Kamis, 18 Maret 2021

Lelang Frekuensi 2,3 GHz Kembali Dibuka, Untuk 4G dan 5G

 Pemerintah kembali membuka lelang frekuensi 2,3 GHz untuk jaringan 4G dan jika memungkinkan untuk 5G. Sebelumnya hasil lelang ini sempat dibatalkan.

Dalam keterangan resmi Kementerian Kominfo, mereka mengumumkan pembukaan seleksi pengguna pita frekuensi 2,3 GHz dalam rentang 2.360-2.390 MHz. Disebutkan bahwa ini untuk penyelenggaraan jaringan bergerak seluler tahun 2021.


Dasar hukumnya adalah Pasal 11 Permen Kominfo No 9/2018 dan Kepmen Kominfo No 72/2021. Intinya bahwa keperluan penyelenggaraan jaringan tersebut melalui proses seleksi.


"Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz Untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2021 dinyatakan dibuka," kata Kominfo.


Tujuan seleksi ini adalah untuk mengoptimalkan potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) khususnya dari Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio. Selain itu, tujuan strategisnya adalah mendorong 4G dan 5G.


"Mendorong akselerasi penggelaran infrastruktur jaringan bergerak seluler dengan teknologi generasi keempat (4G/LTE) dan jika memungkinkan juga terimplementasikannya teknologi generasi kelima (5G/IMT- 2020)," paparnya.


Seleksi ini terbuka untuk semua operator. Objek Seleksi pada pita frekuensi radio 2,3 GHz terdiri atas 3 blok pita frekuensi radio di dalam rentang 2.360-2.390 MHz dengan lebar pita masing-masing blok adalah 10 MHz. Peserta seleksi bisa menawar 1-3 blok yang diminati.


Waktu, persyaratan dan prosedur seleksi dijelaskan lengkap di Dokumen Seleksi. Dokumen tersebut bisa diambil pada Rabu 17 Maret 2021 pukul 13.00-15.00 WIB di Sekretariat Tim Seleksi Wisma Antara Lantai Dasar Jalan Medan Merdeka Selatan No17, Jakarta Pusat.


Lelang frekuensi sebelumnya yang dimenangkan Telkomsel, Tri Indonesia dan Smartfren telah dibatalkan oleh pemerintah. Alasannya saat itu adalah tiak optimalnya potensi PNBP yang akan diperoleh. Pembatalan ini pun sempat menuai kritik.

https://movieon28.com/movies/montreux-comedy-festival-la-boum/


Clubhouse Bikin Program Agar Kreator Bisa Dapat Cuan


Dalam pertemuan dengan para karyawannya, CEO Clubhouse Paul Davison mengumumkan program yang akan dibuat oleh Clubhouse untuk menggaet kreator konten.

Nama program ini adalah Clubhouse Creator First, yang akan membantu host dan kreator di Clubhouse untuk mengembangkan pendengarnya, bisa terhubung dengan brand untuk bekerja sama, dan yang terpenting adalah bisa memonetisasi acara mereka.


Program akselerator tersebut pada awalnya akan menerima 20 kreator, dan pendaftaran kreator konten ini akan dibuka mulai 31 Maret mendatang, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Senin (15/3/2021).


"Kami meluncurkan program akselerator kreator pertama, Clubhouse Creator First. Kami akan mendukung dan melengkapi 20 kreator dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkan ide dan kreativitas mereka," tulis Clubhouse di akun Twitter mereka @joinClubhouse.


Clubhouse sendiri berulang tahun yang pertama pada 17 Maret mendatang, dan perjalanannya sejauh ini terbilang memuaskan. Selain sempat menarik perhatian banyak pengguna media sosial, Clubhouse juga sukses membuat platform media sosial lain untuk berencana membuat layanan sejenis, seperti Twitter Spaces, yang meluncur bulan depan, dan juga Instagram serta Bytedance yang berencana membuat layanan sejenis Clubhouse.


Selain mengadakan program akselerator, Davison pun menyebut mereka akan memberikan sejumlah fitur baru yang sering diminta oleh pengguna. Seperti kemampuan untuk membagikan tautan, dan juga filter bahasa.


Clubhouse pun nantinya tak akan meminta akses ke daftar kontak di ponsel pengguna. Jadi pengguna bisa langsung mengundang orang lain dengan memasukkan langsung nomornya.


Daftar kontak dari ponsel pengguna yang sudah terlanjur diunggah ke Clubhouse nantinya juga bisa dihapus, caranya dengan menghubungi Clubhouse. Akan ada juga fitur yang berfungsi untuk menghapus daftar kontak tersebut.

https://movieon28.com/movies/the-party/

Kalau Tidak Ada COVID-19, Bisa Jadi Wabah Ini yang Muncul

 - Pandemi COVID-19 meninggalkan duka mendalam, banyak orang harus berpulang karenanya. Mereka biasa siapa saja, orang tua, adik, kakak, atau teman-teman tercinta.

Tapi karena pandemi juga, wabah lumpuh misterius batal menyebar. Penyakit ini adalah acute flaccid myelitis (AFM). Penyakit saraf mirip polio ini menyerang khususnya anak-anak, menyebabkan kelemahan otot dan, dalam beberapa kasus, kelumpuhan permanen bahkan kematian.


Selama beberapa dekade, kasus AFM sangat jarang, tetapi dalam beberapa tahun terakhir wabah yang lebih besar di seluruh Amerika Serikat dan di tempat lain telah terjadi. Hal ini tampaknya berulang setiap dua tahun.


Sebuah badan penelitian sebelumnya telah mengaitkan AFM dengan virus langka yang disebut enterovirus D68 (EV-D68). Meskipun belum diketahui bagaimana virus memanifestasikan gejala penyakit AFM.


Dalam penelitian baru, tim yang dipimpin oleh pemodel penyakit menular Sang Woo Park dari Princeton University melacak pola kasus EV-D68 antara 2014-2019. Terlihat virus menunjukkan kebangkitan yang signifikan pada tahun genap (2014, 2016, dan 2018) yang dianggap terkait dengan faktor berbasis iklim. Data pun memprediksi tahun 2020, penyakit ini akan datang lagi pada 2020.


"Kami memperkirakan bahwa wabah EV-D68 besar, dan karenanya wabah AFM, masih mungkin terjadi pada tahun 2020 di bawah kondisi epidemiologi normal," kata para peneliti dalam penelitian mereka.


Namun ternyata, melansir Science Alert, Kamis (15/3/2021) ketika dunia bersusah payah melawan kondisi epidemiologis tahun 2020 yang sama sekali tidak biasa, serangan wabah dari EV-D68 dan AFM tidak pernah datang.


Di Amerika Serikat, negara dengan kasus COVID-19 yang jauh lebih banyak daripada yang lain, efek gabungan dari kebijakan social distancing, karantina dan isolasi, serta upaya lainnya nampaknya tidak hanya mengurangi penyebaran SARS-CoV-2 tetapi EV-D68 juga.


"Analisis awal kami menunjukkan bahwa respons pandemi COVID-19 kemungkinan telah memengaruhi dinamika wabah EV-D68 2020," tulis peneliti.


Menurut peneliti, ada 153 kasus AFM pada 2016 dan 238 kasus pada 2018, tetapi hanya 31 kasus pada 2020. Penemuan ini dilaporkan dalam Science Translational Medicine.

https://movieon28.com/movies/bang-gang-a-modern-love-story/


Lelang Frekuensi 2,3 GHz Kembali Dibuka, Untuk 4G dan 5G


Pemerintah kembali membuka lelang frekuensi 2,3 GHz untuk jaringan 4G dan jika memungkinkan untuk 5G. Sebelumnya hasil lelang ini sempat dibatalkan.

Dalam keterangan resmi Kementerian Kominfo, mereka mengumumkan pembukaan seleksi pengguna pita frekuensi 2,3 GHz dalam rentang 2.360-2.390 MHz. Disebutkan bahwa ini untuk penyelenggaraan jaringan bergerak seluler tahun 2021.


Dasar hukumnya adalah Pasal 11 Permen Kominfo No 9/2018 dan Kepmen Kominfo No 72/2021. Intinya bahwa keperluan penyelenggaraan jaringan tersebut melalui proses seleksi.


"Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz Untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2021 dinyatakan dibuka," kata Kominfo.


Tujuan seleksi ini adalah untuk mengoptimalkan potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) khususnya dari Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio. Selain itu, tujuan strategisnya adalah mendorong 4G dan 5G.


"Mendorong akselerasi penggelaran infrastruktur jaringan bergerak seluler dengan teknologi generasi keempat (4G/LTE) dan jika memungkinkan juga terimplementasikannya teknologi generasi kelima (5G/IMT- 2020)," paparnya.

https://movieon28.com/movies/atashira/