Rabu, 18 Desember 2019

Pesona Negeri Laskar Pelangi yang Tak Pernah Pudar

Film Laskar Pelangi meamng hebat, tak dari ceritanya saja, namun juga lokasi syutingnya. Yuk main ke sana.

Setelah Lihat Film ""Laskar Pelangi" Jadi Penasaran sama Tempat syutingnya, karena tempat-tempatnya yang keren,

Saya dan teman-teman putuskan untuk mengunjungi tempat ini, karena ongkos dan akomodasi tidak sedikit butuh waktu beberapa bulan untuk terlaksananya dengan nabung dikit-demi sedikit.

Planing ke Belitung ini kami rnerencanakannya 3-4 bulan sebelum terbang kesana diawali membeli tiket Penerbangan promo pada akhir bulan Desember 2016 dan baru bisa berangkat pada Bulan Mei 2017 1 minggu sebelum Puasa.

Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung pandan ditempuh selama kurang lebih 50 menit. Pukul 07.00 pagi saya sudah mendarat di Bandar Udara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Selepas bandara kami menuju Tanjung Pandan pusat kotanya karena di sana hotel kami menginap, Mobil dan hotel pun sudah disiapkan sebelum kami berangkat sehingga tidak buang-buang waktu untuk mencari lagi.

Oh iya, untuk ke Tanjung Pandan selain sewa mobil ada juga travel dan taksi saya lihat tertera harga ke Tanjung Pandan Rp 40 ribu, hanya sekitar 25 menit perjalanan.

Destinasi kami yang Pertama ke Pantai Burung Mandi. Butuh waktu hampir 2 jam dari Tanjung Pandan ke Pantai Burung Mandi. Dua jam tidak berasa lama di sana karena jalanan yang sepi, aspal halus dan pemandangan yg alami membuat terbuai sehingga perjalanan tidak berasa lama.

Sampai lah dipantai tidak begitu ramai di sini kami hanya bersantai sejenak berfoto-foto ria sambil menikmati kelapa muda.

Destinasi ke Dua Menurut saya ini icon disini terkenal dari film Laskar Pelangi yaitu 'Replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi'. Di sini hanya ada bangunan dari papan-papan kayu dan lantai pun peluran kasar sekitar halaman terdapat pasir putih yang membuat indah ternyata ini adalah bangunan sekolahan SD.

Bangunan ini tidak digunakan tiap harinya ini adalah bangunan untuk Syuting Film Laskar Pelangi saja. Apa daya seorang berwisata tanpa foto-foto itulah yang kami lakukan.

Destinasi ke Tiga yaitu"Museum Kata Andrea Hirata"kami pun tidak masuk kedalam hanya berfoto-foto diluar.

Di Belitung jangan lupa mencicipi Kopi Broo. Sore ternyata bergegas kami balik ke Hotel untuk rehat sejenak.


Destinasi ke empat ke Pulau Pasir, di tengah-tengah laut terdapat gundukan pasir putih dengan air yang jernih memanjakan mata kita menakjubkan pantai sebersih dan seindah ini baru saya temui di sini. Mengabadikan moment ambil sebanyak-banyak mungkin fotonya di sini. 1 jam sudah kami mainan disini kami lanjutkan ketempat yang lain.


Destinasi ke Lima Tujuan kami adalahPulau Batu Berlayar, disni terbentang bebatuan kapur yang sangat besar, kita dapat berfoto dari atas bebatuan tersebut. Batunya seperti ditata tapi ini bener alami alam yang membuat sendiri. Disini kami hanya menyempatkan berfoto-foto saja dan langsung melanjutkan ketempat lain.

Destinasi ke enam yaitu Pulau Garuda dan Pulau Kelayang dan Pulau Lengkuas (Snorkling). Pulau Garuda ternyata tidak dapat dijamah karena perahu tidk dapat menepi karena bebatuan, menikmati Pulau Kelayang sambil makan siang nasi bungkus yang sudah kami siapkan sebelum berangkat.

Lanjut ke Pulau Lengkuas dan langsung auto jebut melihat beningnya air, bersnokling ria lah kita di sini sambil kasih makan ikan pakai roti kering untuk view foto underwater dan penampakan karangnya yang luar biasa indah nya.


Destinasi terakhir di sini kami merencanakan dengan matang supaya tidak ketinggalan pesawat. Pagi-pagi masih lumayan gelap sekitar jam 5 pagi kami bergegas jalan menuju Pantai yang belum kami datangi yaitu Pantai Tanjung Tingi atau disebut Pantai Laskar Pelangi.

Di sini juga tempat syuting film tersebut. Perjalanan dari Hotel sekitar 60 menit, jam 6 pagi kami sudah tiba dan sengaja parkir didekat tugu laskar pelangi dibalik bebatuan yg menjulang tinggi, tetapi lagi-lagi tugunya pun sudah tidak ada tinggal papan madingnya saja yang tersisa.


Tak sabar klo sudah lihat pantai, bergegas ketepi pantai disni bebatuan garnit sangat-sangat besar menambah kesan takjubnya saya, yang lebih menkjubkan lagi sewaktu naik ke atas batu yang besar duduk termenung meliahat indahnya ciptaan Tuhan Subhanallaah luar biasa indahnya. Berenang sambil terjun dari bebatuan menambah asyik seluas pantai ini hanya kelompokan kami yang berkunjung serasa pantai ini milik sendiri.

Selain keindahan dan kebersihan pantainya ada sesuatu yang menurut saya sedikit heran mengenai obyek wisata di pulau ini adalah ketiadaan retribusi memasuki kawasan wisata dan biaya parkir.

Hal ini tentunya sangat berbeda sekali dengan obyek wisata didaerah lain yang pernah saya kunjungi. Jangan salah di sini masyarakatnya ramah-tamah jangan berfikiran masyakat di sini chienese semua padahal tidak nyatanya banyak yang perantauan juga macam-macam suku tapi semuanya damai dan tentram.

Pesona Keindahan Pantai dari Kafe Tanjung Dugong

Kafe Tanjung Dugong memiliki konsep tebing kafe di Kupang dan nuansa ala di Bali. Di sini juga punya spot instagramable.
Berlokasi di Pantai Mali di Kelurahan Kabola Kabupaten Alor, lokasi ini dikenal sebagai tempatnya Ikan Dugong. Sebagai wilayah dengan wisata bahari yang indah tentu saja di dalamnya termasuk kekayaan flora dan fauna lautnya.

Salah satu kekayaan fauna laut yang unik yang dimiliki Kabupaten Alor adalah ikan dugong. Yang membuatnya unik adalah ikan dugong tersebut dapat dikatakan bersahabat dengan masyarakat setempat.

Akhir-akhir ini berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat setempat mulai semakin serius memperkenalkan keberadaan Mawar kepada wisatawan dalam maupun luar negeri. Nah karena terkenal dengan dugongnya, kafe yang baru dibuka pada Bulan Oktober ini bernama Tanjung Dugong.

Tepatnya, Kafe Tanjung Dugong terletak di Desa Pante Deera. Pengunjung dapat menempuh sekitar 5 menit dari Bandar Udara Mali Alor atau 20 menit dari pusat Kota Kalabahi.

Jika ingin berkunjung ke sana sebaiknya menggunakan sepeda motor karena jalan menuju ke desa sedikit mendaki dan sempit. Karena Tanjung Dugong adalah kafe baru, belum ada petunjuk jalan yang menunjukkan lokasi ke sana. Tapi, setelah memasuki Desa Pante Deera kita dapat melihat di sebelah kanan jalan untuk menemukan lokasi kafe.

Kafe ini memiliki konsep menghadap ke pantai dan dikelilingi pepohonan. Sangat menarik, mirip seperti Tebing Bar & Cafe yang berada di Kota Kupang.

Di kafe ini pengunjung dapat berfoto di kolam renang ala-ala sambil menunggu sunset seperti di Bali. Di kafe ini juga menyedikan berbagai spot foto yang instagramable lainnya. Sehingga tidak heran jika banyak anak muda untuk datang berkunjung untuk sekadar berfoto ria.

Untuk masuk ke tempat ini masing-masing pengunjung dipungut biaya sebesar Rp10.000. Setelah puas berfoto, kamu bisa mencicipi makanan lokal seperti ubi goreng dan es kelapa muda di cafe ini.

Kafe ini juga sedang dalam proses pembangunan. Ke depannya, pemilik cafe berharap akan dibangun resort atau penginapan dan juga fasilitas bagi pengunjung agar bisa naik perahu dari pantai di depan kafe ke tempat Mawar si Dugong Alor.

Semakin tidak sabar melihat perkembangan Kafe Tanjung Dugong ini. Yuk semakin mencintai dan menjaga alam indah yang kita punya.

Pesona Negeri Laskar Pelangi yang Tak Pernah Pudar

 Film Laskar Pelangi meamng hebat, tak dari ceritanya saja, namun juga lokasi syutingnya. Yuk main ke sana.

Setelah Lihat Film ""Laskar Pelangi" Jadi Penasaran sama Tempat syutingnya, karena tempat-tempatnya yang keren,

Saya dan teman-teman putuskan untuk mengunjungi tempat ini, karena ongkos dan akomodasi tidak sedikit butuh waktu beberapa bulan untuk terlaksananya dengan nabung dikit-demi sedikit.

Planing ke Belitung ini kami rnerencanakannya 3-4 bulan sebelum terbang kesana diawali membeli tiket Penerbangan promo pada akhir bulan Desember 2016 dan baru bisa berangkat pada Bulan Mei 2017 1 minggu sebelum Puasa.

Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung pandan ditempuh selama kurang lebih 50 menit. Pukul 07.00 pagi saya sudah mendarat di Bandar Udara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Selepas bandara kami menuju Tanjung Pandan pusat kotanya karena di sana hotel kami menginap, Mobil dan hotel pun sudah disiapkan sebelum kami berangkat sehingga tidak buang-buang waktu untuk mencari lagi.

Oh iya, untuk ke Tanjung Pandan selain sewa mobil ada juga travel dan taksi saya lihat tertera harga ke Tanjung Pandan Rp 40 ribu, hanya sekitar 25 menit perjalanan.

Destinasi kami yang Pertama ke Pantai Burung Mandi. Butuh waktu hampir 2 jam dari Tanjung Pandan ke Pantai Burung Mandi. Dua jam tidak berasa lama di sana karena jalanan yang sepi, aspal halus dan pemandangan yg alami membuat terbuai sehingga perjalanan tidak berasa lama.