Senin, 15 Maret 2021

Kasus Aktif COVID-19 RI di Bawah Angka Global, Satgas Klaim Efek PPKM Mikro

 Meski angka kasus aktif masih bertambah setiap hari, percepatan penambahannya cenderung melambat. Total kasus aktif COVID-19 di Indonesia saat ini tercatat lebih rendah dibanding angka global.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut, hal tersebut disebabkan pembatasan mobilitas dan vaksinasi selama 2 sampai 3 bulan terakhir. Meski total kasus COVID-19 sempat tinggi sekali, kondisi di Indonesia cenderung membaik.


"Sepanjang 2-3 bulan terakhir ini, kita bisa menurunkan kasus aktif hingga pada hari ini, pencapaian terbaik kita adalah sudah mencapai 1 digit yaitu 9,72 persen. Sementara kasus aktif dunia berada di posisi 17,34 persen," ujarnya dalam live streaming rapat kerja Komisi IX DPR RI, Senin (15/3/2021).



Selain itu, angka kesembuhan dari COVID-19 di Indonesia tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan kasus kesembuhan global, yakni dengan angka 87,58 persen.


Akan tetapi, total angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia masih tercatat lebih tinggi dibanding angka global, dengan selisih sekitar 0,49 persen. Di antaranya, angka kematian tertinggi ada pada kelompok dokter dan tenaga kesehatan (nakes).


Berdasarkan data dari BLC (Bersatu Lawan COVID), semakin usia bertambah risiko kematian semakin tinggi. Risiko kematian rentan ini terutama pada mereka yang memiliki penyakit komorbid ginjal, jantung, diabetes, hipertensi, dan gangguan imunitas.


"Mereka yang punya komorbid lebih dari 1 kasus maka angka kematian sangat tinggi. Upaya kita adalah menyusun strategi agar bisa memberikan perlindungan optimal kepada kelompok rentan, yaitu mereka yang punya komorbid dan usia di atas 47 tahun," terang Doni.


Menghadapi kondisi tersebut, Doni menekankan bahwa pembatasan mobilitas perlu dimaksimalkan.


Pasalnya, besar potensi perlambatan kasus aktif di Indonesia selama 2 - 3 bulan ini disebabkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dengan pendekatan ke RT dan RW.


"Setelah ada PPKM Mikro, kasus aktif mengalami penurunan dan juga angka kematian dokter dan nakes mengalami penurunan," ujar Doni.

https://cinemamovie28.com/movies/clean-hands/


Menkes Sebut Sudah Ada Transmisi Lokal Virus Corona B117


 Varian Corona B117 berhasil diidentifikasi di Indonesia usai tes whole genome sequencing ditingkatkan. Melibatkan banyak laboratorium termasuk dari Kemenristek BRIN.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, mulanya testing WGS masih jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain. "Beberapa negara setahun bisa 10 ribu testing yang dilakukan," beber Menkes Budi dalam raker bersama Komisi IX DPR RI Senin (15/3/2021).


Lebih lanjut, Menkes Budi menyebut varian Corona B117 sebenarnya sudah masuk Indonesia sejak awal tahun. Beberapa kasus di antaranya merupakan impor, dan kasus lain adalah transmisi atau penularan lokal.


"Adanya varian baru yang sebenarnya sudah masuk di awal tahun, 2 yang pertama dari Saudi Arabia untuk varian B117 dari UK dan 6 sampel kemudian juga diketahui, dua di antaranya juga dari Saudi Arabia dan sudah ada juga yang berasal dari transmisi lokal," lanjut Budi.



Tracing untuk sejumlah kasus Corona B117 sudah dilakukan. Sampai saat ini, Budi menyebut seluruh kontak erat Corona B117 di Indonesia negatif.


Meski begitu, Budi menegaskan, genomic sequencing akan terus ditingkatkan untuk melihat lebih jauh kemungkinan penyebaran varian baru Corona, maupun yang muncul di RI.


"Kita sudah menindaklanjuti untuk tracingnya dan alhamdulillah sampai sekarang semuanya masih negatif," kata Budi.


"Dan sekarang kita akan terus memperbanyak dan memperketat genome sequensing ini, memanfaatkan seluruh jaringan lab yang ada di bawah kami dan Kemenristek BRIN," pungkasnya.


Di luar dua kasus impor dari Arab Saudi, berikut empat kasus Corona B117 di RI yang disebut Menkes Budi:


Satu kasus di Palembang, Sumatera Selatan, pada 11 Januari 2021

Satu kasus di Kalimantan Selatan pada 6 Januari 2021

Satu kasus di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 12 Februari 2021

Satu kasus di Medan, Sumatera Utara, pada 28 Januari 2021

https://cinemamovie28.com/movies/emma-6/

Digoyang Isu Pembekuan Darah, Ini Nasib Vaksin AstraZeneca di Berbagai Negara

  Belakangan ini, penggunaan vaksin COVID-19 dari AstraZeneca ditangguhkan di beberapa negara Eropa. Hal ini berkaitan dengan adanya laporan pembekuan darah pada beberapa orang yang telah disuntik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan tidak bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan pembekuan darah. Untuk itu, vaksin AstraZeneca akan terus digunakan.


"Ya, kita harus terus menggunakan vaksin AstraZeneca. Tidak ada indikasi untuk tidak menggunakannya," kata juru bicara WHO Margaret Harris, dikutip dari AFP.


"AstraZeneca adalah vaksin yang sangat baik, seperti juga vaksin lain yang sedang digunakan," lanjutnya.


Bantahan senada juga disampaikan oleh produsennya, AstraZeneca. Disebutkan, sejauh ini belum ada bukti adanya pembekuan darah yang disebabkan oleh efek vaksin.


Sikap negara-negara yang menggunakannya beragam. Ada yang menangguhkan dengan alasan kehati-hatian, ada juga yang tetap melanjutkan vaksinasi demi mengejar herd immunity.


Berikut rangkumannya:


1. Denmark

Salah satu negara yang menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca adalah Denmark. Menurut Menteri Kesehatan Denmark, hal ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian.


"Saat ini tidak mungkin untuk menyimpulkan apakah ada kaitannya. Kami bertindak lebih awal, itu perlu diselidiki secara menyeluruh," kata Menteri Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke.

https://cinemamovie28.com/movies/emma-5/


2. Norwegia

Dikutip dari The Washington Post, Norwegia memutuskan tidak akan menerima dosis vaksin AstraZeneca mengikuti imbauan dari European Medicines Agency (EMA). Ini dilakukan karena kekhawatiran adanya laporan kematian seseorang yang didiagnosis mengalami pembekuan darah selama 10 hari, usai diberikan vaksin AstraZeneca di Austria.


Selain itu, baru-baru ini Norwegia juga melaporkan tiga petugas kesehatan mengalami kondisi yang serius pasca menerima vaksin AstraZeneca. Dikutip dari Channel News Asia, otoritas kesehatan Norwegia mengatakan ketiganya mengalami pendarahan, pembekuan darah, dan jumlah trombosit darah yang rendah.


3. Islandia

Negara Islandia juga mengumumkan penundaan penggunaan vaksin AstraZeneca. Mereka menangguhkan pemberian vaksin ini karena menunggu hasil penyelidikan oleh EMA.


4. Belanda

Belanda juga ikut menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca setelah adanya laporan terkait efek samping yang tak terduga, pasca vaksinasi.


Dikutip dari Reuters, Pemerintah Belanda mengatakan vaksin tersebut tidak akan digunakan hingga setidaknya 29 Maret 2021, sebagai tindakan pencegahan.


5. Italia

Italia juga ikut menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca. Hal ini tetap dilakukan meski batch pengiriman vaksin yang diterimanya berbeda dengan yang digunakan di Austria.


6. Thailand

Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang juga menangguhkan pemberian vaksin COVID-19 AstraZeneca. Ini juga dipengaruhi dengan kasus pembekuan darah yang dilaporkan di beberapa negara.


"AstraZeneca masih merupakan vaksin yang bagus tetapi dengan apa yang telah terjadi... kementerian kesehatan berdasarkan nasihat ini ingin menunda penggunaan vaksin AstraZeneca untuk sementara," kata Kiattiphum Wongjit, sekretaris Kementerian Kesehatan, dikutip dari Reuters.

https://cinemamovie28.com/movies/emma-4/