Kamis, 18 Maret 2021

Kalau Tidak Ada COVID-19, Bisa Jadi Wabah Ini yang Muncul

 - Pandemi COVID-19 meninggalkan duka mendalam, banyak orang harus berpulang karenanya. Mereka biasa siapa saja, orang tua, adik, kakak, atau teman-teman tercinta.

Tapi karena pandemi juga, wabah lumpuh misterius batal menyebar. Penyakit ini adalah acute flaccid myelitis (AFM). Penyakit saraf mirip polio ini menyerang khususnya anak-anak, menyebabkan kelemahan otot dan, dalam beberapa kasus, kelumpuhan permanen bahkan kematian.


Selama beberapa dekade, kasus AFM sangat jarang, tetapi dalam beberapa tahun terakhir wabah yang lebih besar di seluruh Amerika Serikat dan di tempat lain telah terjadi. Hal ini tampaknya berulang setiap dua tahun.


Sebuah badan penelitian sebelumnya telah mengaitkan AFM dengan virus langka yang disebut enterovirus D68 (EV-D68). Meskipun belum diketahui bagaimana virus memanifestasikan gejala penyakit AFM.


Dalam penelitian baru, tim yang dipimpin oleh pemodel penyakit menular Sang Woo Park dari Princeton University melacak pola kasus EV-D68 antara 2014-2019. Terlihat virus menunjukkan kebangkitan yang signifikan pada tahun genap (2014, 2016, dan 2018) yang dianggap terkait dengan faktor berbasis iklim. Data pun memprediksi tahun 2020, penyakit ini akan datang lagi pada 2020.


"Kami memperkirakan bahwa wabah EV-D68 besar, dan karenanya wabah AFM, masih mungkin terjadi pada tahun 2020 di bawah kondisi epidemiologi normal," kata para peneliti dalam penelitian mereka.


Namun ternyata, melansir Science Alert, Kamis (15/3/2021) ketika dunia bersusah payah melawan kondisi epidemiologis tahun 2020 yang sama sekali tidak biasa, serangan wabah dari EV-D68 dan AFM tidak pernah datang.


Di Amerika Serikat, negara dengan kasus COVID-19 yang jauh lebih banyak daripada yang lain, efek gabungan dari kebijakan social distancing, karantina dan isolasi, serta upaya lainnya nampaknya tidak hanya mengurangi penyebaran SARS-CoV-2 tetapi EV-D68 juga.


"Analisis awal kami menunjukkan bahwa respons pandemi COVID-19 kemungkinan telah memengaruhi dinamika wabah EV-D68 2020," tulis peneliti.


Menurut peneliti, ada 153 kasus AFM pada 2016 dan 238 kasus pada 2018, tetapi hanya 31 kasus pada 2020. Penemuan ini dilaporkan dalam Science Translational Medicine.

https://movieon28.com/movies/bang-gang-a-modern-love-story/


Lelang Frekuensi 2,3 GHz Kembali Dibuka, Untuk 4G dan 5G


Pemerintah kembali membuka lelang frekuensi 2,3 GHz untuk jaringan 4G dan jika memungkinkan untuk 5G. Sebelumnya hasil lelang ini sempat dibatalkan.

Dalam keterangan resmi Kementerian Kominfo, mereka mengumumkan pembukaan seleksi pengguna pita frekuensi 2,3 GHz dalam rentang 2.360-2.390 MHz. Disebutkan bahwa ini untuk penyelenggaraan jaringan bergerak seluler tahun 2021.


Dasar hukumnya adalah Pasal 11 Permen Kominfo No 9/2018 dan Kepmen Kominfo No 72/2021. Intinya bahwa keperluan penyelenggaraan jaringan tersebut melalui proses seleksi.


"Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz Untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2021 dinyatakan dibuka," kata Kominfo.


Tujuan seleksi ini adalah untuk mengoptimalkan potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) khususnya dari Biaya Hak Penggunaan (BHP) spektrum frekuensi radio. Selain itu, tujuan strategisnya adalah mendorong 4G dan 5G.


"Mendorong akselerasi penggelaran infrastruktur jaringan bergerak seluler dengan teknologi generasi keempat (4G/LTE) dan jika memungkinkan juga terimplementasikannya teknologi generasi kelima (5G/IMT- 2020)," paparnya.

https://movieon28.com/movies/atashira/

Akses Internet di Myanmar Kembali Diputus Junta Militer

 Akses internet di Myanmar kembali diputus oleh Junta Militer, sejak kudeta yang terjadi pada 1 Februari 2021 lalu.

Ini ketiga kalinya mereka memutus akses internet di Myanmar sebagai upaya menutupi tindakan brutal setelah diberlakukannya darurat militer di Kota Hlang Tahyar, Yangon dan Swepyitha pada Minggu (14/3).


Disampaikan oleh Lynn Htet (22), salah satu warga Myanmar, pihak militer telah mematikan akses internet seluler dan wifi.


"Mereka sudah mematikan data seluler kami, mereka memutus koneksi internet wifi kami," ujar Lynn seperti diberitakan CNNIndonesia.com, Senin (15/3).


Junta militer juga membatasi layanan telekomunikasi dan internet untuk meredam pemberontakan. Sejak itu, hampir setiap malam, akses internet di beberapa wilayah di Myanmar mati.


Seperti yang disampaikan Lynn, bahwa junta militer selalu memutus sambungan internet mulai pukul 01.00 dini hari hingga 09.00 pagi. Namun hingga berita ini dibuat, dirinya menyampaikan akses internet di Myanmar masih belum dipulihkan.


"Kami hanya memiliki jaringan internet fiber yang tidak stabil, sebagian besar daerah pedesaan tidak memiliki internet fiber dan mereka hanya mengandalkan internet seluler," tambahnya.


Sebelum memutuskan akses internet, sehari sebelumnya aparat keamanan melakukan penyisiran terhadap pendukung Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dengan tujuan mencari pendukung Aung San Suu Kyi hingga ke kota kecil tempat tinggal Lynn di Irawaddy.


Ia menyampaikan polisi sering kali melakukan penyisiran terhadap warga yang menentang kudeta militer. Di hari yang sama, polisi melepaskan tembakan hingga menewaskan setidaknya empat orang di kota tempat tinggalnya.


"Kemarin malam, mereka baru saja menembak dan membunuh. Bisa saja ada penyisiran malam ini. (Penyisiran) itu tak bisa diprediksi dan mereka melakukannya ketika mereka mau," ujarnya.


"Tidak ada kata-kata untuk menggambarkan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kekejaman tidak manusiawi yang dilakukan Junta terhadap rakyat Myanmar. Tolong dukung rakyat Myanmar dan itu adalah aspirasi untuk demokrasi dan hak asasi manusia," imbuhnya.


Sudah lebih dari satu bulan lamanya, sejak kudeta, pemberontakan dan perlawanan rakyat sipil terhadap junta militer Myanmar terjadi dan hal ini terus meluas.


Parahnya, aparat pun semakin brutal dalam menangani para pendemo. Lembaga pemantau hak asasi manusia, Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), melaporkan sejauh ini setidaknya total 140 orang telah tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat.


"Saya merasa seperti kehilangan masa depan ketika mendengar berita pada 1 Februari. Saya merasa sangat kesakitan dan saya tidak ingin melupakan rasa sakit itu selamanya," kata seorang wanita berusia 23 tahun di sebuah ruang tamu di Yangon yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Reuters.

https://movieon28.com/movies/rembulan-tenggelam-di-wajahmu/


Kalau Tidak Ada COVID-19, Bisa Jadi Wabah Ini yang Muncul


- Pandemi COVID-19 meninggalkan duka mendalam, banyak orang harus berpulang karenanya. Mereka biasa siapa saja, orang tua, adik, kakak, atau teman-teman tercinta.

Tapi karena pandemi juga, wabah lumpuh misterius batal menyebar. Penyakit ini adalah acute flaccid myelitis (AFM). Penyakit saraf mirip polio ini menyerang khususnya anak-anak, menyebabkan kelemahan otot dan, dalam beberapa kasus, kelumpuhan permanen bahkan kematian.


Selama beberapa dekade, kasus AFM sangat jarang, tetapi dalam beberapa tahun terakhir wabah yang lebih besar di seluruh Amerika Serikat dan di tempat lain telah terjadi. Hal ini tampaknya berulang setiap dua tahun.


Sebuah badan penelitian sebelumnya telah mengaitkan AFM dengan virus langka yang disebut enterovirus D68 (EV-D68). Meskipun belum diketahui bagaimana virus memanifestasikan gejala penyakit AFM.


Dalam penelitian baru, tim yang dipimpin oleh pemodel penyakit menular Sang Woo Park dari Princeton University melacak pola kasus EV-D68 antara 2014-2019. Terlihat virus menunjukkan kebangkitan yang signifikan pada tahun genap (2014, 2016, dan 2018) yang dianggap terkait dengan faktor berbasis iklim. Data pun memprediksi tahun 2020, penyakit ini akan datang lagi pada 2020.


"Kami memperkirakan bahwa wabah EV-D68 besar, dan karenanya wabah AFM, masih mungkin terjadi pada tahun 2020 di bawah kondisi epidemiologi normal," kata para peneliti dalam penelitian mereka.

https://movieon28.com/movies/lying-lover/