Minggu, 08 Desember 2019

Negara Antariksa Asgardia, Antara Mimpi dan Realita (2)

Komunikasi dan Eksekusi pemasaran Era Web yang Mumpuni

Keinginan mendirikan negara antariksa ini dijalankan dengan cukup serius dan terorganisir. Igor melakukan beberapa usaha untuk menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan Asgardia, seperti:

• Background Igor di bidang antariksa yang kuat dimana ia sempat menjadi pimpinan komite UNESCO Science of Space.

• Membuat situs asgardia,space yang memiliki tampilan yang memukau dengan desain yang sangat menarik, orang awam yang melihat situs ini akan terkesima dan percaya.

• Memiliki konsep yang cukup kuat dengan dukungan tim hukum yang cukup mengerti bagaimana mendirikan suatu negara dan apa saja syaratnya yang harus dipenuhi untuk mendirikan negara. Justru salah satu syarat mendirikan negara adalah memiliki penduduk dalam jumlah banyak dan dengan cerdik sarana internet dimanfaatkan oleh Asgardia untuk mendapatkan 'penduduk'.

• Memiliki rencana riil untuk membuktikan keseriusan Asgardia yang akan meluncurkan satelit seberat sekitar 2.8 kg di bulan September 2017 yang akan diikuti oleh peluncuran satelit lainnya.

• Memberikan persyaratan mudah dan gratis bagi siapapun yang ingin bergabung menjadi penduduk Asgardia dan seabrek program menarik lainnya yang berhubungan dengan Asgardia sebagai negara antariksa.

Antara Kenyataan dan Impian

Sebenarnya, selain Igor sudah ada banyak tokoh internasional yang memiliki minat mendalam terhadap ruang angkasa seperti Elon Musk dengan Space X dan keinginannya mengkolonisasi planet Mars, Richard Branson dengan Virgin Galactic dan Jeff Bezos dengan Blue Originnya.

Mengeksplorasi angkasa mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan. Jangankan oleh Igor yang disebut-sebut sebagai jutawan, Elon Musk, Richard Branson dan Jeff Bezos bisa dipastikan memiliki kemampuan manajemen, teknologi dan dukungan finansial jauh di atas rata-rata pengusaha dunia--menurut data Fortune 500--dan dengan latar belakang seperti itu saja mereka tidak mampu mewujudkan keinginannya mengeksplorasi angkasa dengan mudah dan mengalami banyak kegagalan.

Karena selain dibutuhkan dukungan dana yang sangat kuat dan teknologi yang mumpuni juga terkandung resiko yang besar sebagai pionir. Saat ini hanya SpaceX yang memiliki pencapaian tertinggi dimana mereka menjadi satu-satunya pihak swasta yang mampu meluncurkan satelit ke orbit dengan roket daur ulang pada 30 Maret 2017.

Pencapaian ini bukan tanpa pengorbanan, mereka mengalami dua kali roket yang meledak di bulan Juli 2015 yang membawa bahan riset NASA dan di September 2016 roket yang membawa satelit Facebook juga meledak di anjungan luncur.

Lain lagi nasib yang dialami oleh Virgin Galactic dimana mereka bahkan tidak pernah melewati jarak lebih dari 13 mil di atas permukaan bumi, malahan pada tahun 2014 pesawat test yang digunakan meledak dan menewaskan kopilot sehingga menunda aktivitas Virgin Galactic.

Dibandingkan SpaceX, Virgin Galactic dan Blue Origin, Asgardia hanya berencana mengirimkan satelit kecil seberat lebih kurang 3 kg ke orbit pada bulan September 2017.

Mengirimkan Manusia ke Orbit Bumi

Mengirimkan manusia ke orbit bumi adalah sesuatu hal yang mudah dikatakan tetapi sangat sulit dilaksanakan. Sebagai gambaran, untuk mengirimkan satelit ke orbit bumi roket harus melawan gravitasi dan menempuh jarak minimal 320 km tegak lurus dari permukaan bumi.

Sebagai gambaran, biaya untuk mengirimkan satu orang manusia saat ini ke orbit adalah USD 20 juta atau sekitar Rp 270 miliar untuk perjalanan delapan hari.

Asgardia, Negara Pertama Luar Angkasa, Kini Punya Presiden

Lama tak terdengar kabarnya, kini Asgardia kembali muncul ke permukaan dengan melantik presiden yang akan memimpin proyek negara langit tersebut. Adalah Igor Ashurbeyli yang menjadi pemangku tanggung jawab sebagai kepala negara Asgardia, setelah melewati proses pelantikan di Wina, Austria.

"Kini, saya deklarasikan bahwa Asgardia, sebagai negara luar angkasa pertama bagi ras manusia, telah lahir secara resmi. Tidak peduli apa yang akan terjadi pada masa depan, momen bersejarah ini tidak akan pernah terlupakan," ujarnya saat dilantik.

Pelantikan itu dilaporkan menghabiskan uang sekitar USD 2 juta, atau hampir Rp 29 miliar, hanya untuk menyewa tempat di Hofburg, sebuah bekas gedung pemerintahan di Wina. Tidak disebutkan apakah Ashurbeyli sendiri yang mengeluarkan uang tersebut dari saku celananya atau Asgardia memiliki semacam APBN untuk itu.

Meski begitu, salah satu anggota parlemen Asgardia, Christian dari Austria, menyebutkan bahwa sang presiden memang banyak menggelontorkan uangnya untuk mendanai Asgardia. Pernyataan tersebut juga diamini oleh anggota parlemen yang lain, yaitu Jan asal Jerman.

Ashurbeyli merupakan ilmuwan dan pengusaha berdarah campuran Rusia dan Azerbaijan. Ia adalah orang yang pertama kali menginisiasi kemunculan Asgardia pada Oktober 2016 silam, sebagaimana detikINET kutip dari Daily Beast, Selasa (3/7/2018).

Dengan dilantiknya pria berusia 54 tahun tersebut menjadi presiden dari negara antariksa tersebut, maka ia akan memimpin warga yang sampai saat ini sudah melewati 200.000 orang dari lebih 200 negara di dunia. Para Asgardian, sebutan bagi masyarakat Asgardia, merupakan orang-orang yang mengisi formulir online dan menyetujui konstitusi di dalamnya.

Untuk menjalankan tugasnya, ia akan dibantu oleh 150 orang anggota parlemen yang dipimpin oleh Lembit Opik, politisi asal Britania Raya. Selain itu, sejumlah instrumen kenegaraan seperti konstitusi (yang sudah disetujui oleh 72,5% masyarakat Asgardia), lagu kebangsaan, dan 'wilayah' berupa satelit cubesat bernama Asgardia-1 juga sudah tersedia.

Patut diingat, Asgardia-1 yang mengorbit sejak November lalu diluncurkan oleh perusahaan asal Amerika Serikat, dengan misi tersebut didanai oleh NASA. Jadi, secara teknis, satelit tersebut masih berada di bawah yurisdiksi AS.

Negara Antariksa Asgardia, Antara Mimpi dan Realita

 Leonardo da Vinci pernah mengimpikan manusia akan bisa terbang seperti burung. Namun sampai wafatnya di tahun 1519, ia tidak sempat melihat impiannya menjadi kenyataan.

Impian Leonardo da Vinci terwujud di tahun 1919 dimana KLM menjadi salah satu perusahaan penerbangan komersial pertama yang menerbangkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.

Jika Leonardo da Vinci yang memiliki cukup latar belakang seperti perkiraan, dasar ilmiah dan didukung oleh bakat menggambar tentang bagaimana kira-kira manusia bisa terbang pada saat itu membuka pendaftaran, dan Anda adalah salah satu yang mendaftarkan diri untuk menikmati penerbangan pertama, maka kira-kira butuh waktu sekitar 400 tahun untuk merealisasikan pendaftaran tersebut menjadi suatu kenyataan.

Dengan catatan pula, Anda masih harus membayar penerbangan tersebut dan Anda masih hidup saat penerbangan tersebut tersedia.

Hal yang mirip sedang terjadi hari ini di mana ada organisasi yang mengikrarkan untuk mendirikan negara baru di ruang angkasa dengan nama Asgardia yang didirikan oleh ilmuan Rusia Igor Ashurbeyli dan mulai membuka pendaftaran untuk penduduk baru.

Pendaftaran tidak dipungut biaya, dan kontan dalam waktu singkat mendapatkan minat dari ratusan ribu peminat di seluruh dunia, termasuk Indonesia.