Rabu, 18 Desember 2019

Mengenang Soe Hok Gie di Taman Prasasti

Tak perlu susah-susah mendaki ke Puncak Mahameru, di Taman Prasasti ini kita bisa mengenang wafatnya Soe Hok Gie melalui prasastinya.

Ada banyak cara untuk mengingat sejarah masa lampau, salah satunya adalah dengan mengunjungi makam kuno. Di Jakarta terdapat Museum Taman Prasasti yang merupakan museum cagar budaya dan menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari zaman kolonialisme. Dulunya Museum Taman Prasasti ini merupakan pemakaman orang-orang Eropa yang bernama Kebon Jahe Kober. Mulai tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke tempat lain, namun ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Jadi yang ada saat ini hanya berupa batu nisan saja, tidak ada jenazah dan tulang belulangnya.

Meskipun berada di tengah kota dan tepat di sebelah Kantor Walikota Jakarta Pusat, suasana mistis pun tetap terasa di sini. Saat masuk ke dalam gedung yang berupa pilar-pilar berwarna putih, seolah-olah kita akan masuk ke dimensi lain. Setelah memasuki area pemakaman, di sebelah kiri terdapat patung Crying Lady yang merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.

Tidak jauh dari situ terdapat dua peti mati yang tertutup kaca dan dilindungi atap. Saya pun penasaran dan mendekati peti tersebut. Ternyata peti mati tersebut yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Pantas saja mendapatkan perlakuan khusus karena sangat bersejarah sekali.

Pohon yang rindang dan suasana yang tenang membuat Taman Prasasti ini lebih teduh. Saya pun melanjutkan mengeksplorasi ke bagian belakang. Di area ini banyak terdapat patung wanita dan representasi dari malaikat bersayap. Seketika saja mata saya tertuju pada sebuah prasasti yang sangat fenomenal, yaitu prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 60-an dan juga pendiri Mapala UI.

Bagi kalangan pendaki gunung Indonesia, Soe Hok Gie sangat dikenal baik karena kiprahnya di alam bebas dan karya-karya tulisannya yang terus memperjuangkan keadilan. Karakternya yang kuat, tegas, dan sangat idealis banyak mempengaruhi para penggiat alam bebas di Indonesia.

Sedikit cerita, pada bulan Desember 1969, Gie dan teman-temannya merencanakan untuk merayakan ulang tahunnya di Gunung Semeru. Tapi sayang, pada tanggal 16 Desember Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, yaitu tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun dari puncak Mahameru. Maka dari itu, banyak sekali penggiat alam bebas yang memperingati wafat dan ulang tahunnya Soe Hok Gie setiap tanggal 17 Desember.

Pada awalnya, Soe Hok Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berkata jika ia meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango. Hal itu dimaksudkan agar ia bisa menyatu dengan alam bebas yang merupakan tempat bermainnya.

Untuk mengenang tragedi itu, di puncak Mahameru dipasang plakat In Memoriam Soe Hok Gie, namun sekitar tahun 2013, plakat tersebut telah dipindahkan ke Cibodas, Jawa Barat. Saat ini yang bisa dengan mudah kita temui adalah prasastinya yang berada di Museum Taman Prasasti Jakarta.

Kini, Soe Hok Gie sudah tenang di sana. Ia bisa meninggal dengan cara yang menurutnya layak. Sama seperti apa yang pernah ia tuliskan, "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".

Selasa, 17 Desember 2019

Hari Pahlawan, Mari Mengenang Kisah Pertempuran Bojong Kokosan (2)

Akhirnya di daerah Parungkuda, tepat di belokan jalan raya utama Sukabumi-Bandung, kami melihat tank dan monumen yang terdiri dari patung-patung pejuang dan papan bertuliskan Palagan Perjuangan Bojong kokosan 1945 tepat di sebelah kanan jalan.

Karena posisi kami di sebelah  kiri maka kami harus memutar balik. Untungnya kondisi jalan hari itu tidak ramai sehingga mudah memutar balik. Kendaraan kami parkir di halaman monumen.

Monumen ini buka setiap hari namun termasuk hari minggu dan libur namun bila ingin mengunjugi museumnya hari sabtu, minggu dan hari libur nasional tutup, bisa dibuka bila kita telah membuat janji terlebih dahulu. Karena kami datang di hari minggu dan belum mengkonfirmasikan kedatangan kami, maka kami harus puas dengan mengunjungi monumen tanpa mengunjungi museum.

Saat berada disana kami memperhatikan kontur tempat ini yang tanahnya berbukit-bukit dan rimbun oleh pepohonan mirip hutan. Dalam strategi militer posisi ini sangatlah menguntungkan karena siapapun pihak yang menguasai daerah ini mereka akan memgang kontrol atas semua wilayah di sekitarnya, terutama jalan di bawahnya.

Ketika pertempuran ini terjadi puluhan tahun yang lalu pejuang bersama rakyat mengambil posisi penyerangan disini, sehingga mereka bisa melihat jelas pergerakan konvoi tentara sekutu serta mengetahui jumlah dan kekuatan nya. Hal ini memudahkan pejuang dan rakyat memasang jebakan dan menyerang mereka.

Kebalikannya bagi tentara sekutu yang diserang mereka tidak mengetahui jumlah dan kekuatan pejuang dan rakyat dan menembaki dari atas bukit. Bila dahulu lokasi kami berdiri ini menjadi tempat paejuang dan rakyat mengawasi lawan kini tempat ini dijadikan wahana flying fox yang ramai oleh pengunjung.

Di monumen ini terdapat 5 patung pejuang setinggi orang dewasa mengenakan seragam dan pakaian di kala itu, posisi dan ekpresi wajah mereka berbeda-beda ada yang memegang sang saka merah putih, menyerbu musuh menggunakan senapan laras panjang, menyerang musuh dengan parang, melempar bom Molotov dan terakhir patung seorang perawat PMI membawa kotak P3K.

Tepat di bawah monumen terdapat piagam dari marmer dengan burung Garuda di atasnya bertuliskan:

Bagi pejuang taka ada satu kepuasan

Kecuali hasil perjuangannya diteruskan

Oleh generasi selanjutnya

Di bawah  piagam ini juga terdapat piagam peresmian Monumen Palagan Perjuangan Bojong Kokosan, oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat saat itu Bapak H.R.Moh.Yogie S.M  tahun 1992.

Bila kita melayangkan pandangan ke arah kiri dari patung ini akan terlihat sebuah tank tua di bawah pepohonan, di bawahnya terdapat tulisan:

Palagan Perjuangan

1945

Bojong Kokosan

Sementara di belakang tembok yang mengelilingi kawasan palagan, terdapat bangunan yang berisi relief-relief dari pertempuran Bojong kokosan. Di relief pertama tercantum nama-nama 28 orang pejuang yang gugur baik dari TKR maupun Hisbullah.

Di relief ke dua kita mendapat gambaran perundingan yang dilakukan pejuang dalam mempersiapkan taktik dalam penyergapan, di relief ke 3 kita melihat jalannya peristiwa penyergapan, di relief ke 4 digambarkan peristiwa pemakaman pejuang yang gugur.

Di relief terakhir terdapat piagam peresmuian relief oleh Komandan korem 061 Suryakencana Bapak Kolonel Gatot Nurmantyo di tahun 2006.