Jumat, 12 Maret 2021

Bisakah Hujan Ekstrem Dini Hari Dicegah Pakai Modifikasi Cuaca?

 Banjir besar yang terjadi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi (Jadetabek) pada 20 Februari 2021 lalu dipicu hujan ekstrem dengan intensitas hingga 226 mm yang terjadi pada dini hari.

Mekanisme yang menyebabkan hujan dini hari ekstrem ini berkaitan dengan fenomena Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), yaitu berupa penguatan angin permukaan dari utara yang memanjang dari Selat Karimata hingga utara Jakarta.


Menggunakan Satelit Early Disaster Warning System (SADEWA), Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan (TReAK), Pusat Sains dan Teknologi Antariksa (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memprediksi akan terjadinya fenomena tersebut.


Pada kasus yang terjadi 20 Februari tersebut, fenomena CENS memicu hujan ekstrem melalui dua cara. Pertama, menggeser sel konveksi yang terbentuk di tengah laut Jawa pada tengah malam menuju ke kawasan pesisir Jakarta pada dinihari melalui proses propagasi hujan.


Kedua, menimbulkan konvergensi dengan angin baratan dari Selat Sunda sehingga konveksi darat yang terjadi di Lampung pada sore hari sebelumnya mengalami perpanjangan ke arah Selat Sunda dan menuju Jakarta pada dinihari.

https://indomovie28.net/movies/kung-fu-boys/


"Berdasarkan pantauan terhadap data awan, hujan ekstrem dini hari tersebut tidak dibangkitkan oleh awan skala meso yang telah terbentuk sebelumnya di atas darat, melainkan oleh percepatan pertumbuhan awan yang terjadi di kawasan pesisir pada tengah malam-dinihari, seiring dengan kejadian hujan yang dimulai sejak tengah malam di kawasan Jakarta," kata peneliti PSTA LAPAN Erma Yulihastin dalam keterangan persnya, Senin (8/3/2021).


Artinya, terdapat mekanisme yang mempercepat proses induksi pembentukan awan-awan baru dari hujan yang telah terjadi sebelumnya sehingga menghasilkan awan skala meso yang meliputi Jawa bagian barat. Proses ini dinamakan dengan cold pool.


Bisakah proses yang berkaitan dengan cold pool ini dicegah dengan melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada sore hari sebelumnya di Lampung dan Selat Sunda untuk menghentikan perpanjangan hujan menuju Jakarta? Jawabnya adalah tidak bisa dan bahkan berbahaya, dengan beberapa alasan berikut.


(1) Proses di atmosfer sangat acak dan menganut hukum chaos. Gangguan kecil di atmosfer pada suatu lokasi dapat menyebabkan perubahan fatal kondisi atmosfer di lokasi lain karena atmosfer saling terhubung melalui sirkulasi yang bersifat regional bahkan global.


(2) Percepatan hujan dari awan konvektif justru dapat membangkitkan cold pool yang gerakannya acak ke segala arah dan dapat memicu aktivitas konvektif yang bersifat lebih meso atau meluas.


(3) Operasi TMC yang dilakukan pada saat angin mengalami penguatan atau konvergensi dapat memicu pembentukan rainband (pita hujan) yang terjadi lebih cepat atau bahkan dapat memicu pembentukan garis badai (squall line) yang efeknya dapat menjangkau wilayah yang jauh hingga ratusan kilometer dari lokasi TMC.


Pada 21-22 Februari, pelemahan konveksi di barat Indonesia dipengaruhi oleh vorteks Borneo. Pada 23-26 Februari, siklon tropis secara dominan mengontrol konveksi skala meso yang tidak menimbulkan konvergensi skala luas dan persisten di darat melainkan di laut. Pertumbuhan awan di sekitar Lampung, Selat Sunda, dan Jakarta pada periode ini lebih banyak dikontrol oleh sistem skala besar yang berasal dari aktivitas siklon tropis. Dengan demikian, operasi TMC yang dilakukan selama periode tersebut menjadi tidak efektif.


Melihat hal tersebut, penting dilakukan kajian kembali terkait penggunaan TMC. Utamanya dikarenakan belum adanya bukti saintifik bahwa teknologi tersebut aman dan efektif. Selain itu dampak terhadap lingkungan belum diketahui dengan jelas, sehingga sebaiknya perlu dilakukan verifikasi komposisi kimia air hujan hasil operasi TMC.

https://indomovie28.net/movies/bloodsucking-bastards/

Di Tengah Isu Pembekuan Darah, Inggris-Kanada Lanjutkan Vaksin AstraZeneca

 Pada Kamis (11/3/2021), pihak regulator obat Inggris menegaskan warga di Inggris harus tetap mendapatkan vaksin COVID-19, termasuk suntikan vaksin yang dikembangkan AstraZeneca dan Oxford University.

Pernyataan tersebut diungkapkan setelah beberapa negara seperti Denmark dan Norwegia menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Penangguhan tersebut terkait laporan yang menyebut beberapa orang yang telah divaksinasi mengalami pembekuan darah, dan satu orang meninggal dunia.


Sementara itu, Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan Inggris (MHRA) mengatakan belum bisa dipastikan apakah kasus pembekuan darah yang dilaporkan di Denmark berkaitan dengan vaksin. Ia juga menambahkan, penangguhan penggunaan vaksin di Denmark dilakukan sebagai upaya pencegahan.


"Pembekuan darah bisa terjadi secara alami dan tidak jarang," kata Kepala Keamanan Vaksin MHRA Phil Bryan, dikutip dari Channel News Asia, Jumat (12/3/2021).


"Kasus ini masih kami simpan dan sedang dalam peninjauan ketat. Tetapi, bukti yang tersedia tidak mengkonfirmasi bahwa vaksin adalah penyebabnya. Orang-orang masih harus pergi dan mendapatkan vaksin COVID-19," lanjutnya.


Sikap serupa juga disampaikan oleh direktur kesehatan masyarakat Kanada, Horacio Arruda. Ia terus memantau perkembangan kasus di Eropa namun memastikan vaksinasi dengan produk tersebut tetap akan dilanjutkan.


"Pada saat ini, kami tidak memiliki informasi yang menunjukkan bahwa vaksin ini memiliki lebih banyak risiko dibanding yang lain," katanya, dikutip dari The Guardian.

https://indomovie28.net/movies/leslie-jones-time-machine/


Bisakah Hujan Ekstrem Dini Hari Dicegah Pakai Modifikasi Cuaca?


Banjir besar yang terjadi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi (Jadetabek) pada 20 Februari 2021 lalu dipicu hujan ekstrem dengan intensitas hingga 226 mm yang terjadi pada dini hari.

Mekanisme yang menyebabkan hujan dini hari ekstrem ini berkaitan dengan fenomena Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), yaitu berupa penguatan angin permukaan dari utara yang memanjang dari Selat Karimata hingga utara Jakarta.


Menggunakan Satelit Early Disaster Warning System (SADEWA), Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan (TReAK), Pusat Sains dan Teknologi Antariksa (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memprediksi akan terjadinya fenomena tersebut.


Pada kasus yang terjadi 20 Februari tersebut, fenomena CENS memicu hujan ekstrem melalui dua cara. Pertama, menggeser sel konveksi yang terbentuk di tengah laut Jawa pada tengah malam menuju ke kawasan pesisir Jakarta pada dinihari melalui proses propagasi hujan.


Kedua, menimbulkan konvergensi dengan angin baratan dari Selat Sunda sehingga konveksi darat yang terjadi di Lampung pada sore hari sebelumnya mengalami perpanjangan ke arah Selat Sunda dan menuju Jakarta pada dinihari.


"Berdasarkan pantauan terhadap data awan, hujan ekstrem dini hari tersebut tidak dibangkitkan oleh awan skala meso yang telah terbentuk sebelumnya di atas darat, melainkan oleh percepatan pertumbuhan awan yang terjadi di kawasan pesisir pada tengah malam-dinihari, seiring dengan kejadian hujan yang dimulai sejak tengah malam di kawasan Jakarta," kata peneliti PSTA LAPAN Erma Yulihastin dalam keterangan persnya, Senin (8/3/2021).

https://indomovie28.net/movies/level-up-2/