Jumat, 19 Maret 2021

Joroknya! Orang Indonesia Makin Jarang Gosok Gigi Selama Pandemi COVID-19

  Pandemi COVID-19 membuat banyak orang harus memulai kebiasaan baru yang lebih sehat. Untuk mencegah penularan Corona, banyak masyarakat yang mulai lebih aktif berolahraga dan mengurangi kebiasaan tak sehat.

Hanya saja, dampak pandemi COVID-19 juga tercermin pada kebiasaan merawat gigi. Survei yang dilakukan oleh Unilever Indonesia terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas menemukan telah banyak dari mereka yang memulai hidup sehat.


Hanya saja, dari hasil survei tersebut juga terlihat 2 dari 5 orang dewasa mengaku tidak menyikat gigi seharian, dan ada 7 dari 10 orang menghindari pergi ke dokter gigi.


"Kebiasaan menjaga kesehatan tersebut tidak tercermin pada kebiasaan menyikat gigi, sebagian besar orang mengaku telah mengabaikan kebiasaan menyikat gigi. 9 persen orang tua tidak menyikat gigi dua kali sehari kemudian 11 persen anak-anak tidak menyikat gigi dua kali sehari," ungkap Head of Sustainable Living Beauty and Personal Care and Home Care, Unilever Indonesia Foundation drg Ratu Mirah Afifah, GCClindent, MDSc, dikutip dari laman Sehat Negeriku, Kemenkes, Jumat (19/3/2021).


drg Ratu mengatakan kebiasaan buruk tersebut mudah ditiru oleh anak-anak. Apabila orang tua tidak menyikat gigi dua kali sehari, anak-anak 7 kali lebih memungkinkan untuk tidak menyikat gigi.


Dalam survei tersebut juga terlihat bahwa selama pandemi COVID-19, orang dua kali lebih sering mencuci tangan (64 persen) dibandingkan menyikat gigi (31 persen). Di samping itu, sejak pandemi COVID-19 orang dua kali lebih sering menggunakan hand sanitizer (52 persen) dibandingkan menggunakan obat kumur (20 persen).


Menjaga kesehatan gigi dan mulut juga penting di masa pandemi COVID-19. Dengan kondisi gigi dan mulut yang sehat, Anda tidak perlu pergi ke dokter sehingga bisa terhindar dari risiko terpapar virus COVID-19.


Terdapat lima masalah gigi dan mulut yang sering dialami selama pandemi antara lain mulut kering, bau mulut, gusi dan gigi berdarah saat menyikat gigi atau saat menggunakan benang gigi, kemudian nyeri pada gigi gusi atau mulut, dan adanya lubang pada gigi yang baru terbentuk

https://indomovie28.net/movies/consequences-of-young-pregnancy/


28 Kriteria Terbaru Layak Divaksin Corona, Termasuk Alergi Obat-Makanan


 Tak hanya pada tenaga kesehatan, vaksinasi COVID-19 sudah dilakukan ke sejumlah petugas layanan publik hingga lansia. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengeluarkan rekomendasi baru yang layak dan tidak layak divaksin.

Pada rekomendasi sebelumnya, seseorang yang memiliki reaksi alergi obat dan makanan belum tercantum pada daftar penerima vaksin Corona yang layak. Kini, yang memiliki riwayat alergi tersebut diperbolehkan menerima vaksin Corona, salah satu pertimbangan PAPDI untuk mempercepat herd immunity.


"Upaya untuk mempercepat herd immunity (kekebalan kelompok) pada populasi Indonesia untuk memutus transmisi COVID-19 sehingga diperlukan cakupan vaksinasi yang luas," beber PAPDI dalam rilis yang diterima detikcom Jumat (19/3/2021).


Termasuk penyakit autoimun dan reaksi alergi anafilaksis, berikut rekomendasi terbaru PAPDI yang layak menerima vaksin Corona.


1. Penyakit autoimun

Individu dengan penyakit autoimun layak untuk mendapatkan vaksinasi jika penyakitnya sudah dinyatakan stabil sesuai rekomendasi dokter yang merawat.


2. Reaksi anafilaksis (bukan akibat vaksinasi COVID-19)

Jika tidak terdapat bukti reaksi anafilaksis terhadap vaksin COVID-19 ataupun komponen yang ada di dalam vaksin, maka vaksinasi tetap bisa dilakukan, dengan pengamatan ketat dan persiapan penanggulangan reaksi alergi berat.


3. Alergi obat

Pasien yang memiliki riwayat alergi antibiotik,neomycin, polimiksin, streptomisin, dan gentamisin agar menjadi perhatian terutama pada vaksin yang mengandung komponen tersebut. Namun, vaksin COVID-19 tidak mengandung komponen tersebut layak dapat diberikan vaksinasi COVID-19.

https://indomovie28.net/movies/hit-and-run/

Mulai Terkuak, Ini Bocoran Investigasi WHO Soal Asal-usul Virus Corona

 Setelah melakukan penyelidikan selama berbulan-bulan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menemukan jawaban dari mana pandemi virus Corona berasal. Asal usul virus Corona belum diumumkan secara lengkap, tetapi sedikit bocorannya telah disinggung.

Berdasarkan hasil investigasinya, WHO menemukan bahwa peternakan satwa liar di China menjadi kemungkinan besar sumber pandemi COVID-19.


Dikutip dari laman Live Science, Peter Daszak, seorang ahli ekologi penyakit di tim WHO yang melakukan perjalanan ke China, menjelaskan bahwa peternakan satwa liar ini, banyak di antaranya terletak di atau sekitar provinsi Yunnan di China selatan, yang kemungkinan besar memasok hewan ke pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan.


Seperti yang diketahui, Wuhan merupakan tempat kasus awal COVID-19 ditemukan pada tahun lalu. Beberapa dari hewan liar tersebut bisa saja tertular SARS-CoV-2 dari kelelawar di daerah tersebut.


WHO diperkirakan akan merilis temuannya tersebut dalam laporan dalam beberapa minggu mendatang.


Pada bulan Januari, tim ahli WHO melakukan perjalanan ke China untuk menyelidiki bagaimana pandemi Corona mematikan, dan pertama kali dimulai.


Banyak teori konspirasi telah menyebar tentang asal usul virus Corona, termasuk bahwa virus itu lolos dari laboratorium Wuhan. Namun, pada bulan lalu penyelidik WHO menepis teori konspirasi tersebut.


Konsensus umum di antara para ilmuwan adalah bahwa virus Corona beredar di kelelawar dan melompat ke manusia, kemungkinan melalui spesies perantara. Itulah tepatnya yang ditemukan oleh penyelidikan WHO.


"Virus itu kemungkinan ditularkan dari kelelawar di China selatan ke hewan di peternakan satwa liar, dan kemudian ke manusia," jelas Daszak kepada NPR.


Daszak menjelaskan, peternakan satwa liar adalah bagian dari proyek yang telah dipromosikan pemerintah China selama 20 tahun untuk mengangkat penduduk pedesaan keluar dari kemiskinan dan menutup kesenjangan pedesaan-perkotaan.


"Mereka mengambil hewan eksotis, seperti musang, landak, trenggiling, anjing rakun dan tikus bambu, dan mereka membiakkannya di penangkaran," kata Daszak.


Tetapi pada Februari 2020 lalu, China menutup peternakan tersebut karena pemerintah China mengira bahwa itu adalah bagian dari jalur transmisi dari kelelawar ke manusia.


"Pemerintah mengirimkan instruksi kepada peternak tentang bagaimana mengubur, membunuh atau membakar hewan dengan cara yang tidak menyebarkan penyakit," kata Daszak.


Dikutip NPR, banyak dari peternakan ini membiakkan hewan yang dapat membawa virus Corona, termasuk musang, kucing, dan trenggiling. Sebagian besar berlokasi di atau dekat provinsi Yunnan di China selatan, tempat para ilmuwan sebelumnya menemukan virus kelelawar yang 96 persen mirip dengan SARS-CoV-2.


Sejauh ini, WHO masih belum mengetahui hewan apa yang membawa virus dari kelelawar ke manusia. "Saya pikir SARS-CoV-2 pertama kali menyerang orang-orang di China Selatan. Tampaknya seperti itu," kata Daszak kepada NPR.


WHO juga menemukan bukti bahwa peternakan satwa liar ini memasok pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan.


"China menutup jalur itu karena suatu alasan. Yakni, mereka mungkin berpikir bahwa ini adalah jalur penularan yang paling mungkin, yang juga akan disampaikan oleh laporan WHO," pungkas Daszak.

https://indomovie28.net/movies/hit-run-2/


Joroknya! Orang Indonesia Makin Jarang Gosok Gigi Selama Pandemi COVID-19


 Pandemi COVID-19 membuat banyak orang harus memulai kebiasaan baru yang lebih sehat. Untuk mencegah penularan Corona, banyak masyarakat yang mulai lebih aktif berolahraga dan mengurangi kebiasaan tak sehat.

Hanya saja, dampak pandemi COVID-19 juga tercermin pada kebiasaan merawat gigi. Survei yang dilakukan oleh Unilever Indonesia terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas menemukan telah banyak dari mereka yang memulai hidup sehat.


Hanya saja, dari hasil survei tersebut juga terlihat 2 dari 5 orang dewasa mengaku tidak menyikat gigi seharian, dan ada 7 dari 10 orang menghindari pergi ke dokter gigi.


"Kebiasaan menjaga kesehatan tersebut tidak tercermin pada kebiasaan menyikat gigi, sebagian besar orang mengaku telah mengabaikan kebiasaan menyikat gigi. 9 persen orang tua tidak menyikat gigi dua kali sehari kemudian 11 persen anak-anak tidak menyikat gigi dua kali sehari," ungkap Head of Sustainable Living Beauty and Personal Care and Home Care, Unilever Indonesia Foundation drg Ratu Mirah Afifah, GCClindent, MDSc, dikutip dari laman Sehat Negeriku, Kemenkes, Jumat (19/3/2021).

https://indomovie28.net/movies/hit-run/