Rabu, 11 Desember 2019

Luhut Minta Proyek 6 Kilang Pertamina 2 Tahun Harus Selesai

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menginginkan proses pembangunan dan pengembangan kilang dipercepat. Untuk itu dia meminta agar prosesnya dibuat paralel agar menjadi efisien.

Hal tersebut disampaikan Luhut kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertamina dalam rapat koordinasi yang dilakukannya. Luhut ingin proyek-proyek kilang yang menurutnya bermodalkan hingga US$ 60 miliar alias Rp 840 triliun selesai dalam dua tahun dari sekarang.

"Tadi evaluasi semua proyek-proyek (kilang) itu. Di Pertamina itu ada proyek senilai capex-nya (modal) aja US$ 60 miliar dolar, jadi sekarang kita mau bikin paralel. Sehingga kita bisa percepat waktunya, 2 tahunan semua proyek itu harus selesai," ucap Luhut di kantornya, Senin (11/11/2019).

Luhut sendiri tidak menjelaskan proyek-proyek mana yang ia maksud. Termasuk rincian pembiayaan proyek yang disebutkannya hingga Rp 840 triliun.

Yang pasti kini pihaknya dengan Kementerian ESDM dan Pertamina sedang melakukan evaluasi proyek-proyek yang sedang berjalan dan mencari apa yang bisa diefisienkan. Dia menyatakan akan ada rapat lanjutan dengan Pertamina, dia meminta Pertamina membuat time table alias penjadwalan proyek.

"Itu mulai sekarang kita evaluasi satu-satu. Tadi kita identifikasi, minggu depan Pertamina akan lapor sama saya lagi bagaimana time table-nya," ucap Luhut.

Sementara itu Menteri ESDM Arifin Tasrif sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan membantu untuk mengatasi semua hambatan dalam pengembangan kilang. Salah satunya adalah dengan memudahkan peraturan perizinan.

"Pak Menko minta untuk bisa mempercepat. Semua hal yang jadi hambatan harus kita atasi. Misalnya, terkait peraturan perizinan dan masalah dalam negeri harus kita selesaikan," ucap Arifin yang juga ditemui di kantor Luhut.

"Pak Menko harap bisa segera mungkin," lanjutnya.

PT Pertamina (Persero) sendiri tengah mengebut pembangunan 6 kilang. Dari 6 kilang, 4 di antaranya merupakan perluasan yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Balongan, Cilacap dan Dumai.

Kemudian, dua sisanya merupakan kilang baru yakni Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan GRR Bontang.

Bahlil Bakal Bereskan Tumpang Tindih Lahan Proyek Lotte Chemical

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan pagi ini melakukan rapat membahas soal investasi. Yang dibahas adalah mempercepat investasi Lotte Chemical yang akan membangun pabrik olahan bahan kimia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang ikut dalam rapat mengatakan diskusi dilakukan untuk mengurai permasalahan lahan yang tumpah tindih pada lokasi pembangunan pabrik kimia Lotte. Dia mengatakan soal lahan akan diselesaikan urusannya oleh pihak Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Klarifikasi lahan tumpang tindih, tadi udah di-take care sama Pak Kepala BKPM," ujar Budi Karya usai rapat di kantor Luhut, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Kemenhub sendiri diundang ke dalam rapat karena memiliki beberapa Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Untuk itu dia menyatakan apabila ada pembebasan lahan akan dibebankan atas nama Kemenhub.

"Kita memberikan izin untuk reklamasi, di situ juga (lokasinya), dekat Krakatau Steel, Banten. Kalau dia reklamasi, HPL-nya itu atas nama kita," ujar Budi Karya.

Sebelumnya, Lotte Chemical akan membangun pabrik pengolahan bahan kimia. Pabrik tersebut bernilai Rp 52,5 triliun dan berlokasi di Cilegon, Banten.

Groundbreaking-nya telah dilakukan sejak 7 Desember 2018 lalu yang juga disaksikan Airlangga Hartarto yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Namun, permasalahan lahan sempat mengganjal pembangunan proyek ini.

Sebelumnya diberitakan detikFinance rapat ini akan membahas ekspor nikel, namun ternyata membahas mengenai investasi Lotte Chemical.

Kabar Terkini 6 Kilang yang Dibangun Pertamina

PT Pertamina (Persero) tengah mengebut pembangunan 6 kilang. Dari 6 kilang, 4 di antaranya merupakan perluasan yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Balongan, Cilacap dan Dumai.

Kemudian, dua sisanya merupakan kilang baru yakni Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan GRR Bontang. Bagaimana progresnya?

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang menjelaskan untuk RDMP Balikpapan saat ini sudah masuk progres konstruksi, di mana telah mencapai 9%. Angka ini lebih tinggi dibanding target Pertamina sebesar 6%.

"Balikpapan sudah konstruksi dan sampai dengan hari ini atau akhir bulan kemarin progres 9% vs 6% plan artinya lebih cepat dari rencana," kata Ignatius dalam acara Media Breafing Proyek Kilang Stretegis di Kantor Pusat Pertamina Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Dia mengatakan, proyek ini bakal rampung pertengahan tahun 2023 mendatang. Lanjutnya, untuk memitigasi risiko, pihaknya akan menggandeng partner yang mana akan diumumkan pada 10 Desember 2019 mendatang bertepatan ulang tahun Pertamina.

"Saya belum omongkan di sini siapa. Salah satu kado Pertamina 10 Desember terpilihnya partner untuk Balikpapan," ujarnya.

Kedua, untuk RDMP Balongan saat ini tengah berlangsung lelang kontrak pembangunan. Rencananya, penandatangan kontrak juga akan dilakukan pada Desember mendatang.

"Balongan tahap 1 bisa selesaikan lebih cepat 2022 target bisa diselesaikan," terang Ignatius.

Ketiga, kilang yang sedang dikebut ialah Kilang Cilacap. Dia menjelaskan, saat ini tengah berlangsung proses pengadaan lahan yang hampir 100%.

Lanjutnya, masih ada bidang lahan yang masih menunggu penyelesaian di Mahkamah Agung (MA).

"Saat ini kita sudah menyelesaikan pengadaan lahan sudah 100%. Pengadaan lahan memang ada salah satu pemilik, memang satu dalam proses MA tapi keputusan MA itu menjadi keputusan bersama dan kita akan patuhi. Sehingga 100% yang akan dibangun RDMP bisa eksekusi," terangnya.

Lanjutnya, memang yang tengah menjadi topik hangat ialah mengenai kerja sama antara mitra yakni Saudi Aramco. Dia bilang, kerja sama ini masih dalam pembahasan terkait valuasi aset. Hasil valuasi aset ditargetkan keluar Desember 2019 ini.

"Kesepakatan valuasi tahun ini. Hasil valuasi Desember, itu aja deh bahasanya," katanya.

"Kerja sama Aramco harus karena sudah kesepakatan bahwa ada perubahan-perubahan itu teknis aja," tambahnya.

Keempat, RDMP Dumai rencananya akan dilakukan penandatangan frame work agreement pada 10 Desember mendatang. Kilang ini ditargetkan rampung pada tahun 2027.

"Untuk Dumai sudah lama sejak 2016 kita sudah pre FS. Tetapi waktu itu supaya prioritas tidak sekaligus kita masih simpan dulu, tapi Desember ini kita dorong kita laporkan pemeritah, kita diskusi calon partner dapat respon sangat baik," katanya.

"Target 10 Desember kita kado kelima kita tanda tangan frame work agreement. Kita akan lanjutkan studinya Dumai lebih detail mengenai konfigurasi, engineering sampai eksekusi target 2027 project ini kita selesaikan," ungkapnya.

Kelima, untuk GRR Tuban saat ini dalam tahap pengadaan lahan, di mana pengadaan lahan mencakup penggantian lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia menargetkan, kilang ini rampung tahun 2026.

Begitu juga dengan yang terakhir yakni GRR Bontang yang masih fokus pada pengadaan lahan. Kilang ini rencananya rampung tahun 2025.

"Bontang masih frame work agreement. Sekarang ini concern pengadaan lahan, ada LMAN lahan negara 14 ha kita coba tambah lahan masyarakat, izin RT RW sudah. Pekerjaan engineering berlangsung karena 100% dikerjakan partner. Kita mendapat golden share 10% dan Pertamina melakukan oftake poroduk tertentu yang kita butuhkan," tutupnya.