Selasa, 13 April 2021

Heboh Pengakuan China Soal Vaksin Kurang Manjur, Ternyata Salah Paham!

 Direktur Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) China membantah pemberitaan media soal pemerintah China mengakui vaksin buat negaranya memiliki tingkat perlindungan rendah. Ditegaskan, pemberitaan-pemberitaan tersebut adalah total kesalahpahaman.

Dalam wawancara dengan Global Times, Kepala CDC China Gao Fu menjelaskan bahwa dalam kesempatan diskusi ilmiah terkait kemanjuran vaksin COVID-19 bersama di dunia, ia sempat mengusulkan prosedur vaksinasi dan jenis vaksin yang tidak berurutan mungkin kelak harus dicoba untuk memaksimalkan potensi kemanjuran vaksin.


"Tingkat perlindungan vaksin di dunia terkadang tinggi, terkadang rendah. Bagaimana cara meningkatkan kemanjurannya, itu perlu dipertimbangkan oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia," ujarnya, dikutip dari Global Times, Selasa (13/4/2021).


Menurutnya, lantaran COVID-19 ini pertama kali ada di dunia, jelas ada banyak masalah ilmiah yang ditemui termasuk soal vaksinasi. Maka itu, penyesuaian proses vaksinasi meliputi jumlah dosis dan interval suntik perlu dicoba sembari mengadopsi vaksinasi berurutan dengan berbagai jenis vaksin.

"Ini adalah pertama kalinya manusia disuntik vaksin novel virus Corona. Semua prosedur vaksinasi kami berbasis ekstrapolasi inokulasi vaksin virus lain sebelumnya, dan sejauh ini bekerja dengan baik. Namun jika ke depannya diperlukan perbaikan, kami dapat menyesuaikan karakteristik virus Corona baru dan situasi vaksinasi," klaimnya.


Gao percaya, pengembangan dan penyesuaian vaksinasi COVID-19 ini perlu dilakukan terus-menerus karena memang, ada banyak pertanyaan ilmiah seputar pandemi COVID-19 yang belum bisa terjawab hingga kini.


"Jika kita mengikuti cara tradisional mengembangkan vaksin, kita tidak akan berhasil mendapatkan vaksin dalam setahun. Tetapi, para ilmuwan di dunia mengembangkan vaksin COVID-19 dalam beberapa bulan, yang merupakan pertama kalinya dalam sejarah. Masih ada banyak pertanyaan yang perlu dijawab," pungkas Gao.


Gao menegaskan, penggencaran vaksinasi COVID-19 harus dilakukan di seluruh dunia secara adil. Mengingat situasi pandemi sudah mendesak, manfaat vaksin ini jauh lebih besar dibanding sederet risiko yang dikabarkan. Jika tidak demikian, pandemi COVID-19 hanya akan semakin menyebar luas.

https://trimay98.com/movies/blood-punch/


India Setop Ekspor Antivirus Remdesivir untuk Corona, Apa Imbasnya ke RI?


- India menyetop ekspor remdesivir, salah satu obat antivirus untuk pasien Corona. Kementerian Kesehatan India menegaskan, hal ini disebabkan angka kasus positif COVID-19 yang kembali melonjak di negara tersebut, sehingga kebutuhan obat akan meningkat.

Dalam beberapa pekan terakhir, kasus positif COVID-19 di India tercatat meningkat signifikan. Pada Minggu (11/4/2021), penambahan tembus 152.000 kasus, sehingga total kasus mencapai 13,3 juta.


"Ada potensi peningkatan lebih lanjut terkait kebutuhan ini dalam beberapa hari ke depan," terang pihak kementerian dalam pernyataan menambahkan keterangan terkait larangan ekspor remdesivir hingga situasi membaik, dikutip dari AFP, Senin (12/4/2021).


Obat remdesivir covifor sempat didistribusikan ke Indonesia, sebagai kerjasama perusahaan farmasi generik ternama di India, Hetero dengan Kalbe.


Menanggapi diberhentikannya distribusi remdesivir dari India, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menjelaskan, stok remdesivir di Indonesia masih cukup hingga kini.


Namun ia berharap, kasus infeksi COVID-19 yang membutuhkan obat remdesivir tak melonjak. Pasalnya, sebagian besar dari stok obat ini memang diimpor dari India.


"Paling banyak dari India. Semoga tidak banyak kasus yang membutuhkan," ujar dr Nadia saat dihubungi detikcom, Senin (12/4/2021).


Di Indonesia, obat remdesivir hanya bisa didapatkan oleh pasien COVID-19 yang dirawat di RS. Obat ini pula telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

https://trimay98.com/movies/fox-hunting/


Bolehkah Orang Kena COVID-19 Berpuasa? Ini Hukumnya Menurut MUI

  Masih seperti tahun lalu, bulan Ramadhan 2021 datang di tengah pandemi COVID-19. Namun kini, seiring angka kasus terkonfirmasi positif yang jauh lebih tinggi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa ibadah puasa wajib sejalan dengan upaya penanganan pandemi COVID-19.

"Dua-duanya (tahun ini dan tahun lalu) berada di situasi wabah COVID-19 yang belum sepenuhnya terkendali. Tetapi kalau tahun lalu, kemampuan untuk tracing, tracking, dan treatment itu belum cukup memadai. Kapasitas kemampuan deteksi dini, vaksinasi belum ada," ujar Ketua Bidang Fatwa MUI Dr. H. M. Asrorun Ni'am Sholeh, MA dalam konferensi pers virtual oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (12/4/2021).


Ni'am mengingatkan, angka kasus positif COVID-19 kini masih meningkat. Meski laju peningkatannya lebih lambat dibanding pada Ramadhan tahun lalu, ibadah puasa wajib dijalankan beriringan dengan penanganan COVID-19.


Menurutnya, pada orang yang terkena COVID-19 namun dengan gejala ringan dan masih mampu beraktivitas, ibadah puasa tetap boleh dijalankan.


Akan tetapi, wajib sambil mengisolasi diri agar tidak menularkan virus pada orang lain. Misalnya, dengan tidak beribadah di masjid bersama orang banyak.


"Kita memiliki kewajiban untuk menyelamatkan jiwa karena itu bagian dari hal dasar yang dilindungi oleh agama. Kalau kita teledor, bahkan mengabaikan keselamatan orang dengan aktivitas tidak disiplin, maka tentu itu dosa. Bisa jadi kita puasa tapi sia-sia," jelas Ni'am.


Sedangkan pada pasien COVID-19 dengan gejala berat, umat Islam diperbolehkan untuk tidak berpuasa.


"Kalau berdampak parah, jika puasa berdampak parah pada kondisi kesehatan, maka dia boleh untuk tidak berpuasa. Tentu pertimbangan dokter yang akan menjadi rujukan. Nggak bisa ngarang-ngarang sendiri," pungkas Ni'am.

https://trimay98.com/movies/frenzy/


Heboh Pengakuan China Soal Vaksin Kurang Manjur, Ternyata Salah Paham!


- Direktur Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) China membantah pemberitaan media soal pemerintah China mengakui vaksin buat negaranya memiliki tingkat perlindungan rendah. Ditegaskan, pemberitaan-pemberitaan tersebut adalah total kesalahpahaman.

Dalam wawancara dengan Global Times, Kepala CDC China Gao Fu menjelaskan bahwa dalam kesempatan diskusi ilmiah terkait kemanjuran vaksin COVID-19 bersama di dunia, ia sempat mengusulkan prosedur vaksinasi dan jenis vaksin yang tidak berurutan mungkin kelak harus dicoba untuk memaksimalkan potensi kemanjuran vaksin.


"Tingkat perlindungan vaksin di dunia terkadang tinggi, terkadang rendah. Bagaimana cara meningkatkan kemanjurannya, itu perlu dipertimbangkan oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia," ujarnya, dikutip dari Global Times, Selasa (13/4/2021).


Menurutnya, lantaran COVID-19 ini pertama kali ada di dunia, jelas ada banyak masalah ilmiah yang ditemui termasuk soal vaksinasi. Maka itu, penyesuaian proses vaksinasi meliputi jumlah dosis dan interval suntik perlu dicoba sembari mengadopsi vaksinasi berurutan dengan berbagai jenis vaksin.

https://trimay98.com/movies/airlift-2/