Sabtu, 23 November 2019

Agar Insiden di Sumur Blok ONWJ Tak Terulang, Ini Jurus Pertamina

PT Pertamina (Persero) sedang investigasi penyebab munculnya gelembung gas dan minyak pada sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Hasil investigasi ini akan menjadi pijakan dalam operasi Pertamina agar insiden serupa tak terulang.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, hal itu bukan berarti kinerja Pertamina tidak sesuai standar.

"Bahwa memang kami lakukan investigasi yang mendalam terhadap penyebab peristiwa ini, lalu memastikan lesson learned diterapkan dalam sistem pengelolaan operasional. Maksudnya, bukan berarti saat ini kinerja dan standar kami tidak sesuai dengan best practice ya," ujarnya di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

"Namun sesuai yang saya sampaikan, bahwa industri migas memang high risk, dinamika-dinamika alam pasti ada," tambahnya.

Dia bilang, risiko alam dalam produksi migas salah satunya seperti anomali tekanan, gelembung gas dan lain sebagainya.

"Dari puluhan ribu sumur yang kita kelola, kan minor ya yang tiba-tiba jadi masalah, bukannya menyalahkan alam, namun itu sebabnya dibilang high risk," jelasnya.

Meski demikian, dia bilang, peringatan dini telah diterapkan Pertamina, sehingga penanganan untuk bencana bisa dilakukan secara cepat.

"Early warning system sudah ada, karenanya kami bisa cepat menanganinya, evakuasi pekerja juga cepat dan sebagainya," tutupnya. https://bit.ly/2QJmEi9

Gandeng Perusahaan AS, Pertamina Tutup Sumur Gas di Blok ONWJ

PT Pertamina (Persero) menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Boots and Coots untuk mengatasi gelembung gas dan minyak di sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Nantinya, sumur itu akan ditutup dan tidak digunakan lagi.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan, waktu yang dibutuhkan untuk menghentikan sumber gas dan minyak sekitar 8 minggu hingga 10 minggu sejak ditetapkan kondisi darurat.

"Diperkirakan akan memakan 8 minggu atau 10 minggu sejak dinyatakan kondisi darurat," katanya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Alasan Pertamina menggandeng perusahaan asal AS karena punya jam terbang mengatasi hal serupa. Bahkan, skalanya lebih besar.

Salah satu yang pernah diatasi Boots and Coots adalah insiden Teluk Meksiko.

" Dan untuk kegiatan penanggulangan sumur YY-1 Pertamina telah melibatkan sebuah perusahaan Boots and Coots perusahaan dari AS yang telah memiliki pengalaman dalam menangani kasus serupa termasuk skala yang lebih besar," jelasnya.

Menurutnya, untuk mengatasi gelembung ini akan dilakukan proses penyemenan. Dia bilang, sumur minyak ini tak akan digunakan lagi.

"Dengan teknologi cukup advance dan canggih.Setelah dilakukan penetrasi YY-1 itu kemudian dilakukan pemompaan semen untuk menutupnya," jelasnya.

"Artinya apa, sumur ini setelah dipermanenkan ditutup tidak untuk digunakan kembali," ujarnya. https://bit.ly/2Dafg7G

Susi ke Pertamina soal Tumpahan Minyak: Dikejar Terus!

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati membahas peristiwa tumpahan minyak dari lapangan offshore north west Java (ONWJ). Lapangan migas tersebut berada di lepas pantai utara Jawa.

Susi meminta Pertamina membersihkan sisa tumpahan minyak hingga ke pesisir pantai. Susi juga meminta Pertamina mengecek ke tumpahan-tumpahan minyak terbawa hingga ke pulau-pulau tak berpenghuni.

"Saya pesankan ke Pertamina agar ini dikejar terus minyaknya di manapun, dipantau terus khususnya pulau yang tidak berpenghuni. Kalau yang sudah sampai pesisir, cepat-cepat diuruk yang sudah bercampur pasir," kata Susi di kantornya, Kamis (1/8/2019).

Susi menyoroti saranan penanggulangan yang kurang, yaitu oil boom alias penahan minyak. Susi meminta Pertamina jangan hanya menambah lokasi pengeboran sumur migas saja tapi siapkan oil boom juga.

"Ada kendala, bisa jadi pelajaran ke depan oil boom itu kita harus punya stok lebih banyak. Tentu dengan bertambahnya rig Pertamina harus memiliki oil boom lebih banyak," kata Susi.

Susi juga bercerita baru saja meninjau laut yang terimbas tumpahan minyak, Kamis pagi (1/8). Susi memuji Pertamina yang melakukan penanggulangan tumpahan minyak.

"Sudah dari awal keep in touch dan sharing informasi dengan Pertamina. Baru sempat hari ini meninjau sendiri pakai Heli dari Halim keliling dari pesisir, penanganannya sudah betul dicoba betul-betul optimum," kisah Susi.

Susi menambahkan laut Indonesia memiliki risiko kecelakaan. Termasuk peristiwa di ONWJ ini, katanya ini adalah musibah yang tidak direncanakan.

"Laut Indonesia ini punya potensi banyak termasuk kecelakaan, kalau ini saya bilang kecelakaan, musibah tidak pernah ada yang merencanakan," kata Susi. https://bit.ly/2XDkAto

Imbas Minyak Tumpah, Pertamina Beri Kompensasi ke Nelayan Karawang

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan para nelayan yang terdampak tumpahan minyak PT Pertamina (Persero) di sekitar anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ, Karawang, Jawa Barat akan mendapat kompensasi.

"Jadi semua akan dikasih, dibayar kompensasinya oleh mereka (Pertamina)," kata Luhut di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Luhut mengaku, telah mendapat laporan dari Pertamina mengenai penanganan tumpahan minyak. Apalagi, Pertamina bekerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat (AS) Boots and Coots untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Mereka hired perusahaan penanggulangan bencana yang terkenal itu, yang menangani Gulf of Mexico. Saya kira sudah ditangani dengan baik," jelas dia.

Pertamina dalam keterangannya juga menyampaikan bahwa pihaknya terus mengintensifkan penanganan operasi pasca peristiwa oil spill di sekitar anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ dengan memasang lima unit Giant Octopus Skimmer dan membentang 5 x 400 meter Static Oil Boom di sekitar anjungan YY di wilayah Karawang Jawa Barat.

Strategi ini menjadi andalan dan dinilai terbukti efektif untuk saat ini. Static Oil Boom mampu menahan penyebaran sedangkan Giant Octopus Skimmer digunakan untuk mengangkat oil spill yang tertampung di Static Oil Boom tersebut.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan bahwa Static Oil Boom ditempatkan di sekitar anjungan YY yang diindikasikan terdapat sumber utama keluarnya minyak mentah sehingga dapat mengisolasi minyak tersebut agar tidak melebar kemana-mana di lautan.

"Pertamina juga menurunkan 5 Giant Octopus Skimmer yang dapat menyedot oil spill dengan kecepatan tinggi," ujarnya.

Alat ini dinilai mampu mengangkat minyak dengan kecepatan sekitar 250 ribu liter per jam. Selanjutnya oil spill dipompa ke kapal-kapal untuk penampungan sementara.

"Pertamina terus berupaya maksimal menangani tumpahan minyak dengan menerjunkan berbagai peralatan dan metode sesuai standar di industri migas," imbuh Fajriyah. https://bit.ly/2D6f60S