Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, mulai dari genetik hingga keturunan. Salah satu yang tidak kalah penting adalah olahraga.
"Tinggi badan tidak semata-mata didasarkan pada genetika, sebagaimana dibuktikan oleh kembar identik yang terkadang memiliki tinggi berbeda," kata professor pediatri di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt, Dr Joseph Gigante, dikutip dari laman Mom.
Kombinasi berbagai faktor akan menentukan apakah pertumbuhan tinggi badan seseorang bisa maksimal atau tidak. Secara genetik punya 'bakat' jangkung, kalau nutrisi dan faktor lain tidak terpenuhi maka hanya akan jadi 'bakat' terpendam.
Beberapa olahraga yang diyakini bisa membantu meningkatkan tinggi badan adalah sebagai berikut:
1. Stretching
Peregangan atau stretching merupakan komponen penting dalam olahraga apapun. Selain melenturkan otot-otot, peregangan juga penting untuk menjaga rang of motion saat beraktivitas.
Gerakan peregangan yang berguna untuk menambah tinggi badan antara lain berdiri membelakangi dinding lalu mengangkat tangan setinggi mungkin.
2. Bergelantungan
Anak-anak biasanya suka bergelantungan. Bukan hanya menyenangkan, permainan olahraga ini juga berguna untuk meluruskan tulang belakang. Postur ideal akan membuat tinggi badan lebih optimal.
3. Yoga
Ada banyak sekali gerakan stretching dalam yoga. Beberapa pose dalam yoga juga efektif mendorong pertumbuhan tinggi badan.
Selain itu, renang dan lompat tali juga punya manfaat terkait tinggi badan.
TERUSKAN MEMBACA, KLIK DI SINI
5 Alasan Missionary Jadi Posisi Seks Terpopuler Meski Cuma Gitu-gitu Saja
Tidak terbantahkan lagi, missionary adalah posisi seks paling populer di seluruh dunia. Tidak terbantahkan juga bahwa posisi ini paling monoton alias membosankan.
Tapi kok banyak yang suka ya?
Dikutip dari Hello Giggles, berikut 5 alasan posisi yang gitu-gitu saja tersebut tetap mendapat tempat di hati para pasangan suami-istri.
1. Bagus untuk komunikasi
Saling berhadapan adalah posisi seks yang paling memungkinkan untuk berkomunikasi secara intens. Tidak hanya verbal, masing-masing pihak juga lebih leluasa mengamati respons dan ekspresi pasangannya.
2. Tetap ada variasinya
Semembosankan-membosankannya posisi seks missionary, sebenarnya tetap ada variasi yang bisa diciptakan demi meningkatkan kenyamanan. Misalnya dengan menyelipkan bantal di bawah punggung untuk menopang tubuh sehingga stimulasi klitoris lebih optimal.
KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA
https://movieon28.com/movies/lazer-team/
Punya Diabetes, Bolehkah Ikut Puasa? Begini Aturannya Menurut Dokter
- Diabetes merupakan salah satu penyakit komorbid yang memperparah dampak COVID-19. Menyambut Ramadhan di tengah pandemi, puasa rupanya bisa menjadi langkah baik bagi para pengidap diabetes, namun dengan syarat dan kondisi tertentu. Apa kata dokter?
"Kalau mereka yang gula darahnya sudah terkontrol saat berpuasa kecenderungannya gula darahnya semakin terkontrol lagi. Kalau tidak (dikontrol dulu), ada kondisi gula darah malah drop atau timbul ketosis," jelas dokter spesialis penyakit dalam dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dalam webinar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Jumat (9/4/2021).
Menurutnya, puasa memang kerap kali membawa dampak baik bagi tubuh, tidak terkecuali pada pengidap diabetes. Pasalnya, kadar gula lebih bisa dikontrol dengan berpuasa. Baik karena porsi yang tak berlebihan, atau jam makan yang teratur.
"Mereka yang diabetes, kalau sudah teratur, itu baru aman berpuasa," ujar dr Ceva.
Seiring bulan puasa di tengah pandemi COVID-19, pengidap diabetes alias orang-orang dengan risiko gejala berat dari infeksi COVID-19 wajib dapat perhatian khusus.
Jika pengidap diabetes sedang atau baru saja terinfeksi COVID-19, puasa bisa jadi aman dijalankan. Dengan syarat, kadar gula dikontrol lebih dulu.
Namun jika pengidap diabetes ini mengalami sejumlah gejala COVID-19 baik yang berat atau ringan sekali pun, lebih baik puasa tidak dilanjutkan dulu lantaran berisiko.
"Kalau demam atau ada gejala-gejala lain, lebih baik tidak melanjutkan puasa karena berisiko gula darah bisa melonjak naik, bisa juga turun drastis. Itu harus diperhatikan," terang dr Ceva lebih lanjut pada detikcom.