Seorang istri di Probolinggo tega membunuh suaminya sendiri. Sang suami dibunuh saat tidur dengan balok kayu penumbuk padi.
Sang istri adalah Sukantri (44), warga Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Sementara sang suami adalah Toyaman (55). Korban merupakan suami keempat pelaku.
Balok kayu sepanjang 1,5 meter itu dihantamkan ke kepala korban sebanyak 23 kali. Usai dihabisi, Sukantri lantas meninggalkan suaminya begitu saja bersimbah darah.
Kakak korban, Sodik mengaku kaget atas meninggalnya adiknya, Toyaman. Menurut Sodik, antara adiknya dan pelaku hidup seperti biasa, tanpa terlihat adanya pertengkaran.
Menurut Sodik, akibat penganiayaan oleh pelaku korban mengalami luka parah di bagian kepalanya. Yakni pecah tulang kepala dan rahang.
"Gak menyangka saja bisa tega seperti itu, apalagi sampai meninggal," ujar Sodik kepada detikcom, Senin (2/9/2019).
Sementara itu, polisi yang langsung melakukan olah tempat kejadian peristiwa, masih mengumpulkan bukti dan memintai keterangan para saksi atas terjadinya pembunuhan tersebut.
Aksi pembunuhan ini terjadi Minggu (1/9) sekitar pukul 23.00 WIB. Pembunuhan ditengarai dipicu cek cok, yang sempat terjadi di antara keduanya.
Kasatreskrim Polres Probolinggo AKP Riyanto mengatakan pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut sembari memperkuat penyebab pasti pemicu pelaku melakukan pembunuhan kepada suaminya.
"Kami masih selidiki kasus ini, yang jelas untuk pelaku sudah kami amankan berikut barang buktinya," terang Riyanto. https://bit.ly/37y8tST
Seorang Guru di Probolinggo Ditemukan Tewas dengan Bekas Cekikan
Seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Kota Probolinggo ditemukan tewas di rumahnya. Guru bernama Endang Sukeni (59) itu ditemukan dengan kondisi hidung mengeluarkan darah.
Endang merupakan guru BK di SMA N 1 Leces. Ia tinggal di Jalan Anggur RT 01 RW 01, Kelurahan/Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
Mayat Endang pertama kali ditemukan di kamar rumahnya siang tadi oleh Tomi Ramadani (25) warga setempat. "Saat awal saya melihat, korban berdarah di hidung. Sedang wajahnya terdapat lebam," kata Tomi, Senin (17/6/2019).
Tomi menyampaikan, sebelumnya ia mendapat telepon dari Hendra (28), anak kedua korban. Pria yang bekerja di SMA N 1 Dringu itu menelepon dan meminta Tomi mencari ibunya.
Saat itulah Tomi mendatangi rumah korban. "Saya panggil-panggil ga ada jawaban. Saya lalu mengintip kamar Bu Endang. Di situ baru saya tahu dia meninggal," paparnya.
Terpisah, Hendra menyampaikan alasan mengapa ia akhirnya meminta Tomi untuk mengecek keadaan sang ibu. Menurutnya, sebelumnya ia mendapat telepon dari rekan kerja Endang di sekolah yang mengabarkan jika yang bersangkutan belum tiba di tempat kerja padahal sudah pukul 09.00 WIB.
"Saya di kantor. Makanya saya hubungi Tomi, melihat dan biar cari ibu di rumah," katanya.
Polisi menduga korban dibunuh. Sedang motif pembunuhan masih didalami.
"Sabar dulu. Kita masih dalami kasus ini," kata Kapolsek Wonoasih, Kompol Sukatno di lokasi kejadian.
Menurutnya, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menyebutkan, tas dan ponsel milik korban hilang. Untuk mendalami kasus tersebut, sejumlah orang termasuk kerabat korban dimintai keterangan.
"Ya tas berisi uang dan HP milik korban hilang. Ada tanda bekas cekikan memang. Tapi sekali lagi untuk mendalami apakah itu benar cekikan atau bukan, masih kita lakukan visum et repertum," pungkasnya. https://bit.ly/35uOPp0