seni," imbuhnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut Budi Gan Gan menambahkan Dayeuh Manggung membuat destinasi wisata di daerahnya semakin beragam dan semarak. Ada banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, baik setelah menghadiri pembukaan Pasar Wisata Digital Dayeuh Manggung, atau lain waktu di kesempatan yang berbeda.

"Untuk pecinta wisata alam, bisa mengunjungi Kawah Telaga Bodas dan Hutan Mati Papandayan. Keduanya cukup populer di kalangan traveler karena menyajikan pemandangan alam yang sangat indah dan tak biasa," ucapnya.

Budi menjelaskan, Kawah Talaga Bodas merupakan objek wisata pegunungan. Terdapat danau kecil atau talaga yang terbentuk di bekas kawah Gunung Talaga Bodas. Kawah ini masih mempunyai aktivitas vulkanik, namun sudah tidak berbahaya dan aman dikunjungi.

Di sini, pengunjung bisa menemukan suasana sejuk dan pemandangan yang menyegarkan mata. Lokasi kawah berada sekitar 28 km dari ibu kota Garut dan relatif mudah dijangkau dengan kendaraan.

Sementara Hutan Mati Papandayan, merupakan destinasi unik yang tak akan ditemui di daerah manapun. Hutan ini menjadi saksi nyata kedigdayaan Gunung Papandayan yang meletus pada tahun 2002. Pepohonan di sana mati terbakar karena awan dan abu panas yang menyelimuti lereng gunung tersebut.

"Kini, kawasan hutan ini menyajikan pemandangan pohon-pohon yang kering tanpa daun. Meski terkesan agak suram, hutan mati memiliki daya tarik tersendiri. Untuk melihatnya, wisatawan bisa datang ke Karamat Wangi, Kecamatan Cisurupan," bebernya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mendukung pembukaan Pasar Wisata Digital Dayeuh Manggung. Menurutnya, destinasi digital merupakan langkah tepat untuk mengangkat sebuah destinasi.

"Destinasi digital memungkinkan kita menyerap lebih banyak wisatawan, bahkan turis mancanegara. Setiap kita membuat destinasi digital, ribuan orang datang ke sana. Destinasi digital telah memenuhi kebutuhan para netizen, terutama kaum milenial," jelasnya.

Arief menegaskan kebutuhan seperti ini adalah kebutuhan untuk diakui. Tidak hanya terjadi di anak muda, tapi juga orang tua.