Rabu, 18 Desember 2019

Angkringan Yogya Selalu Bikin Rindu

Ada banyak hal yang selalu bikin kita rindu pada Yogyakarta. Salah satunya, sudah tentu angkringannya.

Udara malam menemani langkahku menuju sudut-sudut Kota Yogyakarta. Di kejauhan terlihat warung makan sederhana dengan cahaya remang-remang.Terlihat banyak pengunjung yang duduk beralaskan tikar, sedang bercakap-cakap ditemani secangkir minuman hangat. Langkahku tertuju pada sebuah warung makan gerobak dorong dengan atap ditutupi terpal plastik.

Angkringan adalah warung makan sederhana dengan menggunakan gerobak dorong dan ditutupi terpal plastik sebagai atapnya. Keunikan dari angkringan ini terletak pada gerobak dorongnya yang serba guna.

Selain digunakan untuk memanaskan air dan memasak, gerobak angkringan ini juga berfungsi sebagai tempat menaruh makanan dan sebagai meja makan para pembeli. Angkringan ini sangat terkenal di Yogyakarta, dan menjadi salah satu icon kuliner di Yogyakarta.

Awal berdirinya angkringan bermula dari para pedagang minuman dan makanan ringan yang tidak menggunakan gerobak, melainkan pikulan dahulu yang disebut pedagang hik. Nama hik bermula pada tradisi malam Selikuran (malam ke-21) di Keraton Surakarta.

Pada malam tersebut kota berhiaskan lentera yang dibawa para pedagang makanan. Para pedagang itu biasanya berteriak 'hiik iyeeeek'. Sampai sekarang istilah tersebut masih dipakai di Solo. Namun, di Yogyakarta mereka populer dengan nama Angkringan atau warung kucing.

Nama angkringan diambil dari Bahasa Jawa, yaitu 'ngankring' yang artinya duduk dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki lainnya. Di dalam budaya Jawa, cara duduk seperti ini biasanya tidak diperbolehkan karena dianggap tidak etis apalagi bila dilakukan pada saat makan.

Seperti yang disebutkan di atas, biasanya ada juga beberapa orang yang menyebut angkringan dengan nama warung kucing.

Kata 'warung kucing' diambil dari porsi makannya yang seperti porsi makan kucing. Porsi nasinya kira-kira hanya 1/3 porsi nasi pada umumnya dengan berbagai macam lauk pauk yang terdapat di dalam nasi angkringan tersebut.

Makanan dan minuman yang dijual di angkringan ini kalau dilihat, sebenarnya bukanlah makanan cepat saji. Bukan halnya seperti masakan cepat saji pada umumnya seperti di tempat-tempat makan modern.

Meskipun konsumen dapat langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang tersaji di sana saat angkringan tersebut dibuka. Akan tetapi, ada beberapa makanan dan minuman yang tetap membutuhkan proses yang memakan waktu sebelum dijual.

Berbagai macam makanan yang ada di angkringan antara lain nasi kucing yang berisi sambal teri/oseng tempe, aneka gorengan seperti tempe, tahu, pisang, bakwan, risol, risoles, lumpia, martabak, serta tidak lupa dengan aneka sate-satean seperti usus, telur puyuh, kerang, hati, ampela, jantung, dan kulit serta beberapa baceman seperti tahu, tempe, gembus, dan kepala ayam.

Tergantung selera konsumen aneka gorenngan dan sate-satean tesebut dapat dibakar. Selain makanan yang sudah disebutkan di atas terdapat minuman yang menjadi kekhasan angkringan, yaitu Wedang Jahe.

Tentunya minuman yang lain seperti teh, jeruk, susu jahe, kopi, lemon tea, dan susu. Minuman yang ada di atas dapat disajikan panas maupun dingin tergantung keinginan konsumen.

Harga makanan dan minuman di angkringan relatif murah. Namun, harga setiap angkringan berbeda-beda, untuk gorengan dibandrol dengan harga Rp 500, nasi kucing Rp 2.000, berbagai sate dari Rp 1.500-Rp 2.000, baceman Rp 1.000, kepala ayam Rp 3.500, wedang jahe Rp 2.500, jeruk dan teh Rp2.000,00.

Mengenang Soe Hok Gie di Taman Prasasti

Tak perlu susah-susah mendaki ke Puncak Mahameru, di Taman Prasasti ini kita bisa mengenang wafatnya Soe Hok Gie melalui prasastinya.

Ada banyak cara untuk mengingat sejarah masa lampau, salah satunya adalah dengan mengunjungi makam kuno. Di Jakarta terdapat Museum Taman Prasasti yang merupakan museum cagar budaya dan menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari zaman kolonialisme. Dulunya Museum Taman Prasasti ini merupakan pemakaman orang-orang Eropa yang bernama Kebon Jahe Kober. Mulai tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke tempat lain, namun ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Jadi yang ada saat ini hanya berupa batu nisan saja, tidak ada jenazah dan tulang belulangnya.

Meskipun berada di tengah kota dan tepat di sebelah Kantor Walikota Jakarta Pusat, suasana mistis pun tetap terasa di sini. Saat masuk ke dalam gedung yang berupa pilar-pilar berwarna putih, seolah-olah kita akan masuk ke dimensi lain. Setelah memasuki area pemakaman, di sebelah kiri terdapat patung Crying Lady yang merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.

Tidak jauh dari situ terdapat dua peti mati yang tertutup kaca dan dilindungi atap. Saya pun penasaran dan mendekati peti tersebut. Ternyata peti mati tersebut yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Pantas saja mendapatkan perlakuan khusus karena sangat bersejarah sekali.

Pohon yang rindang dan suasana yang tenang membuat Taman Prasasti ini lebih teduh. Saya pun melanjutkan mengeksplorasi ke bagian belakang. Di area ini banyak terdapat patung wanita dan representasi dari malaikat bersayap. Seketika saja mata saya tertuju pada sebuah prasasti yang sangat fenomenal, yaitu prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 60-an dan juga pendiri Mapala UI.

Bagi kalangan pendaki gunung Indonesia, Soe Hok Gie sangat dikenal baik karena kiprahnya di alam bebas dan karya-karya tulisannya yang terus memperjuangkan keadilan. Karakternya yang kuat, tegas, dan sangat idealis banyak mempengaruhi para penggiat alam bebas di Indonesia.

Sedikit cerita, pada bulan Desember 1969, Gie dan teman-temannya merencanakan untuk merayakan ulang tahunnya di Gunung Semeru. Tapi sayang, pada tanggal 16 Desember Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, yaitu tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun dari puncak Mahameru. Maka dari itu, banyak sekali penggiat alam bebas yang memperingati wafat dan ulang tahunnya Soe Hok Gie setiap tanggal 17 Desember.

Pada awalnya, Soe Hok Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berkata jika ia meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango. Hal itu dimaksudkan agar ia bisa menyatu dengan alam bebas yang merupakan tempat bermainnya.

Untuk mengenang tragedi itu, di puncak Mahameru dipasang plakat In Memoriam Soe Hok Gie, namun sekitar tahun 2013, plakat tersebut telah dipindahkan ke Cibodas, Jawa Barat. Saat ini yang bisa dengan mudah kita temui adalah prasastinya yang berada di Museum Taman Prasasti Jakarta.

Kini, Soe Hok Gie sudah tenang di sana. Ia bisa meninggal dengan cara yang menurutnya layak. Sama seperti apa yang pernah ia tuliskan, "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".