Selasa, 22 Juni 2021

Keren! Perempuan Indonesia Ini Bikin Aplikasi yang Pikat Apple

 Kesulitan berkomunikasi dengan teman tuli mengilhami Aisyah Widya Nur Shadrina dan enam orang temannya di Apple Developer Academy membuat aplikasi bernama Hearo. Dan berangkat dari sana pula, dia akan fokus mengikuti sesi terkait di ajang Worldwide Developer Conference (WWDC) yang berlangsung Juni mendatang.

Kepada detikINET Aisyah menceritakan bagaimana Hearo dikembangkan. Semua bermula pada tugas akhir Apple Developer Academy.

https://tendabiru21.net/movies/batman-and-harley-quinn/


Banyak ide yang telah dikumpulkan Aisyah dan rekan-rekan satu kelompoknya, namun setelah melakukan riset akhirnya diputuskan membuat aplikasi yang membantu komunikasi dengan teman tuli.


"Kami sempat ke Kopi Sunyi di Fatmawati, di sana banyak teman tuli main ke sana. Kami mewawancarai salah satunya, ternyata sulit banget berkomunikasi dengan teman tulis, sebab dalam tim tidak ada yang bisa bahasa isyarat. Jadi ngobrolnya lewat ketikan di laptop, ini makan waktu banget," ujarnya.


Karena kejadian itu Aisyah dan teman satu tim memikirkan bagaimana caranya untuk membantu tema tuli sekaligus memudahkan mereka sendiri untuk berkomunikasi dengan orang yang tuna rungu. Dari sanalah kemudian lahir Hearo.


"Asal katanya dari hear atau mendengar. Terus kepikiran nama Hearo," kata perempuan kelahiran Jakarta ini.


Hanya dalam waktu tiga bulan aplikasi Hearo rampung digarap. Ada dua fitur yang dimiliki aplikasi ini.


Pertama Mendengar, fitur ini untuk mentranskrip suara menjadi tulisan. Kedua Mengobrol, fitur ini membantu menerjemahkan bahasa isyarat menjadi suara atau tulisan.


Aisyah mengatakan kalau aplikasi ini masih terus dikembangkan karena kemampuannya masih terbatas dalam menerjemahkan bahasa isyarat. Saat ini, Hearo masih menggunakan object detection yang kurang maksimal mendeteksi bahasa isyarat dengan gerakan.


"Bahasa isyarat di Indonesia menggunakan Pusbisindo kebanyakan (hurufnya) ada gerakan. Jadi belum terlalu akurat karena object detection cuma satu gambar saja," jelas alumnus Binus University Alam Sutera ini.


Rencananya aplikasi ini akan ditingkatkan kemampuannya dengan menambahkan Vision Framework yang dirilis di WWDC 2020. Hanya saja karena tim Hearo masih sibuk dengan pekerjaan full time mereka sehingga penggarapannya butuh waktu yang lebih lama.


"Ditambah lagi pandemi, mau user testing agak sulit karena kan harus ketemu langsung atau mendatangi event teman tuli," terang Aisyah.


WWDC 2021

Berkat Hearo, Aisyah beserta dua rekan perempuan satu timnya diundang untuk mengikuti Apple Entrepreneur Camp 2020. Acaranya ini sedianya digelar Maret 2020 di Apple Park, Cupertino, AS, lantaran pandemi akhirnya diselenggarakan secara virtual pada Oktober silam.


Kata Aisyah, Apple Entrepreneur Camp mirip Apple Developer Academy, hanya saja durasinya lebih singat lagi, hanya dua minggu. Hanya saja mereka menerima panduan code-level dari para ahli dan engineer Apple langsung.


"Serunya dari Apple E-Camp ini, ada banyak eksekutif Apple yang sharing ilmu, misalnya bagaimana cara membuat demo yang baik. Kami juga sempat pitching di hadapan mereka. Seru banget!" cerita perempuan berusia 23 tahun ini.


Juni nanti Aisyah akan mengikuti acara tahunan WWDC 2021. Jauh-jauh hari dia sudah mengincar sesi-sesi apa saja yang ingin diikuti, kebanyakan terkait teknologi untuk disabilitas.

https://tendabiru21.net/movies/the-curse-of-the-cat-people/

Ini Dia Sejarah Jaringan 5G

 Sejak Korea Selatan menjadi negara pertama yang punya jaringan 5G, sejumlah negara pun berlomba menggelar jaringan super cepat tersebut. Seperti ini perjalanannya.

Sejarah 5G tentu tidak bisa lepas dari penerapan generasi pertama atau 1G, yang pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1979 oleh Nippon Telegraph and Telephone (NTT). Dilanjutkan kemudian pada 1983, Amerika Serikat menyetujui operasional 1G dengan ponsel Motorola DynaTac sebagai ponsel pertama yang dipakai secara luas.


Setelah era 1G, jaringan selular 2G dengan standar GSM diluncurkan di Finlandia pada 1991. Suara via ponsel menjadi lebih jernih dan selain itu, untuk pertama kalinya orang bisa mengirimkan SMS, gambar, pesan, bahkan MMS (multimedia messages) dari ponsel.


Pada awalnya, kecepatan transfer 2G hanya sekitar 9,6 kbits/s. Pada akhir eranya, kecepatan 40 kbit/s tercapai dan koneksi EDGE menawarkan kecepatan sampai 500 kbit/s. Era 2G membuat pemakaian ponsel semakin merebak


Berlanjut ke 3G yang pertama kali rilis di Jepang di 2001 oleh NTT DoCoMo. Kapabilitas transfer datanya meningkat 4 kali lipat dari 3G. Layanan baru seperti video call, video streaming sampai voice over IP makin merebak.


Tahun 2002, BlackBerry diluncurkan dengan bermacam fitur powerful pada saat itu yang dimungkinkan karena adanya jaringan 3G. Peluncuran iPhone pada tahun 2007 menandai akhir era 3G untuk menuju ke 4G, karena kapabilitas jaringan perlu dipercanggih mengikuti era smartphone.

Pertama kali 5G diterapkan adalah di Swedia dan Norwegia pada tahun 2009 dengan standar Long Term Evolution (LTE) 4G. Berbagai negara kemudian melancarkannya, membuat video streaming kualitas tinggi menjadi hal umum. User dapat mengakses internet dengan kecepatan tinggi.


4G saat ini merupakan standar telekomunikasi mobile dunia, namun ternyata belum semua area dapat menikmatinya. Walau begitu, kemajuan teknologi tak dapat dibendung dan lahirlah 5G.


Selanjutnya: Kelahiran 5G hingga Kedatangan 5G di Indonesia

https://tendabiru21.net/movies/cat-people-2/


Keren! Perempuan Indonesia Ini Bikin Aplikasi yang Pikat Apple


Kesulitan berkomunikasi dengan teman tuli mengilhami Aisyah Widya Nur Shadrina dan enam orang temannya di Apple Developer Academy membuat aplikasi bernama Hearo. Dan berangkat dari sana pula, dia akan fokus mengikuti sesi terkait di ajang Worldwide Developer Conference (WWDC) yang berlangsung Juni mendatang.

Kepada detikINET Aisyah menceritakan bagaimana Hearo dikembangkan. Semua bermula pada tugas akhir Apple Developer Academy.


Banyak ide yang telah dikumpulkan Aisyah dan rekan-rekan satu kelompoknya, namun setelah melakukan riset akhirnya diputuskan membuat aplikasi yang membantu komunikasi dengan teman tuli.


"Kami sempat ke Kopi Sunyi di Fatmawati, di sana banyak teman tuli main ke sana. Kami mewawancarai salah satunya, ternyata sulit banget berkomunikasi dengan teman tulis, sebab dalam tim tidak ada yang bisa bahasa isyarat. Jadi ngobrolnya lewat ketikan di laptop, ini makan waktu banget," ujarnya.


Karena kejadian itu Aisyah dan teman satu tim memikirkan bagaimana caranya untuk membantu tema tuli sekaligus memudahkan mereka sendiri untuk berkomunikasi dengan orang yang tuna rungu. Dari sanalah kemudian lahir Hearo.


"Asal katanya dari hear atau mendengar. Terus kepikiran nama Hearo," kata perempuan kelahiran Jakarta ini.


Hanya dalam waktu tiga bulan aplikasi Hearo rampung digarap. Ada dua fitur yang dimiliki aplikasi ini.


Pertama Mendengar, fitur ini untuk mentranskrip suara menjadi tulisan. Kedua Mengobrol, fitur ini membantu menerjemahkan bahasa isyarat menjadi suara atau tulisan.

https://tendabiru21.net/movies/cat-people/