Minggu, 24 November 2019

Kursi Bos Bank Mandiri Wajib Diisi dalam Waktu 90 Hari

Pucuk pimpinan di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kini diduduki Wakil Direktur Utama Sulaiman Arif Arianto. Sebelumnya posisi direktur utama (Dirut) ditinggal Kartika Wirjoatmodjo yang diangkat sebagai Wakil Menteri BUMN.

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan kosongnya Direktur Utama tak diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt), sebab dalam anggaran dasar Bank Mandiri menyebutkan jika tidak ada Direktur Utama maka otomatis tugas itu diemban oleh Wakil Direktur Utama (Wadirut).

"Anggaran dasar Bank Mandiri itu menyebutkan bahwa bila Dirut berhalangan tanpa perlu alasan apapun itu tugas diemban langsung Wadirut. Jadi tidak perlu Plt itu langsung diemban artinya langsung Wadirut," kata Rohan di kantornya, Jakarta, Senin (28/10/2019).

Di sisi lain posisi Dirut mesti diisi paling lama 90 hari setelah kosong atau paling lambat 24 Januari 2020.

"Dirut itu tentunya akan ada RUPS, dan besar kemungkinan berupa RUPSLB karena RUPS tahunan baru bulan Maret sedangkan 90 hari. Anggaran dasar berbunyi Dirut itu tidak boleh kosong 90 hari. POJK (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) juga 90 hari," tambahnya.

Kewenangan penyelenggaraan RUPS ini berada di tangan pemerintah sebagai pemegang saham, termasuk dalam pemilihan calon Dirut.

Dia bilang, berdasarkan pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir di media kemungkinan RUPS akan digelar Desember.

"Nanti Menteri BUMN akan memberikan, jadi Menteri BUMN akan menyurati kapan akan dilaksanakan sebagai pemegang saham, aspirasi untuk melaksanakan RUPS harus datang dari pemilik atau pemegang saham," ujarnya.

"Kalau tidak saya salah dengar, beliau menyatakan Desember niatnya," sambung Rohan. https://bit.ly/2OIUNfi

Tahun Depan, Bank Mandiri Mau Lego Saham di Perusahaan Asuransi

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan melepas sahamnya di asuransi umum PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI). Kemungkinan Bank Mandiri akan melepas kepemilikannya dalam usaha patungan dengan Axa S.A seluruhnya pada tahun depan.

"Mungkin tahun depan lah," kata Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi di kantornya, Senin (28/10/2019).

Hery menjelaskan, kepemilikan Bank Mandiri di asuransi ini mulanya 60% dan Axa 40%. Dia mengatakan, Bank Mandiri telah melepas kepemilikannya sebanyak 40% dan masih tersisa 20%.

"Yang 40% sudah dibayar kemudian sisa 20%, yang 20 jangka 3 tahun ke depan, karena Axa harus mencari partner lokal nggak boleh 100% semua karena aturan pemerintah 80:20," ujarnya.

Dia menambahkan, Bank Mandiri melepas kepemilikannya di asuransi ini karena tidak memberikan imbal hasil investasi (return on investment/RoI) yang menjanjikan.

"Kita melihat ROI tidak terlalu besar rasanya buat kita seperti disampaikan awal namanya merger, akuisisi atau joint venture itu harus memberikan ROI yang baik. Kita lihat ya sudah lah kita pull out saja dari sini. Jadi kepemilikan 60% kita jual Axa secara bertahap," jelasnya.

Meski begitu, Bank Mandiri tetap mempertahankan kerja sama dengan Axa. Dia bilang, Bank Mandiri masih memiliki usaha patungan dengan Axa di PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri).

"Axa Mandiri Financial Services itu yang life insurance kepemilikan Mandiri 51%, Axa Perancis itu 49% jadi asuransi jiwa. Ini nggak ada berubah dari 2003 sekitar 16 tahun. Joint venture ini berjalan baik kemudian pertumbuhan bisnis bagus, rata-rata setiap tahun menghasilkan laba Rp 900-950 miliar per tahun," tutupnya. https://bit.ly/2QLiUg4

Pahala Mansury Dirut Baru BTN, Chandra Hamzah Komut

Pahala N Mansury ditunjuk menjadi Direktur Utama Bank BTN (Persero) Tbk mengisi posisi kosong yang sebelumnya ditempati oleh Maryono. Sementara Chandra Hamzah menjadi komisaris utama bank sektor perumahan tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Jumat (22/11/2019).

"Pahala ada tugas baru juga sebagai dirut BTN dan komutnya Pak Chandra Hamzah," katanya.

Pahala sebelumnya diketahui menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero). Pahala menggantikan Arief Budiman yang sebelumnya duduk di kursi Direktur Keuangan Pertamina.

Pahala Mansury merupakan sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Kemudian, dia memperoleh gelar pendidikan lebih tinggi yakni MBA Finance dari Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat (AS).

Pria kelahiran tahun 1971 itu memulai karirnya sebagai konsultan manajemen di Andersen Consulting sampai tahun 1997. Pada tahun 1998, Pahala bekerja paruh waktu di salah satu sekuritas di New York.

Pahala bergabung dengan Booz Allen & Hamilton sebagai konsultan senior selama satu tahun di 1999. Pada tahun yang sama ia juga sempat bergabung dengan Boston Consulting Group sebagai pemimpin dalam beberapa proyek perbankan.

Beberapa tahun berselang atau di tahun 2003, Pahala kemudian memulai kariernya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank Mandiri menjadi salah satu pijakan penting karier Pahala sebab dari sini kariernya terus meningkat.

Di tahun 2010, Pahala dipercaya sebagai salah satu direktur Bank Mandiri. Jabatan itu dia dapat setelah menjabat sebagai EVP Coordinator Finance & Strategy and Chief Financial Officer.

Selanjutnya, pada April 2017, Pahala dipercaya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Dia menjabat sebagai orang nomor satu maskapai pelat merah selama 17 bulan atau berakhir kemarin (12/9/2018) saat RUPSLB Garuda Indonesia.

Mencari Calon Dirut Bank Mandiri, Siapa Paling Cocok?

 Semenjak Kartika Wirjoatmodjo ditunjuk menjadi Wakil Menteri BUMN, posisi Direktur Utama Bank Mandiri Kosong. Saat ini sementara bank milik negara itu dipimpin oleh Wadirut Sulaiman Arif Arianto yang merangkap menjadi Plt Dirut.

Lalu kira-kira siapa yang cocok memimpin salah satu bank terbesar di Indonesia itu?

Ekonom Senior Indef yang juga mantan Komisaris Bank Mandiri, Aviliani menilai ada beberapa nama sosok berasal dari internal yang berpeluang besar menjadi dirut. Ada dua nama, yakni Royke Tumilaar yang kini menjabat sebagai Direktur Corporate Banking dan Pahala N Mansury mantan direksi Bank Mandiri yang kini jadi Direktur Keuangan Pertamina. https://bit.ly/37AkY0e

"Kalau menurut saya dari dalam yang potensi yang dulu pernah diusulkan Pak Royke dan Pak Pahala yang sekarang di Pertamina. Itu adalah dua yang punya potensi yang saya lihat. Pak Royke kan dulu juga beberapa kali diusulkan jadi dirut," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Rabu (6/11/2019).

Sementara jika dipilih dari luar, Aviliani memprediksi akan diisi oleh Sulaiman yang kini jadi Wadirut Bank Mandiri. Namun menurutnya Bank Mandiri lebih baik memiliki pemimpin yang berasal dari internal perusahaan.

Aviliani sendiri memprediksi sosok yang paling kuat adalah Royke. Sebab menurutnya selain berasal dari internal, Royke memiliki pengalaman di bidang bisnis bank kredit dan treasury.

"Kalau di perbankan harus punya pengalaman paling penting 2, kredit sama treasury. Karena income yang paling besar dari situ," katanya.

PR yang Harus Dikerjakan

Aviliani mengatakan, siapapun sosok yang akan memimpin Bank Mandiri ada beberapa PR yang harus diselesaikan. Pertama Bank Mandiri sebagai bank nomor 2 terbesar di Indonesia sudah menjadi katalisator industri perbankan, sehingga harus terus dijaga kinerjanya.

"Karena begitu ada masalah dengan kinerjanya itu akan kena yang lain. Oleh karena itu untuk menjaga ke depan PR-nya satu menjaga performance karena ini merupakan indikator," tegasnya.

Kedua, siapapun dirutnya harus mampu membangun ekosistem bisnis Bank Mandiri. Sebab selama ini Bank Mandiri memiliki banyak jenis bisnis namun tidak bisa berjalan selaras. Ketiga Bank Mandiri harus mempercepat pengembangan fintech. https://bit.ly/33huyBQ