Rabu, 10 Maret 2021

BPOM Sayangkan Vaksin Nusantara Belum Diuji ke Hewan, Ini Jawab Terawan

 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyayangkan uji preklinis vaksin Nusantara tak dilakukan terlebih dulu pada hewan. Pasalnya, seluruh vaksin yang dikembangkan selama ini selalu melewati fase uji preklinis pada hewan.

Saat BPOM meminta vaksin Nusantara melakukan uji klinis pada hewan, tim peneliti menolak dengan alasan teknologi sel dendritik sudah sering digunakan pada terapi kanker.


Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang memprakarsai vaksin Nusantara angkat bicara mengenai hal ini. Ia berdalih uji klinis pada hewan sudah dilakukan di Amerika Serikat, AIVITA Biomedical.


"Saya sudah WA-kan hasil uji klinik mengenai vaksin safety dan efikasi oleh pihak ketiga di Amerika karena itu sudah dikerjakan," jelas Terawan dalam Raker DPR Komisi IX Rabu (10/3/2021)


"Dan itu hasilnya ada kita kan kirimkan vaksin safety dan efikasi pada uji binatang ini juga sudah kita konsultasikan ke Prof Nidom sudah saya kirim," bebernya.


Menanggapi ini, Guru Besar Unair Prof Chairul A Nidom menyebut laporan uji klinis pada hewan yang diterimanya sudah sesuai dengan uji atau penelitian vaksin pada umumnya, dan mengklaim tak ada perubahan apapun dalam uji coba yang disebut menggunakan tikus.


Permintaan BPOM soal uji coba pada hewan bukan tak beralasan. Meski teknologi sel dendritik sudah biasa digunakan pada terapi kanker, vaksin Nusantara ditambahkan antigen hingga perlu melihat dulu keamanan vaksin tersebut.

https://cinemamovie28.com/movies/female-workers-romance-at-work/


"Jangan sampai kita memberikan kepada manusia suatu produk yang belum terjamin aspek keamanannya," wanti-wanti kepala BPOM Penny K Lukito, dalam kesempatan yang sama.


Lebih detail, juru bicara program vaksinasi COVID-19 BPOM Lucia Rizka Andalusia, menjelaskan pihaknya sangat berhati-hati dalam mengizinkan penelitian atau uji coba vaksin. Ia juga mempersoalkan antigen yang diimpor dari perusahaan AIVITA, perusahaan yang ikut dalam pengembangan vaksin Nusantara.


"Antigen itu yang akan berfungsi sebagai vaksin, tentunya kami harus memastikan sel dendritik yang nantinya akan disuntikkan sudah bebas dari antigen yang diinkubasikan ke dalam sel dendritik tersebut karena bagaimanapun juga antigen itu dibuat dari virus," kata dia.


"Kami harus mematikan keamanannya dan dia sudah tidak terkandung dalam sel dendritik, oleh karena itu kami meminta dilakukan uji pre klinik pada hewan," jelas Rizka.


Meski pada akhirnya para peneliti vaksin Nusantara bersikeras tak ingin melakukan uji coba pada hewan, BPOM memberikan beberapa opsi kondisional, seperti mengizinkan penelitian pertama untuk tiga subjek saja.


"Karena tidak dilakukan kami memberikan kondisional dengan menyatakan bahwa dilakukan dulu di tag orang pertama. Karena kami sangat berhati-hati, first in human ini harus benar-benar dipastikan ini aman dan kami meminta pengujian apakah ada residu antigen di dalam sel dan kritiknya," jelas Rizka.


"Dari antigen yang diimpor dari AIVITA itu kami ingin tahu bagaimana residunya dan apakah itu masuk ke dalam tubuh pasien tersebut," pungkasnya.

https://cinemamovie28.com/movies/bastille-day/

Selasa, 09 Maret 2021

Ungkap Gejala 4 Kasus Baru Corona B117, Kemenkes: Tak Ada Keluhan Sesak Napas

 Kasus Corona B117 kembali ditemukan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut empat kasus Corona ditemukan di empat provinsi seperti di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr Siti Nadia Tarmizi, tak ada satu pun kasus Corona B117 yang mengeluhkan gejala COVID-19 sesak napas. Seperti gejala COVID-19 pada umumnya, demam ringan paling banyak dikeluhkan.


"Gejala hanya demam ringan infonya demikian tidak ada sesak," ungkap dr Nadia kepada detikcom Selasa (9/3/2021).


Meski begitu, kondisi keempat kasus Corona B117 ini sudah kembali sehat dan negatif Corona. Ada satu kasus di antaranya yang sempat dirawat di RS tetapi tak mengeluhkan gejala COVID-19 berat.


dr Nadia kembali menegaskan tak ada bukti varian Corona B117 memicu angka kematian yang tinggi ataupun lebih ganas dibandingkan varian sebelumnya. Vaksin Corona yang kini digunakan juga masih terbukti efektif melawan Corona B117.

https://movieon28.com/movies/midnight-in-paris/


Kematian di Korsel Tak Terkait Vaksin AstraZeneca, BPOM Jamin Keamanannya


Masuknya vaksin Corona AstraZeneca mempertebal harapan untuk segera terwujudnya herd immunity di Indonesia. Namun kabar kematian 8 warga Korea Selatan usai suntik Vaksin AstraZeneca bisa saja memunculkan keraguan tentang aman tidaknya vaksin asal Inggris ini.

Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) telah melakukan investigasi terkait kasus tersebut. Hasilnya, tidak ditemukan adanya keterkaitan antara vaksin dengan kematian tersebut.


"Kami untuk sementara menyimpulkan bahwa sulit untuk menemukan kaitan antara adverse reaction yang mereka alami setelah vaksinasi dengan kematiannya," kata direktur KDCA, Jeong Eun-kyeong, dikutip dari Reuters.


Dalam temu media Selasa (9/3/2021), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito juga menegaskan bahwa kemungkinan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa saja terjadi. Beberapa mungkin memicu dampak serius.


"Tentunya masing-masing dari otoritas obat dari negara masing-masing akan melakukan investigasi, dan nantinya akan disampaikan secara transparan ke masyarakat dunia. Dan sampai saat ini tentunya kita menunggu hal tersebut," jelas Penny.


Meski begitu, Penny menegaskan program vaksinasi yang sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu akan tetap berjalan untuk mendorong terbentuknya imunitas kelompok atau herd immunity.


"Vaksinasi tetap dilaksanakan berdasarkan data uji klinis yang dikaitkan dengan aspek keamanannya. Laporan hasil uji klinik bahwa umumnya adalah (efek samping) ringan dan sedang, sehingga itu yang menjadi pegangan kita sambil terus berhati-hati karena ada upaya skrining-skrining juga di awal," lanjutnya.


Urusan Stunting Belum Selesai, Jangan Di-ghosting!


Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) oleh Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 30,8 persen. Artinya, 3 dari 10 anak di Indonesia mengalami gagal tumbuh atau stunting.

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan tumbuh kembang yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya terkait gizi.


Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG, mengatakan angka stunting diprediksi akan naik di tahun 2020 akibat pandemi COVID-19. Banyak anak yang kurang mendapatkan intervensi karena sulitnya akses ke layanan kesehatan.


"Banyak ahli khawatir pandemi Corona aman meningkatkan risiko stunting. Di masa pandemi, banyak anak sakit berulang yang tidak bisa ke RS sehingga angka kesakitannya lebih panjang," katanya saat ditemui di kantor BKKBN, Selasa (9/3/2021).


Stunting menjadi ancaman yang sangat besar di Indonesia. Anak yang lahir stunting akan mengalami gangguan tumbuh kembang yang akan menghambat kehidupannya kelak.


Anak yang stunting, selain memiliki perawakan pendek, mereka juga akan mengalami penurunan kecerdasan sampai gangguan metabolisme yang berlanjut hingga mereka dewasa. Merencanakan kehamilan menjadi salah satu cara untuk menekan risiko stunting pada anak.

https://movieon28.com/movies/paris-holiday-2/