Kata 'warung kucing' diambil dari porsi makannya yang seperti porsi makan kucing. Porsi nasinya kira-kira hanya 1/3 porsi nasi pada umumnya dengan berbagai macam lauk pauk yang terdapat di dalam nasi angkringan tersebut.
Makanan dan minuman yang dijual di angkringan ini kalau dilihat, sebenarnya bukanlah makanan cepat saji. Bukan halnya seperti masakan cepat saji pada umumnya seperti di tempat-tempat makan modern.
Meskipun konsumen dapat langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang tersaji di sana saat angkringan tersebut dibuka. Akan tetapi, ada beberapa makanan dan minuman yang tetap membutuhkan proses yang memakan waktu sebelum dijual.
Berbagai macam makanan yang ada di angkringan antara lain nasi kucing yang berisi sambal teri/oseng tempe, aneka gorengan seperti tempe, tahu, pisang, bakwan, risol, risoles, lumpia, martabak, serta tidak lupa dengan aneka sate-satean seperti usus, telur puyuh, kerang, hati, ampela, jantung, dan kulit serta beberapa baceman seperti tahu, tempe, gembus, dan kepala ayam.
Tergantung selera konsumen aneka gorenngan dan sate-satean tesebut dapat dibakar. Selain makanan yang sudah disebutkan di atas terdapat minuman yang menjadi kekhasan angkringan, yaitu Wedang Jahe.
Tentunya minuman yang lain seperti teh, jeruk, susu jahe, kopi, lemon tea, dan susu. Minuman yang ada di atas dapat disajikan panas maupun dingin tergantung keinginan konsumen.
Harga makanan dan minuman di angkringan relatif murah. Namun, harga setiap angkringan berbeda-beda, untuk gorengan dibandrol dengan harga Rp 500, nasi kucing Rp 2.000, berbagai sate dari Rp 1.500-Rp 2.000, baceman Rp 1.000, kepala ayam Rp 3.500, wedang jahe Rp 2.500, jeruk dan teh Rp2.000,00.
Hal yang harus diingat oleh wisatawan yang ingin mencoba angkringan adalah hidangan yang disajikan tidak sama antara angkringan satu dengan angkringan yang lainnya seperti halnya yang dijelaskan di paragraf sebelumnya.
Kesamaan angkringan satu dengan angkringan lainnya adalah mudah sekali ditemukan karena ciri khasnya, yaitu gerobak kayu yang didorong dengan atap berlapis terpal plastik, makanan dan minuman dengan harga yang relatif murah, dan terdapat bungkusan nasi kucing yang membuat kekhasan bagi pedagang angkringan.
Dalam menunjang kenyamanan konsumen, pedagang angkringan juga menyediakan beberapa fasilitas yang dapat memberikan kesan santai dan nyaman bagi para konsumen seperti tenda, dingklik (kursi panjang tanpa sandaran), tikar bagi pengunjung yang ingin lesehan, dan lampu yang remang-remang.
Kondisi yang seperti inilah yang memberikan kekhasan bahwa angkringan berbeda dengan warung tenda pada umumnya. Kekhasan angkringan yang lainnya adalah pembeli dan pengunjung bebas untuk nongkrong atau duduk-duduk sembari membicarakan hal-hal apa pun.
Di angkringan ini pula sering menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas mulai dari pelajar, tukang becak, pekerja kantoran, mahasiswa, dan tempat ini biasanya sering menjadi salah satu sumber informasi terbaru bagi para konsumen.
Pelanggan tetap angkringan pada umumnya ialah mahasiswa. Mahasiswa dan angkringan menjadi hal yang sulit untuk dipisahkan. Batas sosial tidak berlaku lagi di tempat ini. Semua kalangan berbaur menjadi satu, saling berinteraksi satu sama lain tanpa memandang kelas sosial para konsumennya.