Sabtu, 27 Maret 2021

COVID-19 Bukan yang Terakhir, Pandemi Baru Bisa Muncul karena Hal Ini

 Studi baru mengklaim produksi massal minyak sawit, yang 50 persen bahannya ditemukan di rumah bisa berisiko membawa kondisi dunia ke pandemi berikutnya. Hal ini dikaitkan dengan penggundulan hutan yang terus berlangsung di sejumlah wilayah.

Para peneliti menyebut wabah penyakit zoonosis akan lebih mungkin muncul dan menjadi pandemi seperti Corona saat hunian hutan semakin menipis. Studi yang dimuat dalam jurnal Frontiers in Veterinary Science menetapkan hubungan yang jelas antara pandemi dan penggundulan hutan, di mana petak besar pohon ditebang sehingga lahan dapat digunakan untuk tujuan lain.


Adalah deforestasi, yang disebut bencana bagi hewan saat mereka harus melarikan diri dari habitat aslinya. Hal ini memaksa mereka untuk tinggal lebih dekat dengan tempat tinggal manusia karena hutan semakin menipis.


Inilah yang kemudian mendorong penyebaran penyakit zoonosis dari hewan ke manusia, seperti penularan Corona yang diyakini terjadi dari kelelawar melalui inang perantara lainnya ke manusia, hingga wabah COVID-19 mulai merebak di akhir tahun 2019.


Menurut studi tersebut, salah satu penyebab utama deforestasi adalah diperolehnya minyak sawit yang ditemukan di pohon kelapa sawit. Minyak ini digunakan untuk memproduksi sejumlah besar barang termasuk kosmetik, produk pembersih hingga selai kacang.

Studi baru, yang pertama meneliti hubungan sebab-akibat dalam skala global, menunjukkan deforestasi akibat perkebunan kelapa sawit meningkatkan kemungkinan penularan penyakit zoonosis karena menghancurkan habitat hewan seperti kelelawar yang dikenal sebagai pembawa penyakit baru.


"Kami belum mengetahui mekanisme ekologi yang tepat, tetapi kami berhipotesis bahwa perkebunan, seperti kelapa sawit, berkembang dengan mengorbankan kawasan hutan alami, dan reboisasi sebagian besar merupakan hutan monospesifik yang dilakukan dengan mengorbankan padang rumput," jelas penulis utama studi baru, Kata Serge Morand.


"Kedua perubahan penggunaan lahan ini ditandai dengan hilangnya keanekaragaman hayati dan habitat yang disederhanakan ini mendukung reservoir hewan dan vektor penyakit," lanjutnya.


Studi juga menemukan data dari 47 negara soal adanya peningkatan wabah penyakit zoonosis di 27 negara akibat penggundulan hutan. Maka dari itu, peneliti memperingatkan untuk bertindak cepat untuk mencegah pandemi lainnya.

https://kamumovie28.com/movies/freeze-frame-2/


Percepat Herd Immunity, Sentra Vaksinasi COVID-19 Hadir di 5 Lokasi


Dalam rangka mempercepat program vaksinasi nasional, pemerintah menghadirkan 5 lokasi Sentra Vaksinasi COVID-19 Bersama BUMN di berbagai kota. Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menegaskan langkah ini juga sebagai upaya mewujudkan Indonesia Sehat sesegera mungkin.

"Sentra Vaksinasi Bersama BUMN akan memudahkan akses publik serta mempercepat dan memperluas cakupan vaksinasi program pemerintah. Data peserta akan diperoleh melalui pendaftaran dan pendataan berbasis teknologi dari Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan, dan peserta umum yang berbasis komunitas," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/3/2021).


Sementara itu Ketua Satgas Sentra Vaksinasi Bersama BUMN, Arya Sinulingga menjelaskan untuk saat ini, Sentra Vaksinasi COVID-19 Bersama BUMN fokus pada target peserta lansia dan petugas publik.


"Sesuai dengan tahapan program vaksinasi COVID-19 dari pemerintah," paparnya.


Lebih lanjut Koordinator PMO Komunikasi Publik Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) ini menyampaikan pendaftaran vaksinasi bagi lansia dapat dilakukan secara online melalui loket.com.


Namun, link pendaftaran untuk masing-masing lokasi akan berbeda sesuai informasi yang tertera di instagram @SentraVaksinasiBUMN. Demi kelancaran program ini, Arya mengimbau peserta untuk tetap dalam kondisi fit dan menjaga kesehatan.


Ia juga meminta peserta untuk cek kesehatan secara umum sehingga diketahui bila ada komorbid. Pasalnya, jika komorbid baru diketahui saat screening vaksinasi, hal ini dapat mengakibatkan penundaan bahkan pembatalan pemberian vaksin. Sedangkan bagi peserta yang berobat rutin untuk penyakit kronis, ia mengimbau untuk membawa surat rekomendasi vaksin dari dokter spesialis.

https://kamumovie28.com/movies/clover-3/

Kamis, 25 Maret 2021

Pernah Kena TBC, dr Tirta Ceritakan Rasanya Minum Obat Tiap Hari

 Beratnya menjalani pengobatan tuberkulosis (TB atau TBC) dirasakan sendiri oleh dokter sekaligus influencer Tirta Mandira Hudhi. Pria yang akrab disapa dr Tirta ini pernah terinfeksi tuberkulosis semasa kecil.

Kepada wartawan, dr Tirta membagikan perjuangannya hidup dengan riwayat TBC. Akibat TBC yang dialaminya semasa masih duduk di Sekolah Dasar, imunitas tubuhnya tak bia kembali pulih seratus persen. Hingga kini, beragam penyakit pernapasan (ISPA) telah dialaminya.


"Saya dulu sampai pernah menyalahkan Tuhan. Kenapa saya doang yang kena? Apa karena saya miskin?" ujarnya dalam talkshow peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Kamis (25/3/2021).


Perjuangannya kian berat lantaran TBC membuatnya dirundung. Mulai dari dijauhi banyak orang karena takut tertular, sampai dicemooh teman-teman sepermainan karena giginya yang kuning karena konsumsi obat.


Meski begitu, dr Tirta melihat ada hal yang harus ia syukuri di balik pengalamannya itu.


"Pertama, TB membuat kita spesial karena kita memiliki antibodi setelah sembuh. Kita diajari bagaimana minum obat terus-terusan" ujarnya.


Ia menekankan, upaya pengatasan TBC di Indonesia sebenarnya perlu dimulai dari edukasi kepada para orangtua. Pasalnya, amat besar potensi TBC pada anak justru ditularkan oleh orangtua.


Ia menyayangkan, akibat orangtua tak melakukan penanganan tepat, anak menjadi korbannya. Padahal dengan penanganan yang tepat, TBC bisa disembuhkan. Ia pun menyebut, bisa sembuh setelah menjalani pengobatan selama 1,5 tahun.


"Dari TB, kita mengerti bahwa prevent (mencegah) itu yang utama. Namun membahas keegoisan orangtua, itu jarang banget" imbuhnya.


Bagaimana dr Tirta membandingkan TBC dengan COVID-19? Simak halaman berikut.


Ia mengingatkan, gejala TBC bisa dikenali agar pengidap bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan sedini mungkin. Umumnya, gejala yang penting untuk dicurigai sebagai TBC adalah tubuh sering berkeringat di atas pukul 18.00, batuk selama minimal 2 minggu, dan berat badan menurun drastis.

Terakhir dr Tirta menjelaskan, perjuangan pengidap TBC di tengah pandemi COVID-19 justru semakin berat. Pasalnya, masyarakat tak paham jelas perbedaan gejala TBC dengan COVID19.


"Kalau dibandingkan sama COVID, kita lihat dua-duanya berbahaya. Kita tidak bisa melihat ini penyakit yang tinggal dikontrol, ini lebih hebat" ujarnya.

https://indomovie28.net/movies/veronika-decides-to-die/


AstraZeneca Revisi Data Uji Klinis Vaksin Corona, Efikasi Jadi 76 Persen


- Vaksin AstraZeneca memperbarui data uji coba ketiga vaksin Corona. Perbaruan ini menanggapi polemik akurasi data yang dipertanyakan dari laporan awal vaksin mereka di Amerika Serikat.

Dikutip dari CNBC, AstraZeneca mengumumkan vaksinnya 76 persen efektif mencegah kasus Corona bergejala. Mereka juga menyatakan dalam laporan baru uji ketiganya, vaksin 100 persen efektif mencegah penyakit parah karena COVID-19 dan rawat inap.


Efikasi vaksin tersebut menurun dibandingkan laporan awal yang sebelumnya menyebutkan efikasi mencapai 79 persen mencegah kasus bergejala.


Sejumlah pejabat kesehatan AS mengkritik AstraZeneca dalam beberapa hari terakhir, mengklaim jika laporan awal vaksin mereka tidak transparan dan tak lengkap, dengan dugaan menguntungkan pihak pengembang vaksin.


Pihak AstraZeneca mengklarifikasi, menegaskan data yang didapat dari laporan awal berdasarkan interim report atau analisis sementara, yang akan terus diupdate hasilnya. dr Anthony Fauci, pakar penyakit menular ternama di AS mengimbau agar tak mempermasalahkan hal tersebut lantaran sejauh ini vaksin AstraZeneca dinilai aman digunakan.


"Faktanya ini adalah vaksin yang sangat bagus," kata Fauci.

https://indomovie28.net/movies/tell-me-how-i-die/